Gandeng UNIDO, KKP Cetak Pembudidaya Ikan yang Kompeten

0
1152
Pembudidaya ikan bandeng.

Jakarta (Samudranesia) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerjasama dengan United Nations Industry Development Organization (UNIDO-PBB) kembali selenggarakan pelatihan melalui video conference kepada penyuluh perikanan di seluruh Indonesia. Pelatihan kali ini mengangkat tema Program Pembinaan Cara Budidaya Ikan yan Baik (CBIB) dan terbagi dalam beberapa sesi.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto yang membuka pelatihan pada sesi pertama yang dihadiri oleh 879 peserta pada hari Jumat (8/5) menilai bahwa model pelatihan online seperti ini sangat efektif dan baik untuk diterapkan tidak hanya selama pandemi Covid-19, karena sosialisasi program maupun pembinaan dapat menjangkau lebih banyak pembina di seluruh Indonesia.

“Apresiasi tinggi kami berikan kepada UNIDO dan para pakar perikanan yang bersedia membagi ilmu untuk meningkatkan pemahaman implementasi CBIB peserta pelatihan ini. Pemahaman akan pentingnya standar kualitas serta sertifikasi dalam proses budidaya ikan akan menjadi hal yang esensial pada masa mendatang,” lanjut Slamet.

Slamet menekankan pentingnya peranan sertifikasi dalam berbudidaya ikan sebagai proteksi agar tidak banyak produk dari luar negeri yang masuk ke Indonesia. Selain itu, dengan produk yang tersertifikasi  pelaku usaha dapat memperoleh pasar yang lebih luas hingga ke luar negeri.

“Pasar luar negeri masih terbuka sangat luas, namun persyaratan yang dibutuhkan juga cukup ketat. Pada tahun yang lalu, ada cukup banyak audit yang dilakukan oleh institusi keamanan pangan luar negeri seperti USA, Uni Eropa, Australia yang datang ke Indonesia. Di situlah sertifikasi memberikan andil dalam mempermudah untuk meyakinkan konsumen terhadap keamanan pangan produk perikanan Indonesia,” beber Slamet.

Sebagaimana diketahui bahwa KKP terus berusaha untuk mewujudkan sistem sertifikasi Indonesian Good Aquaculture Practices (IndoGAP) yang menyatukan seluruh sertifikasi yakni CBIB, Cara Pembenihan Ikan yang Baik (CPIB) dan Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB).

Slamet mengimbau kepada pembudidaya untuk dapat memiliki sertifikat yang diperlukan untuk memastikan produk budidaya yang dihasilkan memenuhi standar. Selain mendukung peningkatan produksi yang terus bertambah di tahun mendatang, hal ini juga dilakukan guna memenuhi pasar dengan produk berkualitas dengan standar mutu yang tinggi.

Untuk memotivasi pembudidaya yang telah menerapkan CBIB dan CPIB, Slamet juga mengajak peran serta produsen pakan dan UPI untuk memberikan reward kepada pembudidaya.

“Reward yang diberikan dapat berupa harga pakan yang lebih murah atau pembelian hasil budidaya yang lebih mahal untuk hasil budidaya yang menerapkan CBIB dan CPIB. Hal ini dapat membuat semangat pembudidaya untuk menerapkan CBIB dan CPIB tetap terjaga, serta menarik minat pembudidaya lainnya,” ujar Slamet.

“Tantangan yang akan dihadapi pembudidaya ialah semakin meningkatnya persyaratan yang diinginkan oleh pasar. Tentunya hal ini harus diimbangi dengan kemampuan adaptasi yang cepat dari masyarakat perikanan budidaya Indonesia,” kata Slamet.

Slamet juga menekankan pentingnya penerapan SNI CBIB sebagai upaya meningkatkan performa perikanan budidaya Indonesia yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. Pembinaan SNI CBIB sangat penting dilaksanakan untuk mendukung kemajuan perikanan budidaya, oleh karena itu para peserta pelatihan pembinaan SNI CBIB diharapkan dapat mengimplementasikan program pembinaan SNI CBIB sesuai dengan tugas dan kewenangan instansi masing-masing;

“UNIDO memiliki peran penting untuk turut serta mengawal keberterimaan IndoGAP di pasar internasional karena masih terbatasnya keberterimaan CPIB dan CBIB di luar negeri. Kami harap dengan dukungan dari UNIDO pengembangan standarisasi dan sertifikasi perikanan budidaya Indonesia dapat mendukung keberterimaan produk perikanan Indonesia di pasar regional dan internasional,” pungkas Slamet.

Sementara itu Praktisi Keamanan Pangan dari UNIDO, Novia Priyana menyatakan bahwa  UNIDO siap mendukung program IndoGAP bersama KKP. Ia menekankan pentingnya perencanaan program pembinaan terhadap pelaku usaha budidaya.

“Sangat penting untuk pembina atau penyuluh di daerah memiliki strategi melakukan pembinaan, sehingga pembudidaya mendapatkan kebutuhan serta memenuhi target yang ingin dicapai. Selain itu mereka juga harus mampu cepat beradaptasi untuk mengadopsi strategi sesuai kondisi di masing masing daerah,” sambung Novia.

Novia menjelaskan bahwa untuk sementara ini program pelatihan berfokus pada komoditas rumput laut, udang, lele, patin dan bandeng, namun tidak menutup kemungkinan di masa yang akan datang akan membuka jaringan baru untuk komoditas yang lain.

“Kunci dari kesuksesan program ini yaitu adanya perencanaan yang matang dan memiliki target yang jelas. Beberapa elemen lain yang turut berkontribusi antara lain SDM yang cukup dan kompeten, metode pembinaan yang tepat, dukungan anggaran, pemutakhiran materi dan data. Dengan terpenuhinya elemen tersebut dan peningkatan kapasitas yang dilakukan melalui pelatihan online ini diharapkan dapat meningkatkan mutu dan produktivitas masyarakat pembudidaya,” tutup Novia. (Tyo)