Ini Capaian Kerja Duet Poros Maritim – Belt and Road Initiatives

0
558
Proyek Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatra Utara, salah satu proyek hasil kerja sama GMF-BRI.

Jakarta (Samudranesia) – Visi Poros Maritim Dunia yang digagas oleh Presiden Joko Widodo pada 2014 telah menghasilkan beberapa program unggulan di bidang transportasi dan infrastruktur. Program itupun ditempelkan dengan program Jalur Sutra Maritim Tiongkok dalam skema Belt and Road Initiatives (BRI) yang menghubungkan akses perdagangan Tiongkok.

Terkait itu, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) mengadakan Rapat Koordinasi Progres 47 Proyek Global Maritime Fulcrum-Belt and Road Initiatives (GMF-BRI). Acara yang dipimpin oleh Deputi Bidang Koordinasi Transportasi dan Infrastruktur Ayodhia G. L. Kalake ini diselenggarakan secara virtual di Tangerang, Jumat (5/2/2021).

Ayodhia menyampaikan bahwa tujuan Rakor ini adalah untuk membahas perkembangan kerja sama proyek GMF-BRI, dilihat dari sudut pandang komprehensif kerja sama strategis antara Indonesia dan RRT.

Melanjutkan Deputi Ayodhia, Asisten Deputi (Asdep) Industri Pendukung Infrastruktur Yudi Prabangkara menyatakan Kemenko Marves ingin mengoordinasikan kembali capaian dalam kerja sama GMF-BRI yang sudah dilakukan, baik melalui penandatanganan kerja sama tahun 2018 maupun 2019.

“Tercatat lebih dari 35 MoU dan akan ada satu MoU yang mengandung tiga program yang akan kita realisasikan,” ucap Yudi.

Dalam proyek ini, terdapat 30 proyek yang diusulkan untuk koridor pembangunan ekonomi komprehensif regional di empat wilayah. Pertama, di Sumatera Utara akan didirikan Pusat Ekonomi dan Bisnis Indonesia Bagian Barat untuk ASEAN dan proyek non-koridor.

Kedua, di Kalimantan Utara akan dibangun Pusat Energi dan Mineral. Ketiga, di Bali akan dibangun Pusat Teknologi dan Inovasi Tinggi Regional. Keempat, di Sulawesi Utara akan dibangun Pusat Ekonomi Lingkar Pasifik. Selain itu, terdapat 13+4 proyek tambahan lainnya yang diajukan oleh National Development & Reform Commission (NDRC) RRT.

Beberapa kerja sama terpantau telah menjukkan kemajuan yang signifikan, antara lain Pelabuhan Kuala Tanjung di Sumatera Utara, Kawasan Industri Ketapang di Kalimantan Barat, Pembangkit Tenaga Listrik Tenaga Air di sungai-sungai Kalimantan Utara, Taman Teknologi Kura-kura Bali, Kawasan Industri di Morowali, serta Penetasan dan Peternakan Udang di Maluku. Terdapat pula 35 memorandum of understanding (MoU) yang telah ditandatangani oleh pelaku usaha Indonesia dan RRT.

Tiga proyek yang akan dijalankan adalah program yang dinaungi oleh MoU Two Countries Twin Parks. Terdapat tiga pembangunan yang dicanangkan, yakni Kawasan Industri Terpadu Batang yang akan beroperasi di bidang bahan kimia, tekstil, otomotif, serta industri makanan dan minuman. Kawasan ini akan dibangun seluas 4300 hektare dan 1,450 hektar di antaranya sedang dikembangkan.

Kemudian, Aviarna di Semarang, Jawa Tengah yang akan dibangun seluas 460 hektare. Area kerja sama yang akan dilakukan bergerak di zona industri. Di tahun 2021, rencananya akan dilakukan pengerjaan infrastruktur utama dan penyiapan lot industri dan lot logistik dan pergudangan. Area kerja sama yang akan dilakukan bergerak di zona industri, dry port, logistik dan pergudangan, MRO (maintenance, Repair, Overhaul) industri penerbangan, dan kawasan komersial.

Lalu, Kawasan Industri Bintan, Kepulauan Riau yang akan dibangun di lahan seluas 4,000 hektare dan 325 hektare di antaranya telah dikembangkan. Nantinya, Kawasan Industri Bintan akan bergerak di bidang industri maritim, budidaya, agrikultur, dan galangan kapal.

Dalam rapat ini dibahas pula tentang kendala dan tantangan masing-masing industri. “Di tahun 2021 ini, kami berusaha mengejar keterlambatan konstruksi, meningat sejak pandemi Covid-19 muncul di Indonesia, pembangunan kami terhambat,” beber perwakilan Ketapang Industrial Estate. Lalu,

Direktur Transformasi dan Pengembangan Bisnis PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Prasetyo mengungkapkan pihaknya tetap menjalin komunikasi yang baik dengan mitra terkait dalam merealisasikan proyek tersebut.

Menutup rapat, Deputi Ayodhia mengimbau tentang tujuan pertemuan hari ini, yakni ntuk mendapatkan update pelaksanaan proyek GMF-BRI.

“Ini merupakan suatu upaya dari aspek bilateral Indonesia dan RRT untuk memperkuat hubungan perekonomian dan memperlancar perdagangan antarkedua negara,” pungkas Deputi Ayodhia. (*)