Covid-19 Terus Melanda, Mungkinkah Nelayan Tetap Melaut?

0
1434
Nelayan harus dupayakan untuk tetap melaut di tengah Covid-19 ini. Foto: Istimewa.

Jakarta (Samudranesia) – Sebagai garda terdepan sekaligus benteng terakhir dalam mencukupi kebutuhan protein bangsa, peran nealayan sangatlah penting di tengah pandemi Covid-19 saat ini.

Ketua Front Nelayan Indonesia (FNI) Rusdianto Samawa saat berkunjung ke berbagai pesisir Sulawesi Selatan menemui sejumlah nelayan yang takut melaut lantaran adanya imbauan dari Pemerintah Daerah setempat untuk tidak melaut.

“Saya menyebrang dari Pangkep ke Pulau Podang-Podang. Tempat berkumpulnya mayoritas nelayan alat tangkap “trawl mini.” Mereka banyak bertanya situasi Covid-19 yang sudah mencapai 5000-an orang lebih positif Covid-19. Kekhawatiran itu pula, mengiringi rasa was-was dan takut melaut,” kata Rusdianto dalam keterangannya yang diterima Samudranesia, Jumat (17/4).

“Nelayan bingung antara patuh dengan imbauan pemerintah ataukah melaut untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka? Tentu ini harus menjadi pemikiran bersama untuk mencari solusi yang tepat,” tambahnya.

Baca Juga:

KNTI Minta Pemerintah Siapkan Kebijakan Antisipasi Pelambatan Ekonomi dan Dampak Covid-19 Bagi Nelayan

Nelayan dan Awak Kapal Perikanan Perlu Jaminan Akses ‘Social Security Benefit’

Di Tengah Wabah Covid-19, Kadin Usulkan ke Pemerintah Selamatkan Sektor Perikanan

Dalam kondisi itu Rusdianto hanya bisa kasih penjelasan sebatas pengetahuan objektif untuk memberi rasa ketenangan dan menjaga mereka agar tidak panik dan tetap melaut.

“Dalam beberapa minggu ini, mereka sudah merasakan pendapatan berkurang. Pemeriksaan diperketat dan keamanan dipastikan terlindungi atas pemberlakuan PSBB untuk memangkas penyebaran Covid-19,” jelasnya.

Terpenting diketahui, masalah Covid-19 sangat berdampak pada terbatasnya penghasilan nelayan, pembudidaya, pekerja tambak, pelaut: buruh migran, buruh nelayan, dan ABK kapal perikanan dalam melakukan penangkapan ikan dan kegiatan pembudidayaan.

“Pendapatan mereka turun drastis, belanja kebutuhan sangat sulit dan tidak berimbangnya antara pemasukan dan pengeluaran,” tegasnya.

Sebagaimana data kenaikan Nilai Tukar Nelayan (NTN) tahun 2020. Kenaikan tersebut, seiring dari target produksi perikanan pada tahun 2020 sebanyak 26,46 juta ton yang dibagi pada angka 8,02 juta ton dari perikanan tangkap, angka 7,45 juta ton perikanan budidaya, dan angka 10,99 juta ton dari rumput laut. Sementara, ditargetkan pertumbuhan PDB Perikanan sebesar 7,9 persen, nilai tukar nelayan 115, produksi garam nasional 3 juta ton, angka konsumsi ikan 56,39 kg per kapita, nilai ekspor perikanan 6,17 miliar dolar AS, dan luas kawasan konservasi 23,4 juta hektar.

“Dari proyeksi itu bisa dirasakan naiknya pendapatan nelayan dan meningkatnya daya beli yang didorong oleh penawaran-permintaan di pasar-pasar modern dan tradisional. Karena didorong oleh produksi perikanan pada tahun 2020 yang mencapai 5,3 persen dari target tumbuhnya PDB 7,9 persen, itu kalau kondisi normal tanpa Corona,” ungkap Rusdianto.

Jika menghitung potensi pengangguran dan libur melaut atas karena Covid-19 ini, maka tinggal dihitung jumlah kapal dan maksimal pekerja perkapal. Lanjut Rusdinato, biasanya kapal/perahu kecil terdiri dari 2 orang. Kalau kapal nelayan berukuran 30-150 Gross Ton bisa terdiri 30-50 pekerja per kapalnya.

“Ya, menghitungnya dua kemungkinan yakni kerugian atas tidak melaut dalam 2-3 minggu ini. Begitu juga, dihitung potensial pengangguran dan PHK yang akan terjadi,” ulasnya.

Tentu, jumlah kapal dan pekerja di atas akan berpengaruh pada kondisi keuangan negara dan perbankan. Karena nelayan dan pemilik kapal sudah pasti meminjam uang bank untuk kebutuhan mendasar sandang papan dalam melaut maupun biaya operasional mereka saat melaut, seperti bensin, perawatan mesin, obat-obatan, alat tangkap, kapal/perahu dan lainnya.

Masih kata Rusdianto, yang membuat sulit bagi nelayan karena permodalan, operasional dan permintaan penawaran transaksi yang bersumber dari mayoritas pengusaha dan pinjaman. Sementara, ketergantungan pengusaha terhadap dolar yang mempengaruhi tingkat harga, daya beli, kebutuhan dan kerugian yang dialaminya.

“Sehingga dampak terhadap nelayan sangat besar yang bergantung pada struktur usaha industri. Dari sini kita melihat bahwa sektor kelautan dan perikanan sangat terpukul,” pungkasnya. (Tyo)