Ini Kisah Sukses Tol Laut yang Tertulis Dalam Buku Capt. Wisnu Handoko

0
285
Buku karya Capt. Wisnu Handoko berjudul "Tol Laut: Konektivitas Visi Poros Maritim Indonesia".

Jakarta (Samudranesia) – Kepala Otoritas Pelabuhan (OP) Tanjung Priok Dr. Capt. Wisnu Handoko yang pernah menjabat sebagai Direktur Lalu Lintas Laut (Dirlala) Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan pernah memiliki kenangan indah dalam menyukseskan program Tol laut.

Program andalan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam visi Poros Maritim Dunia itu menjadi sorotan publik sejak diluncurkan pada tahun 2015. Pertanyaan demi pertanyaan mengalir deras dari berbagai kalangan mengenai keberhasilan program ini.

Sedikit banyaknya pertanyaan tersebut terjawab dalam buku berjudul “Tol Laut: Konektivitas Visi Poros Maritim Indonesia” karya Capt. Wisnu Handoko. Buku setebal 160 halaman terbitan Kompas Gramedia kerja sama dengan Ditjen Hubla Kemenhub itu mengupas pencapaian Tol Laut dari tahun ke tahun yang mampu mewujudkan konektivitas dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dengan bahasa yang renyah dan populer, buku ini menampilkan ulasan yang menarik mulai dari filosofi kemaritiman dalam negara kepulauan Indonesia hingga teknis pelaksanaan Tol Laut. Sebagai jebolan Balai Pendidikan dan Latihan Pelayaran (BPLP) Semarang tahun 1995, penulis yang kenyang dengan asam garam pelayaran ini memahami betul permasalahan konektivitas di suatu negara.

Peraih Penghargaan Kartika Niti Yoga atau lulusan terbaik BPLP di tahun 1995 ini mengulas dalam bab pertama bukunya soal filosofi program berdasarkan Nawacita Presiden Jokowi, Sistranas dan Konektivitas, Sislognas dan Pemerataan Hasil Pembangunan, Dasar Hukum Penyelenggaraan Program Tol Laut, hingga Pengertian Program Tol Laut. keseluruhan dijabarkan secara terperinci dan renyah oleh penulis.

Dasar hukum program Tol Laut yang sejatinya terlihat formal namun sangat dibutuhkan oleh para pembacanya untuk memperoleh sudut pandang yang baik terkait berbagai hal teknis program Tol Laut ini. Misalnya seperti pelibatan sub sektor dalam program atau alasan mengapa ada sektor yang turut dimasukkan sebagai poin penting dalam program ini.

Penulis yang merupakan peraih gelar doktor dalam bidang Manajemen Pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini juga sudah cukup banyak memberikan berbagai hal yang cukup membantu masyarakat luas untuk memahami konsep Tol Laut ini sendiri. Meskipun pembahasan yang dibuat masih terkesan terlalu teknis, namun penjabarannya terlihat sudah cukup mudah dipahami oleh orang-orang awam maritim.

Berbagai infografis dan tabel tentang teknis pelaksanaan program ini juga disajikan oleh penulis. Hal itu menjadi kekuatan informasi bagi bukunya khususnya untuk para pelaku usaha dan pengguna Tol Laut secara keseluruhan.

Beragam studi kasus dalam teknis pelaksanaan selama program ini berlangsung, juga diuraikan oleh penulis. Hal ini terlihat bahwa lebih kurang dua tahun mengelola program ini, penulis banyak memiliki dinamika baik dalam alam kebatinannya maupun dengan mitra kerja pada jajaran dan stakeholder terkaitnya.

Penulis saat meninjau pelaksanaan program Tol Laut

Buku ini memperlihatkan hasil kontemplasi dari penulis yang alam pikirannya terus bergejolak untuk merumuskan kesuksesan program ini. Hal itu menjadi suatu dialektika tersendiri bahwa program ini di lain sisi merupakan terobosan yang fenomenal, namun sisi lainnya menjelaskan secara implisit bahwa belum adanya satu irama dalam implementasinya.  

Tentunya buku ini sangat bermanfaat bagi seluruh stakeholder kemaritiman khususnya para pemangku kebijakan yang terlibat dalam program ini. Buku yang sarat dengan nilai-nilai edukatif di bidang pelayaran ini sangat cocok menjadi rujukan mahasiswa yang berkecimpung di bidang kemaritiman.

Berbagai Perguruan Tinggi yang concern terhadap isu-isu kemaritiman sangat cocok untuk melakukan pembedahan buku ini dari berbagai sudut pandang. Memang pribahasa “Tak Ada Gading Yang Tak Retak” berlaku untuk setiap karya tulis apapun, tentunya termasuk buku ini.

Hal itu agar ke depan terus ada penyempurnaan baik secara konsep teoritis maupun dalam praktiknya. Dengan begitu, setiap anak bangsa ini akan menjadi insan-insan yang bijaksana dalam membangun negeri ini. Gagasan yang baik akan terus dibutuhkan selama lautan belum mengering untuk pencapaian besar program Tol Laut dalam bingkai Poros Maritim Dunia. (*)