Dampak Covid-19 pada Nelayan dan Pekerja Perikanan akan Dikupas Lewat Diskusi Online

0
681
Ilustrasi Foto: Net

Jakarta (Samudranesia) – Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan, M. Zulficar Mochtar akan menjadi pembicara pada Diskusi Online bertemakan Dampak dan Antisipasi Pencegahan Covid-19 pada Nelayan dan Pekerja Perikanan. Acara akan berlangsung pada hari Selasa, 14 April 2020 pukul 10.00 WIB.

Zulficar Mochtar tidak sendiri tapi akan panel dengan Nono Sumarsono, Direktur SAFE Seas Project, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Utara, Tienneke Adam dan Dr Muhammad Lukman dari National Project Officer, FAO-ISLME Project.

Menurut Zulficar, inisiatif ini merupakan bentuk tanggung jawab masing-masing institusi atas meluasnya pandemi Covid-19 yang dirasakan sangat berdampak pada profesi nelayan dan pekerja perikanan.

“Diskusi online ini merupakan komitmen Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atas dukungan beberapa pihak untuk memperoleh update, gambaran dampak, status pandemi di sentra perikanan sekaligus memperoleh masukan publik atas upaya-upaya yang telah dilakukan dan akan dilaksankaan terkait Pandemi Covid-19 ini,” kata Zulficar dalam keterangannya yang diterima Samudranesia, Minggu (12/4).

Sementara itu, Ketua Harian ISKINDO sekaligus Koordinator Nasional Destructive Fishing Wacth, Abdi Suhufan menyatakan bahwa dampak pandemi Covid-19 sangat terasa pada sektor perikanan termasuk pada nelayan dan Awak Kapal Perikanan (AKP) Indonesia.

“Selain dampak keekonomian karena berkurangnya operasi dan tangkapan ikan, juga pada aspek keselamatan bekerja di atas kapal. Beberapa AKP yang ada di luar negeri dikabarkan sudah jadi korban,” sebut Abdi.

SAFE Seas adalah proyek yang sedang dijalankan oleh YPII dan DFW Indonesia berkaitan pengurangan praktik kerja paksa dan human trafficking di usaha perikanan baik AKP dalam negeri maupun luar negeri.

“Pengalaman kami di dua provinsi seperti Jawa Tengah dan Sulawesi Utara menemukan tekanan hebat pada kondisi sosial ekonomi nelayan dan awak kapal perikanan. Jumlah operasi yang berkurang serta rendahnya daya serap pasar menjadi pukulan bagi usaha perikanan,” imbuh Abdi.

Selain KKP dan YPII, pada diskusi ini hadir pula National Project Officer FAO-ISLME Project, Dr Muhammad Lukman.  Menurut Lukman, saat ini ISLME Project aktif berkontribusi dalam perbaikan tata kelola usaha perikanan di kawasan ‘Large Marine Ecosystem’ Indonesia-Timor Leste termasuk di Pantura.

“Salah satunya dengan mendorong adopsi e-Logbook pada kapal-kapal perikanan dan promosi pengelolaan perikanan secara berkelanjutan termasuk perikanan skala kecil,” sebut Dr Lukman.

KKP dan SAFE Seas mengundang publik terutama pekerja perikanan, nelayan atau para pemangku kepentingan untuk ikut Diksusi Online ini.  “Harapan kami, momentum ini dapat menjadi sharing informasi, gagasan dan rencana aksi berkaitan pencegahan dan antisipasi Pandemi Covid-19 ini. Silakan klik dan Join Skype: Bit.ly/Join/Covid19,” tutupnya. (Tyo)