COP 26 akan Menjadi Tantangan bagi Inggris dan Italia

0
99

Perubahan Iklim (Samudranesia) – Inggris dan Italia akan menjadi tuan rumah COP26, sebuah perhelatan pertemuan pemimpin dunia membahas perubahan iklim. Presiden COP26 Alok Sharma menyebut jika COP yang diselenggarakan pada 31 Oktober-12 November 2021 ini akan menjadi ajang yang paling inklusif karena dilangsungkan di tengah-tengah pandemic Covid-19 yang masih berlangsung.

Penyelenggara menegaskan bahwa pihaknya telah menetapkan langkah-langkah agar membuat KTT/COP26 berlangsung secara aman, yakni melalui penawaran vaksin kepada negara-negara berkembang, sistem tes COVID-19 harian dan penjagaan jarak sosial di tempat.

 “Ini akan menjadi COP yang luar biasa di waktu yang luar biasa. Tetapi secara kolektif, kita harus bekerja sama untuk membuatnya berlangsung dengan lancar. Dari awalnya tidak saling mengenal, menjadi bersatu. Karena kita tidak punya pilihan selain melaksanakannya. Setiap negara harus mengambil langkah. Dan sebagai Presiden COP26 saya akan memastikan bahwa setiap suara akan didengar, dimana negara-negara terkecil akan duduk berhadap-hadapan dengan pemimpin besar dunia, sebagai pihak yang setara dalam prosesnya,” tegasnya melalui siaran pers yang diterima redaksi pada kamis 14 Oktober 2021.

Sementara Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor Leste Owen Jenkins mengatakan tugas yang dihadapi oleh dunia di COP26 belum pernah terjadi sebelumnya. “Baik dalam hal yang dipertaruhkan, maupun tantangan yang ditimbulkan oleh pandemic,” katanya dalam siaran pers.

Sebelumnya Presiden COP26 alok Sharma, dalam pidatonya, menyoroti empat elemen COP26 untuk mencapai tingkat ambisi yang diperlukan. Antara lain,  1) rencana aksi iklim untuk mengurangi emisi secara signifikan pada tahun 2030, mencapai emisi nol bersih pada pertengahan abad, dan mendukung adaptasi dalam mengatasi ancaman iklim; 2) tindakan nyata untuk mewujudkan rencana ini, termasuk kesepakatan dalam mobil listrik, pengurangan penggunaan batu bara, perlindungan pohon, dan pengurangan emisi metana; 3) untuk menepati janji $100 miliar dolar; dan 4) hasil negosiasi yang membuka jalan bagi ambisi yang makin kuat selama satu dekade.

Menurut Owen, pidato Presiden COP26 itu menjadi penting karena akan mengatur arah dari pertemuan puncak yang diharapkan sarat aksi di Glasgow nanti, sesuatu yang dibutuhkan dunia. Seruan ke negara-negara G20 untuk membuat target pengurangan emisi pada 2030 yang ambisius sangatlah penting, karena bersama-sama mereka telah menyumbang 80% dari emisi global. Kita membutuhkan ekonomi terkuat untuk bertindak. Inilah waktu penentuan dalam krisis iklim kita, dan masa depan planet kita bersama bergantung pada kita.”