Kopi Osing Bikin Ketagihan. Ini Rahasia Kenikmatannya

0
513

Banyak penikmat kopi yang mengaku langsung ketagihan begitu menyeruput kopi osing untuk pertama kalinya. Unik banget memang kopi ini. Dari beberapa cangkir yang disajikan punya aroma yang gak sama. Ada beraroma moka, cokelat dan dark chocolate. Malah, lebih unik ada yang punya aroma jahe, kapulaga dan cengkeh. Aroma yang bisa jadi gak bakal bisa ditemukan pada kopi lain.

Memang gak bisa dibohongi kopi ini punya aroma ‘segudang’. Sekaligus, menjadi sebuah keunikan yang gak dimiliki oleh jenis kopi manapun. Lalu soal rasa, kopi ini jelas gak kalah dengan kopi lainnya, sama-sama enak. Nah, makanya sangatlah layak kalau kopi Osing yang dijadikan minuman pilihan. Pasti setuju kan? Pasalnya, kopi ini jelas-jelas punya kualitas setara dengan banyak kopi lain yang sudah punya nama di negeri ini, bahkan mancanegara.

Mengapa kopi Osing menjadi minuman yang khas banget? Karena dibuatnya lewat proses yang sangat klasik. Jauh dari sentuhan modern. Nah, mau lihat dari dekat proses pengolahannya yang  tradisional abis, di Desa Wisata Osing-lah tempatnya. Desa yang menjadi pemukiman asli Suku Osing, penduduk asli Banyuwangi, Jawa Timur.

Baca Juga: 5 Kuliner Banyuwangi yang Lezatnya Luar Biasa

Sedikit mengulik background masyarakat Suku Osing, bahwa kehidupan suku yang satu ini bisa dibilang menyatu banget dengan lingkungan alam. Mereka yang biasa juga disebut Laros atau Lare Osing masih memegang teguh tradisi yang diwariskan oleh leluhur mereka. Keseharian mereka sangat kental dengan tradisi masa silam yang kemudian menjadi sebuah kearifan lokal yang tetap tumbuh subur sampai sekarang. Tak heran, kalau melihat lingkungan alam tempat mereka tinggal nampak banget asri dan alami.

Kearifan lokal lain yang juga jelas tergambar adalah ketika melihat masyarakat Suku Osing membudi daya kopi. Buat aktivitas yang satu ini nyaris tak ada sentuhan teknologi sama sekali. Kopi buat mereka tak ubahnya menjadi bagian hidup yang gak mungkin bisa dipisahkan.

Malah, buat kaum lelaki minum kopi itu menjadi sebuah keharusan yang tidak boleh diabaikan. Makanya, jangan heran, karena saking cintanya mereka terhadap kopi, sampai-sampai pohon ini ditanam di halaman rumah mereka. Jadi, yang pasti tanaman ini bukan cuma dibudidaya di atas lahan perkebunan saja.

Dan, proses penanamannya pun jelas masih tradisional banget. Gak ada yang istimewa serta nyaris gak beda dengan pola tanam tumbuhan lainnya. Jenis kopi yang ditanam biasanya robusta excels, liberica, atau kopi buria, yang mereka sebut kopi jemblung atau kopi nangka. Semua jenis kopi ini ditanam pada ketinggian antara 700 m – 800 m di atas permukaan laut. Cita rasanya? Jelas punya rasa kopi sejati, nikmat banget.

Harus diakui, kopi Osing bukan cuma punya rasa kopi tulen, tapi sebenarnya diembel-embeli juga dengan tingkat keasaman yang agak sedikit kuat. Tapi, berkat pengolahan yang kreatif dari masyarakat Osing, rasa itu pun hilang. Buat meredam keasaman itu, mereka mencampur kopi tersebut dengan bahan lain, di antaranya: kayu manis, lamtoro, jagung, kelapa, beras dan lain-lain. Unik kan? Dan, yang gak kalah uniknya, buat mendapatkan kopi khas Osing, mereka lakukan lewat proses sangrai. Teknik pengolahan yang klasik banget dan menggunakan peralatan yang gak kalah klasiknya, belanga. Sebuah alat masak terbuat dari tanah liat, diletakkan di atas tungku api dari kayu bakar.

Soal rasa, kopi Osing pantas disebut kopi sejati. Karena, gak kalah dengan banyak kopi lain. Lalu, aromanya seperti yang sudah diulas, banyak ragamnya. Tentu, bisa menjadi pilihan, sesuai kesukaan. Lalu, mengapa aroma yang melekat pada kopi Osing begitu beragam? Banyak sebabnya. Antara lain, kopi ini ditanam pada ketinggian yang berbeda, antara 700 m hingga 800 m. Lalu, perkebunannya pada posisi menghadap sinar matahari pagi, serta hembusan angin laut. Satu fenomena yang ternyata berpengaruh pada karakter aroma.

Belum lagi pengaruh tumpang sari. Di perkebunan kopi Osing biasanya ditanam pula pohon lain di sela pohon kopi. Pohon yang menjadi selingan itu tidak selalu sama antarperkebunan. Tak jarang ada yang menanam pohon jahe, kapulaga, cengkeh dan lain sebagainya. Nah, secara natural semua pepohonan yang menjadi selingan itu juga mempengaruhi kualitas kopi Osing. Yang paling santer adalah berimbas pada aroma. Tak heran, kalau kopi Osing ada yang beraroma jahe, kapulaga, cengkeh dan lain-lain.

Aroma juga amat dipengaruhi oleh pengalaman si pengolah kopi. Biasanya pengolah yang berpengalaman mampu menghasilkan kopi dengan aroma yang lebih baik ketimbang mereka yang masih sedikit “jam terbangnya”. Tak kalah uniknya adalah peran kayu bakar. Aroma sering kali bisa tak sama ketika disangrai di atas tungku dengan kayu bakar yang berbeda. Pola ini juga kerap bukan cuma membuat koleksi aroma kopi Osing saja yang bertambah, tapi rasa. Dan, banyak lagi trik masyarakat Suku Osing buat memperkaya rasa maupun aroma kopi Osing.

Penasaran ingin menikmati sensasi aroma serta rasa kopi Osing? Sambangi aja Desa Wisata Osing. Di desa ini, Anda akan dapatkan kopi Osing asli dengan rasa serta aroma yang khas sekaligus lembut. Sembari meneguk kopinya, Anda akan dibuai panorama alamnya yang asri dan alami.