‘Blusukan’ Membangun Masyarakat Pulau Mupuruka

0
252
Sambutan masyarakat Mupuruka menyertai kedatangan Sulaksono di Pulau Mupuruka.

Mimika (Samudranesia) – Pulau Mupuruka yang terletak di perairan Mimika, Papua – memiliki potensi terpendam berupa kekayaan alamnya yang melimpah. Pulau yang tak asing di telinga Sulaksono, namun urung menginjakan di sana – menjadi hasrat kuat bagi pengusaha muda ini untuk melancong ke pulau yang dikenal sebagai ‘Surga Udang’ tersebut.

Pria berdarah Jawa Tengah kelahiran Biak 39 tahun silam ini mebulatkan tekadnya untuk menyambangi pulau tersebut pada Sabtu (21/8). Bertolak dari Pelabuhan Poumako, Mimika, ia bersama rombongan menaiki kapal fiber berukuran sedang di bawah panasnya terik mentari.

Langkahnya tak surut meski ia tak tahu besarnya gelombang yang akan menghadangnya. Tekadnya bulat tatkala suasana itu tak lajim dalam hidupnya. Keringat yang mengucur deras di dahi turun membasahi kemeja putihnya. Dahaga bercampur gelombang mengiringi kepergiannya ke Mupuruka.

Namun segala aral itu tidak dihiraukan Nono – biasa disapa – demi niatnya untuk mengenal masyarakat Mupuruka yang sering didengarnya serba kekurangan. Terik sang surya agak mereda tatkala kapal yang dinaikinya masuk ke mulut sungai yang diapit oleh rimbunnya hutan bakau di sisinya.

Kapal yang membawa pria bertubuh tambun tersebut akhirnya tiba di jembatan penghubung antara sungai dan pemukiman warga tepat pukul 5 sore waktu setempat. Sengat matahari mulai hilang, perlahan menuju peraduan, menyisakan senja kemerahan yang indah mengiringi pemukiman masyarakat Mupuruka.

Sulaksono (kanan) tengah bermusyawarah dengan masyarakat Mupuruka di rumah kepala desa.

Kehangatan lain datang dari masyarakat yang melihat sosok bersahaja tersebut. Mereka melangkah tegap melewati jembatan yang agak reyot dan tiang jembatan yang sudah mulai bergoyang.  

Mulai dari anak kecil sampai orang tua dengan sigap membantu membawa semua barang bawaan Nono dan tim. Spontan, mama-mama (sebutan untuk ibu-ibu di desa tersebut) menyuguhkan tarian khas masyarakat lokal, sebagai pengganti ucapan selamat datang baik dari tokoh adat dan masyarakat.

Sambutan mendadak yang berkesan, kesederhanaan namun sangat bermakna karena kehadiran Nono dan tim di Mupuruka yang sifatnya blusukan, tanpa konfirmasi sebelumnya. Mereka pun dibuat kaget seraya bertanya dalam hati ada apa gerangan datang ke sini?

Masyarakat berbagi tugas, ada yang membawa barang berjalan dan ada pula yang menari tetap menyambut dengan tarian. Sementara jumlah masyarakat yang turun makin banyak dan membludak. Sambutan yang luar biasa, suara riuh dari warga yang melihat hadirnya tamu, membuat Nono dan tim merasa tersangjung. Tak menyangka ada sambutan spontan yang sekeren itu.

”Sambutan yang luar biasa, meski mereka belum tahu siapa kita. Siapa pun tamu yang datang dihormati dan disambut sebegitu hangat dengan tarian sederhana, tapi saya sangat berkesan dan saya merasa tersanjung, dan bangga disambut begitu,’’ ujar bungsu dari tiga bersaudara itu.

Wajah lelah selama dalam perjalanan sirna tatkala Nono mengikuti gerakan tarian simple yang dipertontonkan oleh masyarakat, riuh suara gembira dari gerbang selamat datang diarak sampai rumah kepala desa. Sebelum dipersilakan untuk masuk di rumah panggung yang menjadi ciri rumah rumah di desa tersebut, Nono dan tim diajak kembali menari seraya berlari kecil, berputar sebanyak tiga kali di depan rumah kepala desa.

Setelah puas ikut dalam kegembiraan masyarakat, Nono dan tim pun dipersilakan duduk di kursi yang dipersiapkan seketika itu juga. Seraya berkenalan dengan sekretaris desa, keluarga kepala desa dan perangkat desa lainnya, karena kepala desa setempat baru wafat 38 hari yang lalu.

Malam hari, masyarakat kembali berkumpul untuk berkenalan lebih dekat, apa maksud dan tujuan sang tamu menyambangi desa yang berada di tengah belantara tersebut. Dengan santun Nono menjabarkan keinginannya untuk maju bersama masyarakat, menggali potensi sumber daya alam alam laut Mupuruka, untuk kesejahteraan bersama.

“Kami datang untuk bekerja bareng. Bapak dan ibu di sisi hulu, kami mencoba dari hilirnya,” ucap pria mudah senyum itu.

Setelah memberikan penjelasan panjang lebar, masyarakat pun sepakat mau dibina untuk tumbuh bersama, pertemuan singkat yang begitu akrab dan bisa saling memahami. Semoga berjalan seperti yang diharapkan, untuk memberikan kehidupan yang lebih layak di Mupuruka seperti cita-cita mulia dari seorang Nono.

Dia juga dengan sabar mendengarkan berbagai keluhan masyarakat setempat yang mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Mulai dari kesulitan mendapat bahan bakarnya, mahalnya es batu, dan rendanya harga tangkapan mereka.

Seakan jantung berdenyut kencang merasakan penderitaan mereka. Setelah urun rembuk satu sama lain, kerja sama pun terjalin. Peningkatan ekonomi masyarakat di wilayah lumbung udang di ujung Barat Mimika ini menjadi muara yang diharapkan dari kerja sama tersebut.

Masyarakat nelayan Pulau Mupuruka

Sebelum kembali ke Timika, pada kesempatan itu Nono dan tim menjajal jaring yang dibagikan ke nelayan. Alhasil, mengejutkan, udang dengan ukuran yang dibutuhkan terjaring, Nono pun tersenyum bahagia, karena apa yang ada di benaknya terealisasi di lapangan. Kali ini, Nono dan tim mencoba menjaring menurunkan jaring ketiga kalinya ke laut. Hasil jaring yang hanya uji coba 1 jam, bisa disimpulkan, udang di laut sudah siap panen. 

“Dari ukuran udang sudah saatnya panen, seharusnya udang Mupuruka tidak bergantung musim. Kita pastikan nelayan bisa menangkap terus. Karena ada hutan bakau,” harapnya penuh optimistis.

Selepas makan siang, Nono dan tim berpamitan pulang. Mereka diantar oleh tokoh masyarakat hingga dilepas pulang sampai dermaga. Air mata bahagia melepas kepulangan, seraya berharap segera kembali untuk merealisasikan semua program yang sudah dibahas dan direncanakan dengan masyarakat. (*)

*Catatan perjalanan Jurnalis Maritim Senior Nelly Marinda Situmorang di Mimika, Papua