Kisah Aru Palakka: Liana La Toondu di Wolio

0
2945
Wiko Rahardjo

Kisah tentang benteng terluas di dunia dan seorang bangsawan bergelar ‘yang tenggelam’ di Buton.

Syahdan, dalam sebuah pertempuran kecil melawan pasukan Kerajaan Gowa, pasukan gabungan Kerajaan Bone dan Kerajaan Soppeng yang dikomandoi Arung Palakka dan Tobala mengalami kekalahan telak.

Arung yang sebelumnya merupakan seorang pelarian dari penjara Kerajaan Gowa itu menjadi orang yang paling dicari. Keturunan langsung raja-raja Bone ini memilih melarikan diri daripada menyerahkan kehormatannya pada Kerajaan Gowa yang dianggapnya telah merendahkan martabat orang-orang Bone. Ia menyeberangi laut hingga mendarat di Kerajaan Buton yang berada di sebuah pulau kecil di tenggara Sulawesi.

Pasukan Gowa pimpinan Sultan Hasanuddin yang mengendus pelarian Arung lalu memburunya hingga ke Buton. Dengan bantuan Raja Buton, Arung berhasil bersembunyi di sebuah gua kecil di tepi Benteng Wolio ketika pasukan Gowa tiba di Buton.

Dalam beberapa literatur sejarah diceritakan bahwa ketika pasukan Gowa tiba di Buton dan bertemu dengan La Awu Sultan Malik Surullah, Sultan Buton kala itu, terjadi dialog sengit tentang Arung Palakka. Sultan sempat bersumpah jika Arung diketahui berada dan bersembuyi di atas tanah Buton, maka seluruh rakyat Buton akan terkena pogoso atau bibir pecah.

Peristiwa yang terjadi pada sekitar tahun 1660 ini menjadi pemanis dari keberadaan Benteng Wolio di Kabupaten Baubau, Sulawesi Tenggara.

Ceruk di samping benteng yang diyakini sebagai tempat persembunyian Aru Palakka. (wiko Rahardjo)

Gua tersebut hingga kini masih terbuka. Lebarnya kurang dari 3 m, sementara tingginya kurang dari 2 m saja. Berada di bawah tembok Benteng Wolio sebelah timur letaknya cukup strategis untuk bersembunyi dan kuat karena merupakan gua batu.

Konon, rakyat Buton tak termakan sumpah pogoso sultan mereka, karena Arung bersembunyi di bebatuan, bukan di atas tanah Buton seperti yang disumpahkan oleh Sultan kepada pasukan Gowa.

Karena terlalu mepet ke tepi benteng dan dihimpit oleh jurang yang terjal, dilihat dari atas benteng, keberadaan gua tersebut benar-benar tak terdeteksi. Wisatawan yang ingin menyambagi gua tersebut pun harus susah payah. Yaitu dengan keluar dari Lawa Kampebuni dan menyusuri tepian benteng. Keberadaannya yang berhadapan langsung dengan jurang membuat jalur menuju ke gua tersebut cukup berbahaya.

Warga Buton yang mewarisi cerita tentang Arung Palakka dan menyebut gua tersebut sebagai Liana La Toondu. Di Buton, Arung Palakka sendiri lebih dikenal dengan nama La Toondu yang berarti tenggelam atau menghilang.