Infrastruktur Konektivitas Berperan Penting dalam Menggenjot Ekonomi di Tengah Pandemi

0
470
Jalan Tol menuju Pelabuhan Patimban.

 

Jakarta (Samudranesia) – Pembangunan infrastruktur konektivitas seperti pelabuhan, bandara, tol, dan moda transportasi umum menjadi kunci penting transformasi ekonomi nasional. Hal itu disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan dalam penjelasannya pada acara Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9), Selasa (29/12).

Dalam dialog yang diadakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika RI secara daring  itu Luhut menegaskan bahwa pemerintah pemerintah akan terus melakukan pembangunan infrastruktur konektivitas yang menghubungkan wilayah Indonesia barat hingga timur. 

Diapun menambahkan, pandemi Covid-19 menyadarkan akan pentingnya infrastruktur yang berbasis konektivitas antar wilayah.

“Pengiriman barang seperti obat dan makanan ke berbagai wilayah di Indonesia pada akhirnya membutuhkan infrastruktur yang memadai seperti pelabuhan, bandara, dan jalan tol,” ujar Luhut.

Luhut mencontohkan dilakukannya pembangunan infrastruktur konektivitas yang terus dijalankan saat pandemi yakni Pelabuhan Patimban.

“Pelabuhan yang telah diresmikan oleh Presiden pada tanggal 20 Desember lalu adalah satu proyek strategis nasional yang jadi stimulator pengembangan wilayah Subang dan sekitarnya, karena akhirnya proses masuknya barang atau kontainer dari luar negeri tidak semua harus Pelabuhan Tanjung Priok,” ungkapnya.

Kemudian, dia juga menambahkan tentang digitalisasi dalam bidang kepelabuhanan. Sistem digitalisasi ini menurutnya dilakukan oleh pemerintah agar tercipta efektivitas dan efisiensi dalam pengaturan sistem pelabuhan yang berujung pada efisiensi biaya logistik.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi menjelaskan secara detil mengenai  pembangunan  infrastruktur berbasis konektivitas yang dikerjakan pemerintah di berbagai wilayah Indonesia.

“Kita memiliki tugas untuk mengaitkan Indonesia dari wilayah barat sampai dengan wilayah timur. Berbagai infrastruktur seperti pelabuhan, bandara, jalan tol, kereta api, dan kawasan bisnis di sekitarnya kita coba untuk bangun. Selain itu angkutan antar kota dan angkutan perintis juga coba kita kembangkan untuk menghubungkan daerah pelosok dengan kota-kota besar di Indonesia,” katanya.

Infrastruktur yang berbasis pembangunan konektivitas antar wilayah harus dikembangkan secara terintegrasi.  Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Transportasi Kemenko Marves Ayodhia G. L. Kalake yang juga hadir sebagai narasumber dalam FMB 9 berpesan agar proses pembangunan infrastruktur harus tetap berjalan secara berkelanjutan.

“Proses pembangunan infrastruktur dan juga konektivitas adalah proses yang cukup panjang, tidak dapat dilakukan sekejap mata,” ujarnya.

Hasil pembangunan dan multiplier effect yang dihasilkan memerlukan waktu dan juga peran serta seluruh lapisan masyarakat, termasuk sektor swasta. 

“Masyarakat luaslah yang akan menikmati hail pembangunan dan perbaikan sistem konektivitas. Kita semua perlu mengawal proses ini,” ungkap Ayodhia.

Menutup acara tersebut, Direktur Utama Pelindo II Arif Suhartono menyatakan kesiapannya dalam bekerja sama membangun berbagai macam infrastruktur berbasis konektivitas antar wilayah, yaitu pelabuhan di berbagai wilayah di Indonesia.

“Pelabuhan menjadi kunci rantai pengiriman berbagai macam bentuk logistik kita di Indonesia sebagai sebuah negara maritim. Untuk itu, proses pembangunan tol laut akan terus kita kawal,”tukasnya.

Selain itu, dia juga mengungkapkan akan terus mendukung proses integrasi antara  Pelabuhan Tanjung Priok dan Pelabuhan Patimban. 

“Pada akhirnya kedua pelabuhan ini mampu menjadi pelabuhan yang saling melengkapi dalam konteks proses distribusi barang dari luar negeri maupun dalam negeri antar wilayah di Indonesia,” tutupnya. (*)