Budidaya Cacing Sutera: Modal Kecil, Untung Berlimpah

0
3358
Budidaya cacing sutera (Tubifex Sp) menjadipeluang usaha baru mengingat permintaannya cukup tinggi (dok. Ditjen Perikanan Budidaya, KKP)

Kulonprogo (Samudranesia) – Usaha budidaya cacing sutera (Tubifex Sp) sistem apartemen memiliki prospek tinggi seiring dengan semakin meningkatkan minat masyarakat pada pemeliharaan ikan hias. Cuan yang dihasilkan dari budidaya ini pun cukup menggiurkan.

Cacing sutera—sering juga disebut sebagai cacing rambut—adalah cacing berkoloni yang masuk dalam kelas jenis Oligochaeta. Disebut cacing rambut karena hewan air ini memiliki ukuran tubuh hanya 2–4 cm saja. Habitatnya di perairan jernih dan kaya bahan organik. Dari hasil penelitian, cacing ini diketahui mengandung protein di kisaran 57-60 persen dan lemak antara 13-20 persen.

Jumlah protein tersebut sudah cukup memenuhi kebuthan nutrisi bagi pertumbuhan benih ikan.

Cacing sutera juga kaya akan vitamin B12, asam amino, mineral, serta asam lemak tak jenuh. Tubuhnya yang tanpa struktur tulang membuat cacing ini mudah dicerna oleh benih ikan serta ukurannya sesuai dengan bukaan mulut larva.

Budidaya cacing sutera tak memerlukan lahan khusus. Cukup dengan memanfaatkan lahan kosong di sekitar pekarangan rumah. Budidaya cacing sutera bahkan bisa dilakukan di lahan pekarangan rumah sempit sekalipun. Caranya dengan menggunakan sistem budidaya apartemen. Seperti yang dilakukan oleh Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Mina Bayu Lestari di Pedukuhan Tonobakal, Desa Hargomulyo, Kecamatan Kokap, Kulon Progo, Jawa Tengah.

 “Budidaya cacing sutra sistem apartemen ini adalah alternatif lain budidaya cacing sutra yang biasa dilakukan di area persawahan,” kata Ibnu Budiono, salah seorang penyuluh perikanan di Kulon Progo saat temu lapangan secara virtual yang diadakan oleh Pusat Pelatihan dan Penyuluhan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, KKP, Selasa 3 November 2020. “Perbedaannya, budidaya cacing sutra sistem apartemen menggunakan wadah budidaya yang disusun secara bertingkat dilengkapi dengan resirkulasi air sehingga meminimalisir penggunaan lahan dan air.”

Budidaya cacing sutera sistem apartemen jadi alternatif usaha di lahan sempit (dok. Puslatluh, BRSDM, KKP)

Tahap budidaya

Tahapan budidayaan cacing sutera dimulai dengan penyiapan lahan dan pembuatan bak penampungan air; pembuatan rak bersusun untuk menempatkan media budidaya menggunakan kerangka besi baja ringan dengan lebar 1 meter, panjang 2 meter, dan tinggi 2,2 meter; pembuatan wadah atau box budidaya dari kayu yang dilapisi dengan plastik UV dengan ukuran 1m x  2m x 0,2 m (tiap rak apartemen terdiri dari wadah atau box sejumlah 5 tingkat).

Penggunaan plastik UV ini sangat penting karena sebagai pelindung dari berbagai macam kotoran atau air hujan dan untuk menjaga kestabilan suhu. Penggunaan plastik UV bisa digantikan dengan jarring paranet.

Selanjutnya adalah pembuatan sirkulasi air menggunakan pipa paralon (air dari penampungan diresirkulasi menggunakan pompa air yang akan bekerja 24 jam); serta pengecekan kualitas air media secara berkala.

Setelah semua tersedia, berikutnya adalah tahapan pemupukan dengan sistem fermentasi dan pemupukan selama 7 hari. Proses ini diawali dengan penebaran benih cacing sutera sebanyak ½ liter per m2 (untuk media budidaya seluas 100 m2 dibutuhkan sebanyak 60 liter).

Kemudian dilakukan pemupukan dengan pemberian pakan hasil fermentasi secara anaerob selama 7 hari (pemberian pakan dilakukan setiap hari sekali dengan jumlah 100 hingga 200 ml per m2). Dalam kurun waktu 2 hingga 2,5 bulan sudah bisa dilakukan panen.

“Kegiatan panen dilakukan pada pagi atau sore hari ketika cacing naik ke permukaan. Panen selanjutnya dapat dilakukan setiap 6 hari sekali,” terang Ibnu.

Menurut Kepala Balai Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan (Bp3, Tegal),  Moch. Muchlisin, usaha budidaya cacing sutra memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Selain tak banyak menelan biaya dalam proses budidayanya, kebutuhan pasarnya juga sangat tinggi.

Cacing sutera banyak dicari sebagai pakan pada proses perbenihan ikan air tawar terutama ikan lele dan untuk ikan hias. Harga di pasaran saat ini juga masih bagus. Yatu berkisar antara Rp40.000 – Rp60.000 per liter di tingkat petani pembudidaya.

Solusi pakan budidaya lele

Sumarjoko, Ketua Pokdakan Mina Taruna, Banjarharjo, Kalibawang mengaku sangat merasakan manfaat dari budidaya cacing sutera ini. Dulu ia mengaku kelompoknya sangat kesulitan memenuhi kebutuhan pakan cacing sutera untuk pembenihan lele di desanya.

Bahkan, karena sulitnya mendapatkan pasokan cacing sutera, usaha mereka sempat vakum. Lewat kegiatan penyuluhan yang diberikan oleh dinas, kelompoknya lalu mulai membudidayakan cacing sutera sendiri dengan sistem apartemen.

“Sekarang kami mau mengembangkan secara berkelanjutan. Mudah-mudahan dengan bantuan sarana prasarana tersebut kami bisa mengelola dan juga mengembangkan usaha kami,” kata Sumarjoko.