Kelola Potensi Kelautan, Indonesia Perlu SDM Maritim yang Unggul

0
152
Deputi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Dr Safri Burhanuddin.

 

Jakarta (Samudranesia) – Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kemaritiman menjadi hal penting dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia. Oleh karena itu pembangunan SDM maritim yang unggul menjadi tanggung jawab seluruh stakeholder kemaritiman.

Sejak Indonesia merdeka pada tahun 1945, pembangunan SDM maritim telah dirancang oleh para founding fathers. Sejak tahun 1950-an, pemerintah Indonesia banyak mendirikan sekolah-sekolah berbasis maritim

“Sejak Presiden pertama RI, sudah menjadikan maritim sebagai salah satu potensi pembangunan nasional, dan dipertegas lagi pada Presiden ke 7 RI, Bapak Joko Widodo melalui visi misinya, Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia,” ujar Deputi Bidang Sumber Daya Maritim Kemenko Maritim dan Investasi (Marves) Dr Safri Burhanuddin dalam webinar bertajuk “Optimalisasi Profesionalisme Tenaga Pendidi Kemaritiman Untuk Menanamkan Karakter Kebaharian di Era Pandemi Covid-19 Dalam Rangka Menuju Indonesia Maju”, Selasa (12/1).

Webinar yang diselenggarakan oleh Yayasan Hang Tuah itu dibuka oleh Ketua Pembina Ny Vero Yudo Margono. Selain Safri, diskusi tersebut juga menghadirkan berbagai narasumber antara lain Laksda TNI (Purn) Dr Surya Wiranto dari Persatuan Purnawirawan TNI AL (PPAL); Kaprodi S2 Pendidikan Geografi Pasca Sarjana Unesa, Dr Nugroho Hadi Purnomo; dan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemndikbud, Maman Fathurohman.

Dalam paparannya, Safri mengemukakan bahwa pembangunan budaya maritim dan SDM menjadi pilar pertama Poros Maritim Dunia. Pilar tersebut kemudian masuk dalam program setiap kementerian terutama Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

“Arahan presiden kepada Menteri KP yang pertama adalah memperbaiki hubungan dengan nelayan dan memperkuat perikanan budidaya. Kedua arahan itu kemudian diterjemahkan melalui kebijakan untuk meningkatkan SDM unggul,” jelasnya.

Sebagai negara kepulauan terbesar dengan potensi kelautan yang melimpah sudah seharusnya Indonesia memiliki budaya bahari yang kuat.

Oleh karena itu Safri mengusahakan agar pendidikan berbasis kemaritiman harus mulai dikembangkan sejak usia dini. “Namun masih terbatas pada bidang perikanan, sementara penguatan di bidang kelautan masih terbatas,” ungkapnya.

Menurut dia, kondisi saat ini banyak potensi maritim Indonesia yang belum tergarap secara optimum.

‘Sehingga dibutuhkan pengelolaan yang dilakukan secara terintegrasi dengan memanfaatkan industri 4.0,” imbuh Safri.

Dalam sektor perikanan terdapat komoditas Tuna (Perikanan Tangkap) dan udang (perikanan budidaya) yang saat ini perlu mendapat prioritas pemerintah pusat dan daerah. Terutama  dalam mempercepat penghasilan devisa di era pandemi Covid-19 saat ini.

Selain itu, Safri juga menyebut pengembangan marikultur dengan smart aquaculture merupakan potensi baru yang bisa diinisiasi untuk komoditas pembesaran ikan karang. Hal tersebut sangat bermanfaat dalam menggenjot perekonomian dan meningkatkan ketahanan pangan di kondisi pandemi.

“Itu di samping pembudidayan ikan air tawar yang bisa dikembangkan memenuhi ketahanan pangan penduduk yang hidup di wilayah pegunungan,” bebernya.

Dia berharap agar Yayasan Hang Tuah terus berdedikasi dalam mencetak SDM maritim yang unggul dan berdaya saing.

“Pemanfaatan potensi Sumber Daya Kelautan masih jauh dari potensi yang tersedia, dibutuhkan penyediaan SDM yang terampil dan dukungan regulasi investasi yang lebih menarik. Yayasan Hang Tuah dapat berperan aktif dalam meningkatkan SDM di bidang kelautan,” tandasnya. (*)