Industri dan UMKM Kelautan-Perikanan terus Didorong untuk Bangkit

0
193
Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Safri Burhanuddin di Cirebon.

Cirebon (Samudranesia) – Industri dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di sektor kelautan dan perikanan di tengah pandemi Covid-19 ini terus didorong agar tetap eksis dan menjadi sentra pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Terkait itu, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim melaksanakan kunjungan ke beberapa daerah di Cirebon dan Indramayu pada Jumat (29/1/2021). Kunjungan ini dilakukan untuk meninjau beberapa produk olahan dari sektor kelautan dan perikanan, khususnya garam dan ikan. Tujuan akhirnya adalah untuk meningkatkan nilai tambah produk sehingga akan berimbas pada peningkatan perekonomian masyarakat.

Lokasi yang dikunjungi pertama ialah Rama Shinta Rumah Garam. UMKM yang berlokasi di Cirebon ini berfokus untuk memproduksi dan mengembangkan produk olahan berbahan dasar garam yang dikembangkan menjadi produk kesehatan dan kecantikan.

“Produk olahan dari hasil kelautan dan perikanan sedang kita dorong, salah satunya adalah produk garam. Salah satu hasil olahan garam ini bisa dijadikan olahan produk kesehatan dan kecantikan seperti lulur, sabun mandi, pembersih wajah, bahkan yang berfungsi sebagai peningkat stamina,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Safri Burhanuddin di Cirebon.

Satu hal yang penting untuk yang terus digaungkan, yaitu adanya nilai tambah dari sebuah produk agar mendatangkan nilai jual yang baik.

“Produk UMKM seperti ini dapat bersaing dan meningkat nilai jualnya, jika produk tersebut mampu dikemas dengan rapih dan menarik. Ini yang nantinya membuat sebuah produk berbeda dari produk yang lainnya,” lanjut Safri.

Optimalisasi HPI

Selain itu, dia juga mengunjungi pabrik pengolahan dan pemanfaatan sektor kelautan dan perikanan lainnya, yaitu pabrik pengolahan Hidrolisat Protein Ikan (HPI)  yang dikelola oleh PT Berikan Teknologi Indonesia, yang berlokasi di Eretan, Indramayu. Pabrik ini mengolah ikan dalam bentuk industri Hidrolisat Protein Ikan (HPI) yang menghasilkan produk olahan berprotein tinggi.

“HPI juga merupakan salah satu industri yang kita dorong agar produksi dan pemanfaatannya meningkat. Kita ini punya potensi ikan yang melimpah, jadi pemanfaatan HPI ini perlu kita lakukan,” jelasnya.

HPI menjadi salah satu jalan keluar bagi Indonesia dalam menuntaskan permasalahan malnutrisi di Indonesia, seperti stunting, obesitas, dan gizi buruk. Dengan adanya produksi dan pemanfaatan dari HPI, diharapkan mampu menuntaskan masalah malnutrisi tersebut.

“Harapannya kedua produk olahan dari sektor kelautan dan perikanan ini tingkat produksi dan pemanfaatannya terus meningkat. Nantinya semua produk olahan ini bisa dinikmati secara luas oleh masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

HPI yang merupakan campuran peptida yang didapat melalui hidrolisis (pemecahan) protein dari ikan, mampu dibentuk menjadi berbagai bahan makanan fungsional bagi tubuh manusia yang mudah diasimilasi oleh makhluk hidup. Pemanfaatan industri HPI ini dilakukan sebagai upaya pencegahan stunting dan gizi buruk, serta meningkatkan perekonomian masyarakat.

Dalam arahannya, Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Maritim Sugeng Santoso menyampaikan bahwa pemanfaatan HPI merupakan bentuk pengembangan ekosistem klaster industri perikanan.

“Pemanfaatan HPI dilakukan guna menghasilkan nilai tambah sebuah produk, terutama dalam kaitannya dengan produk olahan dari sektor perikanan,” ungkap Sugeng.

Dia menjelaskan bahwa pengembangan klaster industri seperti ini merupakan alternatif pendekatan yang dinilai efektif untuk membangun keunggulan daya saing value chain industri dalam meningkatkan nilai tambah untuk mengembangkan perencanaan teknologi, mengintegrasikan sumber daya bahan baku, sertai industri pasar.

Selanjutnya, Sugeng menambahkan bahwa peningkatan nilai tambah value chain industri untuk memiliki kekayaan intelektual, pemrosesan bahan baku, melakukan litbang, serta pengembangan teknologi dan inovasi, meningkatkan perusahaan inti, dan mendorong terjadinya kerjasama, seperti kontrak produksi ataupun kontrak pemasaran.

“Harapannya, kerja sama dengan industri dalam rangka upaya yang lebih fokus bagi terjalinnya kemitraan yang saling menguntungkan dan pengembangan jaringan bisnis. Bagi pembuat kebijakan dan pihak berkepentingan lainnya, pendekatan ini memungkinkan potensi skala pengaruh dari kebijakan dan program, dan cakupan dampaknya yang signifikan,” imbuh dia.

Sugeng menyampaikan bahwa pengembangan klaster industri inovasi ekstrak produk perikanan (HPI) dilakukan dengan melibatkan pihak-pihak terkait agar terjadi sinergi dan berfokus mengolah sumber daya ikan guna menghasilkan produk yang kaya gizi.

“Penciptaan nilai tambah dari industri HPI ini terjadi sepanjang rantai pasokan, mulai dari nelayan, rantai pengiriman, koperasi, industri, hingga pemasaran. Dengan demikian, pada akhirnya industri HPI akan berimbas pada peningkatan perekonomian masyarakat,” sambungnya.

Dia kemudian menjelaskan bahwa implementasi Iptek dan inovasi dalam pengembangan klaster industri ini berkontribusi pada nilai tambah dan secara agregat akan berujung pada perekonomian makro berupa peningkatan PDRB atau Produk Domestik Bruto (PDB).

“Untuk itu diperlukan penyelarasan perencanaan dan kegiatan antara pihak-pihak yang bersinergi agar efektif,” imbuhnya lagi.

Senada dengan Staf Ahli Sugeng, Plt. Bupati Indramayu H. Taufik Hidayat yang diwakili oleh Plt. Kepala Dinas (Kadis) Perikanan dan Kelautan Kabupaten Indramayu Edi Umaedi juga menyampaikan arahannya terkait industri HPI.

“Diversifikasi produk perikanan dengan adanya pabrik HPI diharapkan akan berdampak langsung pada masyarakat, baik secara ekonomi maupun kesejahteraan,” ungkap Edi.

Penguatan HPI dan pemanfaatannya menjadi potensi yang sedang dikembangkan oleh pemerintah, dilatarbelakangi oleh potensi ikan di perairan Indonesia yang mencapai 15 juta ton berdasarkan data tahun 2018. Hal ini menjadikan HPI yang memiliki bahan dasar dari ikan, mampu untuk dijadikan salah satu klaster pengembangan industri di sektor perikanan. Hal tersebut merupakan salah satu bentuk implementasi dari RPJM 2022-2024 mengenai pembangunan di sektor kelautan dan perikanan.

Sisi Bisnis HPI

HPI menjadi sumber protein yang berkelanjutan dan ramah lingkungan dibandingkan dengan susu. Berbagai macam produk seperti susu, kue, bahkan mie instan bisa dibuat melalui HPI. Produksi dari HPI akan dibuat menjadi lebih baik dengan proses bisnis yang terintegrasi dimulai dari para nelayan yang menangkap ikan dengan perkiraan 16 ton per bulan yang nantinya dikirim ke koperasi untuk dipasarkan langsung ke industri yang memproduksi HPI tersebut.

Asisten Deputi Hilirisasi Sumber Daya Maritim Amalyos Chaniago memaparkan sudah ada beberapa industri terkait produksi dan pemanfaatan HPI di Indonesia.

“Industri HPI ini memang perlu untuk dikembangkan, ditingkatkan produksinya, dan diketahui manfaatnya di masyarakat. Sudah ada beberapa industri yang bekerja sama dengan pihak swasta. Pemanfaatan HPI ini, nantinya mampu menurunkan angka stunting dan gizi buruk di Indonesia,” kata Amalyos.

Salah satu contohnya adalah PT Berikan Teknologi Indonesia yang memproduksi dan menyuplai 17 ton per bulan dari 7 unit mesin pengolah HPI ke PT Kimia Farma Export agar diproduksi menjadi produk makanan yang ramah lingkungan, di mana ada 9 juta anak di seluruh Indonesia yang mampu menerima produk dalam rangka menurunkan angka stunting dan gizi buruk di Indonesia yang masih dalam peringkat ke-4 dunia dengan persentase sebesar 27,7 persen.

Proses bisnis yang terintegrasi juga dibentuk atas dasar konsep otonomi protein. Konsep ini pada dasarnya ingin menjadikan industri pengelolaan HPI menjadi lebih mandiri dan dikelola oleh Indonesia. Pemerintah nantinya mampu memanen, mengolah, memproduksi, menyuplai, dan memasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia secara mandiri melalui perusahaan dalam negeri.

Manfaat dari HPI sendiri masih berusaha dikenalkan dengan berbagai cara di berbagai wilayah di Indonesia. Salah satu caranya adalah melalui program Food Festival HPI yang sudah diadakan di tahun 2019. Melalui acara ini masyarakat dikenalkan berbagai produk hasil olahan HPI dan berusaha membangun kesadaran masyarakat terkait masalah dan cara penyelesaian stunting  dan gizi buruk di Indonesia.

Penurunan angka stunting dan gizi buruk sangat bergantung dari adanya kecukupan gizi anak Indonesia. Dengan adanya peningkatan produksi dan pemanfaatan HPI yang digaungkan pemerintah, diharapkan menjadi solusi bagi penurunan angka stunting dan gizi buruk di Indonesia, sehingga mampu memperbaiki kualitas sumber daya manusianya sejak dini.

Turut hadir dalam kunjungan, yaitu Staf Ahli Menteri Menko Marves Sugeng Santoso,

Asisten Deputi Perikanan Tangkap Ikram Sangadji, Asisten Deputi Hilirisasi Sumber Daya Maritim Amalyos Chaniago, Direktur PT Berikan Teknologi Indonesia Yogie Arry, dan Perwakilan dari Kimia Farma Suistiyono. (*)