Dosen Unhan: Infodemik dan ‘Post-Truth’ Tumbuh Subur di Tengah Pandemi

0
241
Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) RI Dr. Susaningtyas NH Kertopati,M.Si

Bogor (Samudranesia) –  Di era pandemi Covid-19 ini, marak berita hoax memenuhi ruang-ruang publik, terutama dalam dunia maya. Hal tersebut tentu membahayakan keselamatan negara yang kini tengah berjuang mengakhiri wabah mematikan tersebut.

Hoax atau Fake News adalah kebohongan atau berita palsu yang sengaja diciptakan untuk menyesatkan atau menipu orang lain atau publik, namun dibuat secara tersamar seolah berita tersebut benar.

Demikian disampaikan oleh Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) RI Dr. Susaningtyas NH Kertopati,M.Si dengan topik ‘Analisis Intelijen Terhadap Ancaman Disinformasi Covid-19 di Indonesia’ dalam sebuah webinar yang diselenggarakan Fakultas Strategi Pertahanan (FSP) Unhan dengan tema “Redam Disinformasi Pandemi Covid-19 dalam Mewujudkan Pertahanan Negara yang Tangguh” melalui daring. Rabu, (3/03).

Mengutip Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pengamat intelijen yang akrab disapa Nuning itu menyatakan dalam situasi pandemi Covid-19 saat ini, negara tidak hanya melawan pandemi, namun juga infodemik.

“Infodemik adalah penyebaran disinformasi yang berkaitan dengan Covid-19 dengan volume yang besar dan secara cepat. Hal ini menimbulkan kebingungan publik, ketidakpercayaan, dan menghambat efektivitas program penanganan dan layanan kesehatan,” ungkap Nuning.

Menurut dia, infodemik ini tumbuh subur karena faktor pendukung lemahnya literasi digital di media sosial, kepanikan dan ketidaktahuan publik dalam memilih sumber informasi, serta kesimpangsiuran informasi yang terpercaya yang dikeluarkan oleh lembaga resmi pemerintah pada awal-awal pandemi.

“Infodemik membuat banyak publik yang tidak percaya pandemi Covid-19, abai terhadap protokol kesehatan, panik berlebihan, hingga dapat meruntuhkan kredibilitas atau legitimasi lembaga resmi pemerintah,” ucapnya.

Terkait suburnya infodemik, mantan Anggota Komisi I DPR itu juga melansir laporan Intelijen AS yang menuding Intelijen Militer Rusia (GRU), juga China dan Iran yang menyebarkan disinformasi mengenai pandemi Covid 19 untuk mempengaruhi situasi politik AS menjelang Pilpres AS 2020 lalu.

“Upaya ini mereka lakukan melalui situs-situs berbahasa Inggris yang disebarkan melalui media sosial dan menargetkan populasi di AS untuk menyebarkan berita bohong soal Covid-19, sekaligus mengeksploitasi pembelahan politik di sana, terutama terhadap kulit putih dengan imigran, Afro Amerika dan Muslim,” jelas Nuning.

“Akibatnya, banyak penduduk AS meyakini bahwa Covid 19 adalah konspirasi yang tidak nyata. Akibatnya, catatan angka kematian AS mencapai lebih dari 505 ribu Jiwa, atau tertinggi di dunia,” tambahnya.

Selain infodemik, lanjut Nuning, fenomena Post-Truth juga mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara di dalam upaya memerangi Covid-19. Post-Truth merupakan sebuah kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal.

“Kondisi Post-Truth mendapat tempat dalam proses memperkuat sebuah deskripsi atau analisa yang sesuai dengan harapan pihak yang mengonstruksi dan menyampaikan narasi atau propaganda,” terang dia.

Masih kata Nuning, fenomena Post-Truth juga digunakan dalam menyebarkan infodemik terkait Covid-19. sepanjang 2020, terdapat 352 kasus disinformasi dan hoax yang ditangani oleh Polri. Sementara, Kominfo mengidentifikasi ada lebih dari 2000 konten hoax seputar Covid-19 sepanjang 2020.

Selain Nuning, Webinar yang dibukan Rektor Unhan RI Laksamana Madya TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., DESD., CIQnR, CIQaR., IPU itu juga menghadirkan beberapa narasumber antara lain Ketua Ahli Epidemiologi Indonesia Dr. dr. Hariadi Wibisono, MPH dengan topik ‘Pemetaan Pandemi COVID-19 dan Penyebarannya’, Dosen Unhan RI Mayjen TNI (Purn) Dr. Puguh Santoso, ST., M.Sc, topik ‘Best Practice Keamanan Nasional Dengan Segala Permasalahannya Menghadapi Pandemi Covid-19’, serta Asisten Senior Stafsus Menkominfo Bidang Digital dan SDM Airin Rachma, MA dengan topik ‘Literasi Digital dan Siber kepada Masyarakat di Era Pandemi Covid-19’.

Rektor Unhan RI dalam sambutannya mengatakan  pertahanan negara adalah segala usaha untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara kesatuan Republik Indonesia dan keselamatan segenap bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.

“Dalam implementasinya, pertahanan negara mengacu pada sistem pertahanan yang bersifat semesta yang melibatkan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berkelanjutan dalam menghadapi ancaman dalam rangka mewujudkan tujuan nasional,” ucap Laksdya Octavian.

Rektor Unhan RI Laksamana Madya TNI Dr. Amarulla Octavian, S.T., M.Sc., DESD., CIQnR, CIQaR.,

Sejalan dengan perkembangan lingkungan strategis pada tataran global, regional, dan nasional yang semakin dinamis dan kompleks, maka telah memunculkan ancaman khususnya ancaman non militer dan peluang bagi kepentingan nasional Indonesia yaitu pandemi Covid-19 yang tidak dapat diprediksi sampai kapan akan berakhir.

“Berbagai upaya dan cara telah dilakukan oleh pemerintah, salah satunya melalui vaksinasi secara nasional. Namun, seiring waktu berjalan muncul ancaman non militer lainnya yang merebak di tengah-tengah masyarakat berupa disinformasi sebagai dampak dari lahirnya revolusi industri 4.0 dan masyarakat 5.0 yang ditandai dengan kondisi mudah bergejolak (volatility),” terangnya.

Dalam mendukung visi dan misi pemerintah di bidang pertahanan yaitu terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian, berlandaskan gotong-royong, Rektor Unhan RI mengajak peserta seminar untuk dapat mengikuti dengan seksama dan memberikan masukan sebagai salah satu alternatif solusi dalam meredam disinformasi pandemi Covid-19 melalui pengelolaan sumber daya nasional yang sinergik dan terintegrasi untuk pertahanan negara yang tangguh.

Acara seminar dihadiri Pejabat Eselon I, II dan III Unhan RI, Mahasiswa Unhan RI, serta para Dosen di lingkungan Unhan RI serta undangan lainnya. (*)