Kisah Bisnis ‘Ada Udang di Balik Corona’

0
1652
Tambak udang Dipasena di Tulang Bawang, Lampung.

Jakarta (Samudranesia) – Pandemi Covid-19 yang telah meluluhlantahkan perekonomian di banyak negara tetap memunculkan potensi dan harapan. Di tengah pandemi ini, budidaya udang di Indonesia semakin menggeliat dan menjanjikan.

Kondisi itu bak pepatah ‘ujian membawa berkah’. Namun bukan berarti para petambak udang menginginkan agar wabah ini terus berlangsung, melainkan menangkap peluang di tengah cobaan seperti saat ini.

Kira-kira itulah yang sering disampaikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo di beberapa kesempatan. Udang menjadi komoditas yang baik sebagai sumber protein di tengah pandemi seperti ini, sehingga peluang budidayanya harus dioptimalkan sebesar mungkin.

“Walaupun banyak negara mengalami lock-down, tapi mulut tetap tidak berhenti mengunyah, perut tetap diisi. Di situlah kita menangkap peluang lewat budidaya terutama udang, yang memiliki potensi besar sebagai komoditas ekspor ke banyak negara,” seloroh Menteri Edhy beberapa waktu lalu.

Tak tangung-tanggung, Presiden Joko Widodo pun menetapkan target ekspor udang mencapai 250 persen. Target yang harus dipenuhi oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu pun diimplementasikan dengan sungguh-sungguh serta melibatkan banyak stakeholder.

“Tentu saja kami KKP membuat program untuk udang sebagai fokus dalam peningkatan produksi dan ekspor,  karena nilainya sangat strategis. Kita punya lahan yang luas, SDM banyak, kenapa tidak, sehingga kita lanjutkan lagi (budidaya udang), tapi modelnya lain. Kalau dulu kita berikan sarana dan prasarana, sekarag kita membuat model-model percontohan untuk meningkatkan target ekspor 250 persen,” ungkap Dirjen Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto kepada Samudranesia di Jakarta, (27/6) lalu.

Tambak-tambak udang berkelanjutan banyak dibangun oleh KKP di berbagai daerah. Selain itu ada juga tambak udang milenial yang mulai digalakan untuk meningkatkan produksi udang. Tujuan lainnya, pembangunan tambak udang ini juga mampu menyerap banyak tenaga kerja.

Baca juga: Tambak Udang Milenial, Solusi Buat Anak Muda yang tidak Mau Berlumpur-Lumpur ke Kolam

Slamet berharap usaha budidaya tambak udang yang dilakukan oleh para pembudidaya seluruh Indonesia bisa naik kelas dengan menerapkan Best Management Practices (BEP) serta tidak ketinggalan menggunakan daya dukung teknologi.

Slamet menegaskan sesuai dengan arahan Presiden bahwa komoditas udang diharapkan bisa membantu perekonomian nasional dengan tetap mengacu pada prinsip produksi yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Oleh karena itu, KKP menyiapkan strategi peningkatan produksi udang nasional yakni melalui intensifikasi teknologi. KKP juga mendorong tambak konvensional untuk di up-grade sehingga memiliki produktivitas optimal.

“Dari yang semula kurang dari 1 ton per Ha per siklus dalam pengelolaan tambak konvensional, dinaikkan sedikit menjadi tambak semi intensif maka hasilnya diperkirakan bisa mencapai berkisar 5-6 ton per Ha per siklus,” kata Slamet.

Tambak udang di Muaragembong, Bekasi

Pemilihan udang juga didasari pertimbangan, salah satunya potensi lahan produktif yang luas yakni sekitar 2,96 juta Ha, saat ini baru termanfaatkan sekitar 0,6 juta Ha. “Kondisi demikian tentunya menjadi PR kita bersama, bagaimana potensi tesebut dapat lebih dioptimalkan, sehingga produksi udang bisa lebih digenjot secara signifikan. Petambak udang di tengah pandemi Covid-19 ini harus tetap bersemangat dan produktif melakukan proses produksinya,” tegasnya.

Selain itu, pemerintah juga mendorong kemudahan terhadap berbagai akses mulai dari informasi teknologi, input produksi yang efisien seperti induk/calon induk, benih bermutu, pakan dan sarana produksi lainnya, serta pasarnya. Terkait pembiayaan selain perbankan yang memegang dana Kredit Usaha Rakyat (KUR), di KKP sendiri ada Badan Layanan Umum Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (BLU LPMKP) dengan bunga hanya sebesar 3 persen.

Baca Juga: Tambak Udang Ramah Lingkungan harus Dioptimalisasi

Salah atu kelompok pembudidaya udang yang sukses ialah Mina Mekar Sejahtera di Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi. Mereka mulai menggeluti usaha budidaya tambak udang vaname sejak tahun 2018 dengan sistem konvensional. Tahun 2020 ini, pokdakan Mina Mekar Sejahtera melakukan revitalisasi model tambaknya dari konvensional menjadi tambak intensif.

Ikhsan, selaku ketua pokdakan Mina Mekar Sejahtera mengatakan alasan beralih menjadi petambak udang intensif karena awalnya selama 2 tahun produksi yang ia jalani mengalami kegagalan panen.

“Selama usaha budidaya tambak udang vaname dengan sistem konvensional, produktivitas yang kami peroleh 100-200 kg/ Ha,” ujar Ikhsan dalam keterangannya, Jumat (11/9).

Ia optimistis mulai beralih ke tambak udang insentif menggunakan lahan seluas kurang lebih 10 Ha dengan petakan kolam sebanyak 43 kolam, luas masing masing kolam 1.000 m2 dan diisi benih udang vaname dengan kepadatan 200 ekor/m2 . Luas lahan kolam budidayanya hanya kurang lebih 4,3 Ha, sedangkan sisanya untuk kolam treatment dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Jumlah anggota sebanyak 75 orang yang mayoritas merupakan penduduk asli Muaragembong.

“Dengan selalu menerapkan standar operasional prosedur (SOP) dalam pengelolaan proses produksi usaha budidaya tambak udang, kami optimistis bisa berhasil meningkatkan produktivitas kami dan mendapatkan keuntungan berlipat-lipat. Harapan kami, produksi kami bisa mencapai berkisar 70 ton/ tahun, sehingga diperkirakan kami akan memperoleh omzet sekitar Rp 5,6 milyar per tahun”, harap Ikhsan.

Ikhsan menambahkan memilih usaha budidaya tambak udang, karena udang merupakan komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan peluang pasar ekspor yang tinggi.

“Meski pandemi Covid-19 masih terus berlangsung, namun usaha budidaya tambak udang tetap menjadi andalan usaha budidaya di Indonesia. Selain itu menjadi petambak udang vaname adalah usaha yang menjanjikan dan ikut berkontribusi pada upaya penyerapan tenaga kerja apalagi saat ini banyak orang ter PHK akibat terdampak Covid-19,” bebernya.

Dukungan K/L lain

Gayung bersambut kata terjawab, instruksi Presiden kepada Menteri Kelautan dan Perikanan itu juga didukung kolaborasi dari banyak Kementerian/Lembaga (K/L). Pasalnya, bisnis yang dihasilkan dari budidaya udang terbukti telah menggerakan ekonomi kerakyatan.

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Safri Burhanuddin saat melakukan tinjauan produksi udang di kawasan pertambakan udang Dipasena, Tulangbawang, Lampung, Senin (7/9) lalu, optimis produksi udang nasional bisa meningkat signifikan.

“Jadi kami melakukan kunjungan ke pertambakan udang di Lampung, tepatnya di Dipasenan, Tulang Bawang. Kunjungan ini atas perintah Menko Marves (Luhut B. Pandjaitan) dalam rangka bagaimana mewujudkan keinginan Presiden Jokowi untuk meningkatkan produksi perikanan Indonesia serta demi kesejahteraan rakyat Indonesia,” kata Safri.

Dalam tinjauannya, ia menjelaskan, setidaknya ada beberapa kendala yang harus segera dituntaskan di pertambakan udang Dipasena. Antara lain mengenai sedimentasi yang berakibat sulitnya akses air dan pengelolaan kawasan yang lebih baik.

Baca Juga: KKP Persiapkan Kawasan Tambak Udang Berkelanjutan di Lampung Selatan

Untuk itu dirinya akan berkoordinasi dengan pihak Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Mesuji dan Sekampung untuk mengadakan kajian teknologi dan sistem yang tepat agar kendala seperti sedimentasi ini tidak terus berulang.

“Kita akan terus melakukan upaya-upaya dan langkah kongkrit bagaimana membangkitkan kembali pertambakan udang Dipasena dan produksi udang secara nasional,” pungkasnya.

Untuk saat ini diketahui luasan lahan pertambakan Dipasena 6.800 Ha yang terdiri dari 17.139 Petakan Tambak. Sedangkan Luasan Infrastruktur pendukung seluas 9.450 Ha mencakup Kanal irigasi primer, sekunder dan tersier, Dramaga, serta fasilitas umum lainnya. Untuk Luasan mangrove (Green belt) seluas 3000 Ha. Sampai dengan saat ini Jumlah Petambak mencapai 6.500 orang.

Sementara kapasitas produksi eksisting kurang lebih sekitar 5000 Ton, Namun jika dilakukan revitalisasi potensinya mencapai sekitar 45.163 Ton.

Berjuang di Tengah Pandemi

Sedangkan di tempat terpisah, Komite II DPD RI juga meninjau lokasi tambak udang vaname di Kampung Laut, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Sabtu (12/9). Kunjungan ini merupakan program kemitraan advokasi sesuai undangan dari Kelompok Pendamping Budidaya Udang Vaname.

Pada acara tersebut, Wakil Ketua Komite II DPD RI Hasan Basri memimpin pertemuan yang didampingi Anggota Komite II DPD RI Angelius Wake Kako.

Berdasarkan kunjungan tersebut, Komite II DPD RI menemukan kondisi di lapangan, banyak tambak yang tebengkalai,  khususnya tambak udang vaname. Hal ini merupakan dampak pandemi Covid-19, yang berimbas kepada produktifitas petambak.

Baca Juga: KKP Larang Penggunaan Induk Udang Asal Tambak

Saat sesi dialog dengan petambak, didapatkan informasi bahwa harga udang vaname sudah mulai perlahan naik. Harga saat ini tidak lagi di bawah 50 ribu/kg. Sementara untuk tambak yang 2500 meter membutuhkan biaya 65 juta sampai panen dengan hasil sekitar 1,5 ton hingga 1,8 ton setahun.

Hasan Basri mengungkapkan bahwa saat ini perlu ada sentuhan kepada nelayan seperti bantuan bibit dan pakan. Selain itu juga perlu dilengkapi fasilitas lainnya seperti kincir untuk peningkatan produksi petani tambak di Kabupaten Cilacap.

“Petambak udang vaname perlu diberi sentuhan oleh pemerintah. Misalkan dalam bentuk bantuan bibit, pakan dan perlengkapan lain seperti kincir,” ujar Senator dari Kalimantan Utara itu.

Komite II DPD RI akan menindaklanjuti hasil pertemuan dengan Kelompok Pendamping Budidaya Udang Vaname ke kementerian yang menjadi mitra kerja. Salah satunya dengan DJPB KKP. (Tyo)