Iskindo Jabarkan Solusi untuk Masalah Kelautan

0
1090
Ketua Umum ISKINDO Zulficar Mochtar.

Jakarta (Samudranesia) – Dalam membahas permasalahan kelautan dan perikanan terkini, Ikatan Sarjana Kelautan Indonesia (Iskindo) menggelar Temu Pakar Kelautan secara online pada Rabu (16/12). Para pakar kelautan dari berbagai kampus pun hadir memenuhi undangan itu beserta para anggota Iskindo di seluruh Indonesia.

Ketua Umum Iskindo Dr. M Zulficar Mochtar dalam sambutannya menyatakan bahwa forum ini merupakan momen untuk menyerap banyak masukan dari para pakar kelautan, perikanan dan kemaritiman yang nantinya hasil masukan ini dirumuskan dalam bentuk rekomendasi ke pemerintah.

“Tahun ini kita mengalami pandemi yang tidak bisa diprediksi sebelumnya sehingga mengakibatkan adanya gejolak ekonomi, termasuk di sektor kelautan dan perikanan juga mengalami tantangan yang besar. Masalah yang kita hadapi itu membutuhkan cara-cara yang tidak sendiri,” ujar Zulficar.

Masalah-masalah di sektor kelautan dan perikanan, sambung dia, masih dihadapkan dengan problematika seputar climate change, IUU Fishing, oligarki perikanan, sampah plastik dan visi Poros Maritim Dunia yang masih menjadi mimpi besar dari seluruh pihak.

Dia juga mengungkapkan keprihatinannya dengan adanya kejadian yang menimpa Menteri Kelautan dan Perikanan (KP) beberapa waktu lalu, yang ditetapkan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena kasus suap ekspor benih lobster.

“Kejadian itu tentu memberikan dampak besar terhadap image pengelolaan kelautan dan perikanan kita dan tentunya mengganggu tata kelola. Kita tidak mencari kesalahan siapa pun yang pasti ini menjadi momentum yang baik bagi kita untuk membenahi secara bersama,” jelasnya.

Dalam pertemuan dengan para pakar ini, Iskindo telah menyiapkan tim perumus yang nantinya akan merumuskan segala masukan dari para pakar untuk kemudian diteruskan kepada pihak terkait.

“Rekomendasi ini dalam berbagai bidang di kelautan, perikanan dan kemaritiman yang kita sangat banyak sekali. Rumusan itu kita lakukan secara scientific approach. Kalau pendekatan by feeling kadang-kadang akan bermasalah ke depannya, jadi kita pendekatan scientific harus diutamakan,” pungkas Zulficar.

Hadir dalam forum tersebut antara lain Rektor Universitas Haluoleo, Kendari, Prof. Dr Muhammad Zamrun. Dalam paparannya, Prof Zamrun mengusulkan agar Iskindo ke depan memiliki dua program, pertama terkait pemanfaatan energi alternatif dan kedua, terkait pembangunan desa nelayan binaan.

“Jadi sebelum kita beralih memanfaatkan energi nuklir, saya rasa bisa memanfaatkan dulu energi potensial yang ada seperti arus laut, angin dan sebagainya. Kita punya garis pantai yang panjang dan kita punya banyak energi alternatif potensial,” ujarnya.

Menurutnya, hal tersebut juga bisa memacu inovasi teknologi di setiap perguruan tinggi untuk menopang pengelolaan energi alternatif. Selanjutnya,  dia mengusulkan agar setiap Pengurus Wilayah Iskindo memiliki paling tidak satu desa nelayan binaan sebagai wujud konkret memberikan kesejahteraan kepada nelayan atau masyarakat pesisir.

“Setiap pengurus Iskindo memberdayakan desa infklusif nelayan. Jadi Iskindo yang di daerah-daerah itu sebagai dewan pembinanya dan menggandeng perguruan tinggi dan pemerintah daerah yang ada di daerahnya,” tambah Prof Zamrun.

Sementara itu, Ketua Umum Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Dr Riza Damanik yang hadir dalam forum itu juga mengusulkan agar Iskindo bisa dengan jeli melihat permasalan di sektor kelautan dan perikanan dari sisi penyebabnya, bukan hanya akibat yang tampak di permukaan.

“Sejak 20 tahun lalu saya mengikuti isu-isu di dunia kelautan dan perikanan, kurang lebih isunya relatif sama dengan saat ini. Ini artinya inovasi tidak berjalan baik. Jadi Iskindo harus bisa pisahkan antara penyebab dan akibat masalah terlebih dahulu,” ujar Riza.

“Selama ini kita seolah-olah telah merespons penyebab tapi padahal akibat. Jadi Iskindo harus merespons akarnya, bukan ujung pipanya. Kita harus bisa masuk ke pangkalnya permasalahan yang terjadi,” tambahnya.

Masalah-masalah perikanan terhangat saat ini seperti ekspor benih lobster dan IUU Fishing, menurut Riza dari dulu sama karakteristiknya, sehingga banyak para pakar yang terjebak dalam merespons akibat.

“Masalah lobster dari dulu masalahnya adalah negara boleh atau tidak mengekspor lobster. Kita sendiri yang menyederhanakan peran negara, seolah-olah negara ini hanya urusan pintu masuk dan keluar,” pungkasnya. (*)