Kematian Pelaut dan Tanggung Jawab Perusahaan Penyalur

0
1326
Pemberian santunan kematian kepada keluarga almarhum Sugeng Rantono Prihady.

Jakarta (Samudranesia) – Kematian pelaut Indonesia yang bekerja di kapal ikan asing begitu marak beberapa waktu lalu. Sementara banyak dari pihak keluarga yang tak menerima santunan kematian beserta pembayaran sisa gajinya dari perusahaan. Rasa keadilan seakan jauh bagi para pelaut Indonesia.

Namun tidak demikian dengan yang dialami oleh keluarga Sugeng Rantono Prihady, pelaut yang meninggal saat menjalankan tugasnya di atas kapal MT. Thalea Schulte karena sakit.

Pihak PT. BSM Crew Service Centre Indonesia selaku penyalur menyerahkan kompensasi kematian pelaut senilai 215.000 dolar AS atau sekitar Rp3,1 miliar kepada pihak keluarga, ahli waris dari almarhum Sugeng Rantono Prihady.

Santunan diterima oleh istri almarhum, Nuryati Ina didampingi oleh anak-anaknya dan disaksikan oleh Dedi Ardian Susanto dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Ditjen Hubla Kemenhub) dan Leonora F Leihitu sebagai perwakilan asuransi.

“Sebelumnya pihak perusahaan juga telah menyerahkan pembayaran sisa gaji sebesar Rp 33,674,400,- dan biaya pemakaman sebesar Rp 12,000,000,” kata Direktur PT. BSM Crew Service Centre Indonesia, Capt Ahmad Zubaidi kepada Samudranesia, Selasa (15/9). 

Penandatanganan pemberian santunan kematian yang disaksikan oleh pihak Ditjen Hubla Kemenhub dan Asuransi

Sambung Zubaidi, almarhum Sugeng Rantono Prihady adalah pelaut Indonesia yang direkrut dan ditempatkan oleh perusahaan PT. BSM Crew Service Centre Indonesia sejak tahun 2009 silam. Almarhum telah bekerja di kapal-kapal yang dimanajemen oleh perusahaan dengan jabatan sebagai Electrician atau Electronic Technical Officer (ETO).  

“Pada tanggal 19 Juli 2020 lalu, almarhum ditugaskan di atas kapal MT. Thalea Schulte berbendera Singapura. Kapal inilah yang ternyata menjadi kapal terakhir almarhum sebagai pelaut,” ucapnya.

Ia menjelaskan kronologis meninggalnya almarhum. Pada tanggal 11 Agustus 2020 jam 11.00 siang, almarhum melapor kepada perwira jaga di anjungan untuk izin istirahat di kamarnya karena mengalami sakit dada dan sedikit lemas. Kemudian pada pagi harinya almarhum bekerja seperti biasanya. 

“Pada jam 12.30 saat makan siang, salah satu kru diminta oleh perwira jaga untuk mendatangi kamarnya, untuk mengecek kondisi almarhum, untuk diajak makan siang bersama. Akan tetapi, almarhum ditemukan tergeletak di atas sajadah,” terangnya. 

“Kemungkinan almarhum meninggal dunia pada saat menjalankan sholat. Sementara pada saat itu kapal berada di tengah laut dalam pelayaran dari Pelabuhan Ruwais, Abu Dhabi menuju ke Rumania,” tambahnya.

Menurut Zubaidi, perusahaan awalnya berusaha untuk menurunkan jenazah almarhum di pelabuhan terdekat yaitu Djibouti, Afrika. Namun karena tidak cukup waktu dan tidak adanya kantor perwakilan RI di Djibouti maka rencana ini dibatalkan.

Selanjutnya perusahaan berusaha menurunkan jenazah di Terusan Suez, Mesir,  akan tetapi pihak otoritas Pelabuhan Mesir menolak dan tidak mengizinkan untuk menurunkan jenazah.

“Tim dari PWNI Kementerian Luar Negeri dan KBRI Mesir juga sudah mencoba membantu untuk mendapatkan perizinan yang dibutuhkan dalam menurunkan jenazah almarhum, kenyataannya pihak otoritas pelabuhan Mesir tetap menolak,” ujar Zubaidi.

Kemudian, lanjut dia, perusahaan berusaha untuk menurunkan jenazah almarhum di Istambul, Turki. Langkah ini berhasil berkat bantuan dari KJRI Istambul. Akhirnya diperoleh perizinan dari otoritas setempat untuk menurunkan jenazah di Pelabuhan Istambul dan kemudian diterbangkan ke Jakarta.

“Kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Pemerintah, khususnya PWNI Kementerian Luar Negeri dan KJRI Istambul yang telah bekerja keras membantu perusahaan untuk mendapatkan perizinan dan telah mengawal penurunan jenazah almarhum,” ungkapnya.   

“Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa di tengah kondisi pandemi saat ini banyak kendala yang kita hadapi, kesulitan perizinan dan minimnya transportasi penerbangan. Alhamdulillah semua proses penurunan jenazah almarhum di pelabuhan dan pemulangannya berjalan dengan baik dan lancar. Sekali lagi kami sampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah membantu,” pungkasnya.

Apa yang sudah dilakukan oleh PT BSM Crew Service Centre Indonesia bersama perwakilan pemerintah Indonesia ini tentu menjawab kekhawatiran publik mengenai nasib pelaut Indonesia yang bekerja di kapal asing. Tentunya, jaminan berupa santunan kematian jika ada pelaut yang mengalami musibah/kematian menjadi tanggung jawab perusahaan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. (Tyo)