KKP Ingatkan Budidaya Berkelanjutan Pengaruhi Pasar

0
346
regal springs Indonesia

JAKARTA (15/6) – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan terus mengembangkan sistem sertifikasi IndoGAP dan monitoring residu untuk menjamin mutu produk perikanan budidaya dan meningkatkan keberterimaan di pasar internasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat peluncuran produk ikan tilapia oleh Regal Springs Indonesia,  di Jakarta, Jumat (14/6). Menurut Slamet, potensi lahan budidaya air tawar Indonesia masih sangat besar dan belum termanfaatkan secara optimal. Ini bisa menjadi peluang usaha. Namun, harus dilakukan secara berkelanjutan, bertanggung jawab, dan tidak merusak lingkungan.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyampaikan kebijakan pemerintah dalam kerja sama penanaman modal asing yakni investor melakukan kemitraan dengan stakeholder Indonesia, tidak hanya berbasis corporate based, namun ada pemberdayaan masyarakat, sehingga ada share ekonomi ke masyarakat sekitar yang akan menjamin keberlanjutan usaha perikanan budidaya dan tidak memicu kecemburuaan sosial.

“Seperti kesuksesan Regal Springs yang berhasil membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Indonesia, kami juga berharap agar Regal Springs dapat memberikan pembinaan ke kelompok pembudidaya mitra sehingga pembudidaya mampu memenuhi syarat sertifikasi internasional,” ujarnya.

“Sekali lagi kami mengundang pemerintah serta perusahaan Swiss untuk kerja sama yang lebih luas, tidak hanya dari segi investasi namun juga bisa dalam bentuk teknologi inovasi serta peningkatkan kapasitas teknis,” ajaknya.

Sementara itu, terkait keberlanjutan usaha, Duta Besar Swiss untuk Indonesia, Kurt Kunz, meminta agar Regal Springs Indonesia selalu menjaga kualitas air serta lingkungan budidaya. Sebagai perusahaan asal Swis yang sudah berhasil membuka pasar internasional, ia berharap agar produksi serta ekspor dari RSI dapat ditingkatkan.

Kunz juga tak lupa untuk menyampaikan penghargaan atas kerja sama yang baik dengan KKP dalam kegiatan SMART Fish Indonesia, peningkatkan keberterimaan produk tuna, patin, dan rumput laut Indonesia di dunia.

Sementara itu, CEO PT Aquafarm Nusantara, Sammy Hamzah, menyampaikan kebanggaanya atas produk tilapia Indonesia. “Kita patut bangga bahwa produk tilapia Indonesia sangat disukai oleh konsumen luar negeri, 90% dari produk RSI diekspor dan diterima dengan baik oleh dunia internasional,” ungkapnya.

Berdasarkan data KKP, selama kurun waktu 2015 – 2018, produksi ikan nila nasional mengalami peningkatan sebesar 12,85%, dimana secara berurutan yakni 1,084 juta ton (2015); 1,114 juta ton (2016); 1,265 ton (2017); dan 1,185 juta ton (2018). Adapun provinsi yang secara tradisional menjadi sentra budidaya ikan nila yakni Jawa Barat, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, dan Sumatera Utara. (WR)