Deklarasi Djuanda, Kebangkitan Doktrin Cakrawala Mandala Dwipantara

0
3060
Kepulauan Indonesia.

Jakarta (Samudranesia) – Deklarasi Djuanda yang digaungkan pada 13 Desember 1957 oleh Perdana Menteri Ir. Djuanda Kertawidjaja saat itu menjadi babak baru dalam doktrin bangsa Indonesia. Sebagai penyempurna dari Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 dan Proklamasi 17 Agustus 1945, deklarasi ini memiliki arti penting dalam geopolitik Indonesia.

Peringatan deklarasi itu saat ini dikenal dengan Hari Nusantara sejak tahun 1999. Deklarasi Djuanda sendiri telah menumbuhkan intepretasi kesadaran dan cara pandang bangsa Indonesia terhadap wilayahnya yang didominasi lautan. Cara pandang tersebut yang kemudian menjadi Wawasan Nusantara.

Tak hanya darat dan laut saja, dokrtin tersebut juga mencakup ruang udara di atasnya. Sehingga dalam istilah sansekertanya disebut sebagai Cakrawala Mandala Dwipantara.

Menurut Plt Direktur Kerjasama Bakamla, Kolonel Bakamla Salim, dalam memasuki abad 21 ini doktrin tersebut harus selalu digaungkan sebagai bagian dari visi Poros Maritim Dunia dan pembentukan SDM unggul bangsa Indonesia yang berkarakter.

“Bangkitkan lagi Doktrin Cakrawala Mandala Dwipantara sebagai wujud kembalinya kejayaan maritim Nusantara di abad 21. Momentum Hari Nusantara kita harus terus konsisten untuk melanjutkan pembangunan maritim untuk kemakmuran rakyat, Mari kita semua menggelorakan budaya bahari,” ujar Salim dalam keterangannya yang diterima redaksi, Jumat (13/12).

Deklarasi Djuanda yang menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang mempunyai corak tersendiri, sejak dahulu kala kepulauan Nusantara ini sudah merupakan satu kesatuan, dan Ketentuan ordonansi TZMKO 1939 tentang batas laut dapat memecah belah keutuhan wilayah Indonesia.

Sehingga deklarasi tersebut mengandung suatu tujuan yaitu untuk mewujudkan bentuk wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang utuh dan bulat, menentukan batas-batas wilayah NKRI, sesuai dengan asas negara Kepulauan dan mengatur lalu lintas damai pelayaran yang lebih menjamin keamanan dan keselamatan NKRI.

Budaya bahari atau maritim yang menjadi ruh dari deklarasi tersebut merupakan bagian terpenting ketika kita ingin mengulangi kejayaan bahari Nusantara masa lalu. Salim menyatakan budaya adalah pangkal dari pola aktivitas kehidupan manusia.

“Budaya merupakan cultural destiny, mari kita semua mengoptimalkan sumber daya dan perairan laut kita sebagai penyatu ekonomi, penyatu persatuan dan kesatuan kita. Mari kita pelihara laut dengan tulus dan ikhlas, sehingga anak-cucu kita juga dapat menikmati dan memanfaatkannya secara lestari,” terang Salim.

Di akhir pemaparannya, pria asal Surabaya ini berharap agar perjuangan itu senantiasa mendapat pertolongan dari Tuhan YME. Sebagai bangsa yang ber-Pancasila, aspek moral dan spritualitas merupakan hal terpenting dalam kehidupan bangsa Indonesia.

“Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa selalu memberikan Rahmat atas Anugrah bumi Kepulauan Nusantara yang elok, indah dan Makmur,” pungkasnya. (Tyo)