Budaya Bahari Syarat Utama Wujudkan Negara Maritim

0
181
Foto Ilustrasi: Kegiatan Saka Bahari di laut.

Jakarta (Samudranesia) – Pembangunan karakter bahari merupakan hal terpenting dalam upaya menuju negara maritim. Maka dari itu, peran tenaga pendidik kemaritiman menjadi vital dalam melahirkan generasi bangsa yang memiliki budaya bahari.

Terkait itu, Dosen Universitas Pertahanan (Unhan) Laksda TNI (Purn) Dr Surya Wiranto menyatakan visi Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam menjadikan Indonesia sebagai Poros Maritim Dunia tidak lepas dari pembangunan budaya bahari.

“Jika Indonesia ingin menjadi negara maritim maka kita harus membangkitkan budaya bahari masa lalu dan membangunnya menjadi budaya bahari masa kini atau budaya modern yang sarat dengan teknologi. Baik teknologi mekanik, teknologi hidrolik, dan teknologi digital,” ujar Surya dalam webinar bertajuk “Optimalisasi Profesionalisme Tenaga Pendidik Kemaritiman Untuk Menanamkan Karakter Kebaharian di Era Pandemi Covid-19 Dalam Rangka Menuju Indonesia Maju”, Selasa (12/1).

Surya menambahkan dalam membangun karakter bahari ada 3 hal penting terkait pemahaman yang harus diketahui oleh generasi bangsa, yakni pengertian kelautan, kemaritiman dan kebaharian.

Mengutip Departemen Pendidikan Indonesia, Surya menyatakan definisi kelautan adalah kumpulan air asin (dalam jumlah yang banyak dan luas) yang menggenangi

dan membagi daratan atas benua atau pulau; perihal yang berhubungan dengan laut.

“Jadi kelautan adalah hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan di wilayah laut yang meliputi permukaan laut, kolom air, dasar laut dan tanah di bawahnya, landas kontinen termasuk sumber kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, pesisir, pantai, pulau kecil, serta ruang udara di atasnya,” terang dia.

Sedangkan maritim, menurut mantan Kadispotmar ini ialah sesuatu yang berkenaan dengan laut yang berhubungan dengan pelayaran dan perdagangan laut, sehingga kemaritiman adalah hal-hal yang menyangkut masalah maritim.

“Di sini saya menarik pengertian jika kemaritiman adalah bagian dari kegiatan di laut yang mengacu pada pelayaran/pengangkutan laut, perdagangan (sea-borne trade), navigasi, keselamatan pelayaran, kapal, pengawakan, pencemaran laut, wisata laut, kepelabuhanan baik nasional maupun internasional, industri dan jasa- jasa maritim,” jelasnya.

Sementara itu, pengertian kebaharian menurut mantan Wadanseskoal ini ialaha berkaitan dengan orang-orang yang memiliki profesi berkaitan dengan laut.

“Jadi dapat dikatakan bahari lebih kepada pelaku atau orang-orang yang beraktivitas di laut atau kehidupan masyarakat yang memiliki profesi sebagai pelaut dan memenuhi kebutuhan hidupnya dengan beraktivitas di laut di masa lalu,” ungkapnya.

Surya yang aktif juga di Persatuan Purnawirawan TNI AL (PPAL) ini menjelaskan bahwa budaya bahari itu budaya yang terjadi saat aktivitas kemaritiman atau kelautan berlangsung. Sambung dia, seharunya bangsa Indonesia memiliki budaya bahari yang tinggi.

Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia, laut menghubungkan sekitar 17.580 pulau-pulaunya. Maka, seharusnya budaya bahari mengakar kuat di setiap manusia Indonesia,” tegas dia.

Masih kata Surya, budaya bahari lahir dari hasil interaksi antara bangsa Indonesia dengan bentang alam laut dan pulau-pulau besar dan kecil yang tersebar membentuk kepulauan Indonesia.

“Budaya bahari membentuk karakter manusianya menjadi berorientasi maritim. Hukum menjadi dan memberikan arah serta tujuan terhadap kegiatan pembangunan yang dilakukan. Budaya bahari dan hukum menjadi dasar dari penentu arah kebijakan,” paparnya.

Dia meyakini bahwa penanaman budaya hanya bisa dilakukan dengan pendidikan baik formal maupun non formal. Hal itu seharusnya dilakukan kepada generasi bangsa Indonesia sejak usia dini.

“Peningkatan kapasitas sumber daya manusia terkait dengan wawasan budaya bahari di Indonesia, maka harus dipersiapkan dari sejak usia dini. Jalur yang paling strategis untuk melakukannya yakni melalui jalur pendidikan,” bebernya.

Budaya bahari sendiri berkaitan erat dengan perilaku manusia atau suatu bangsa terhadap laut. Perilaku itu juga berkaitan dengan ekonomi serta pola kehidupan sosialnya.

Surya menambahkan bahwa budaya bahari mengandung unsur-unsur seperti pengetahuan, kepercayaan, nilai, norma, aturan, simbol komunikatif, kelembagaan, teknologi dan seni.

“Pendidikan budaya bahari dapat dikembangkan dalam 4 model yakni kontekstualisasi atau warna mata pelajaran, pengayaan atau integrasi dengan mata pelajaran, ekstrakulikuler dan budaya sekolah serta mata pelajaran sendiri,” tandasnya.

Webinar yang diselenggarakan oleh Yayasan Hang Tuah itu dibuka oleh Ketua Pembina Ny Vero Yudo Margono. Diskusi tersebut juga menghadirkan berbagai narasumber antara lain Deputi Bidang Sumber Daya Maritim Kemenko Marves, Dr Safri Burhanuddin; Kaprodi S2 Pendidikan Geografi Pasca Sarjana Unesa, Dr Nugroho Hadi Purnomo; dan Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, Maman Fathurohman. (*)