Biorock, Pendorong Karang

0
443

Perlu sekitar 12 tahun untuk memulihkan kondisi terumbu karang dengan Biorock di Teluk Pemuteran di Desa Pemuteran, Kabupaten Buleleng, Bali. Waktu yang relatif singkat mengingat laju pertumbuhan karang yang hanya beberapa sentimeter per tahun.

“Lebih dari dua hektare wilayah laut yang terumbu karangnya dikembangkan dengan metode Biorock,” kata I Gusti Agung Prana, pendiri Yayasan Karang Lestari.

Biorock menjadi terobosan baru di bidang konservasi terumbu karang di dunia. Metode ini dikembangkan oleh Wolf Hilbertz, arsitek bawah air dan ahli kelautan dari Jerman, dan Thomas Goreau, ahli ekologi terumbu karang dari Amerika Serikat. Metode Biorock mampu mempercepat laju pertumbuhan karang hingga enam kali dari kondisi normal.

Prinsip dasarnya adalah proses elektrodeposisi mineral dalam air laut yang dikenal sebagai teknologi akresi mineral. Hilbertz dan Goreau menemukan bahwa dengan mengalirkan arus listrik bertegangan rendah melalui air laut akan menyebabkan kalsium karbonat mengkristal dan membentuk substrat keras pada kutub katoda. Sumber listrik bisa berasal dari kincir angin, sel tenaga surya, dan generator arus pasang surut.

Mereka kemudian membuat rangka besi beragam ukuran dan bentuk sebagai struktur dasar tempat pertumbuhan karang. Puluhan potongan kecil karang berbagai jenis diikatkan pada rangka besi untuk ditumbuhkan. Rangka besi selanjutnya ditenggelamkan ke dasar laut dan dialiri listrik. Substrat yang terbentuk menjadi tempat hidup sekaligus sumber makanan bagi organisme karang sehingga bisa tumbuh lebih cepat.

Saat ini ada 66 struktur terumbu karang berbagai bentuk. Ada yang piramida, bola dunia, perahu, dan semuanya menjadi rumah ikan. Jumlah ini akan terus bertambah seiring gencarnya program adopsi terumbu karang yang diinisiasi yayasan yang dibentuknya.

Biorock bukanlah metode baru untuk merehabilitasi terumbu karang. Proyek percontohan Biorock telah digagas oleh Hilbertz sejak 1974. Pada 1988, Hilbertz mulai bekerja sama dengan Goreau dalam penelitian dan pengembangan Biorock yang berfokus pada propagasi, pelestarian, dan restorasi terumbu karang.

Metode ini sangat tepat untuk memulihkan terumbu karang yang rusak parah. Struktur akresi mineral dengan cepat menarik perhatian berbagai macam organisme karang, gurita, kepiting, lobster, kerang, dan bulu babi.

Karang yang sehat memicu migrasi ikan-ikan dari laut dalam untuk mendekat. Kedatangan ikan-ikan kecil ini akan diikuti pemangsanya yang berukuran lebih besar. Termasuk lumba-lumba.

Saat ini ada lebih dari 20 proyek Biorock di seluruh dunia, seperti di Filipina, Maladewa, Vietnam, dan beberapa negara di Amerika Selatan. Namun yang terbesar dan paling berhasil adalah di Pemuteran. “Karena di negara lain tidak melibatkan masyarakat setempat untuk menjaga dan merawatnya,” ujar Agung.

Sanny MK