Cagar Biosfer di Indonesia Bertambah Tiga Lagi

0
324
Kawasan Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara (dok. KLHK)

Manado (Samudranesia) – UNESCO pada sidang ke-32 International Coordinating Council (ICC) Man and the Biosphere (MAB) UNESCO tahun 2020, Rabu 28 Oktober 2020 secara resmi menetapkan tiga kawasan konservasi di Indonesia sebagai cagar biosfer. Yaitu, Bunaken Tangkoko Minahasa (746.412,54 ha), Karimunjawa Jepara Muria (1.236.083,97 ha) dan Merapi Merbabu Menoreh (254.876,75 ha).

Dengan begitu Indonesia kini memiliki 19 Cagar Biosfer dengan total luas kawasan mencapai 29.901.729,259 ha yang menjadi bagian dari World Network of Biosphere Reserves (WNBR).

Cagar Biosfer adalah gagasan UNESCO sejak tahun 1971. Gagasan ini mengedepankan konsep mengelola suatu kawasan yang ditujukan untuk mengharmonisasikan antara kebutuhan konservasi keanekaragaman hayati – sosial – ekonomi yang berkelanjutan dan dukungan logistik yang cukup, di mana kawasan konservasi merupakan core area-nya.

Total jumlah Cagar Biosfer yang sudah ditetapkan UNESCO di seluruh dunia saat ini mencapai 714 yang tersebar di 129 negara.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui siaran persnya, menyebut jika penambahan tersebut merupakan prestasi Indonesia yang dimotori oleh Komite Nasional MAB UNESCO Indonesia yang didukung oleh LIPI dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), serta pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan enam Pemerintah Kabupaten/Kota.

“Dari total luas kawasan Cagar Biosfer yang dimiliki Indonesia tersebut, luas kawasan konservasi yang menjadi core area/area inti Cagar Biosfer adalah 5.261.133,42 ha atau sebesar > 20% dari total luas kawasan Cagar Biosfer yang ada,” kata Y. Purwanto, Direktur Eksekutif Komite Nasional Program MAB Indonesia-LIPI dalam siaran pers.

“Pembangunan dan pengembangan Biosfer Indonesia dapat menjadi sarana untuk melaksanakan komitmen bangsa Indonesia dalam melaksanakan berbagai konvensi terkait dengan lingkungan hidup, keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim,” tambah Purwanto.

Sementara menurut Direktur Program dan Pengembangan, Komite Nasional MAB Indonesia sekaligus Peneliti Pusat Penelitian Biologi LIPI, Hari Nugroho mengatakan,  19 Cagar Biosfer yang sudah dimiliki Indonesia membuat Indonesia memiliki peluang besar untuk mendemonstrasikan pembangunan berkelanjutan.

Nilai jual wisata

Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti dalam kunjungannya ke Sulut menilai jika penetapan Bunaken menjadi nilai tambah bagi Bunaken sebagai destinasi wisata. Menurutnya ini harus bisa dimanfaatkan oleh pemerintah daerah untuk mendorong sektor pariwisata.

“Sosialisasikan kembali dan optimalkan pariwisata di Sulut, sehingga pada saatnya, setelah Pandemi ini mereda, kita siap bangkit dengan cepat. Karena memang akibat pandemi, pariwisata kita jadi lesu,” tutur LaNyalla.

LaNyalla mengimbau agar pemda mempersiapkan infrastruktur pariwisata sebaik mungkin. Termasuk semua hal yang diperlukan untuk menunjang protokol kesehatan Covid. “Protokol kesehatan jangan sampai diabaikan. Pemda harus betul-betul mempersiapkannya,” jelas dia.