Berikut 5 Nama Sosok ‘Ibu’ dalam Pembangunan Maritim Indonesia Saat Ini

0
1313
ilustrasi pixabay

Setiap tanggal 22 Desember, bangsa Indonesia memperingati Hari Ibu guna mengenang peristiwa bersejarah yakni adanya kongres para ibu/wanita usai kongres Pemuda II tanggal 28 Oktober 1928. Para ibu/wanita dalam kongres 22 Desember 1928 tersebut, juga berikrar yang sama terhadap isi Sumpah Pemuda yang menandakan lahirnya sebuah bangsa bernama Indonesia.

Peranan para wanita atau para ibu dalam sejarah perjuangan bangsa menenpati posisi yang istimewa. Dari era Laksamana Malahayati, Cut Nyak Dien, Ratu Kalinyamat hingga RA Kartini, wanita Indonesia selalu memberikan sumbangsih yang luar biasa bagi perjuangan meraih kemerdekaan.

Bahkan hanya kata ‘ibu’ yang terdapat dalam lirik lagu ‘Indonesia Raya’, yang menggambarkan makna tanah air atau tanah tumpah darah. Sehingga istilah Ibu Pertiwi pun melekat untuk mrepresentasikan sebagai ibu bersama yang menumpahkan darah kala melahirkan sang cabang bayi.

Dalam rangka mengisi kemerdekaan saat ini, khususnya dalam upaya mewujudkan Indonesia sebagai negara maritim, banyak kalangan ibu yang memiliki pengaruh atau karya luar biasa. Majalah Samudra mencatat 5 nama wanita yang berpengaruh dalam upaya membangun kemaritiman Indonesia saat ini.

5 nama versi Majalah Samudra itu merupakan suatu apresiasi terhadap para wanita saat ini yang mendermakan hidupnya dalam kemajuan maritim Indonesia. Hal tersebut berdasarkan gagasan, ide, karya atau profesi yang tengah digelutinya, yang semuanya berkaitan dengan sektor kemaritiman.

Tentu di luar 5 nama ini terdapat jutaan wanita Indonesia yang sudah berkontribusi tinggi dalam perwujudan visi Poros Maritim Dunia, namun tak dapat kami sebutkan satu per satu. Berikut 5 nama sosok ‘Ibu’ dalam pembangunan maritim Indonesia saat ini.

  1. Laksda TNI Anumerta Christina Rantetana
Laksda TNI Anumerta Christina Rantetana

Wanita kelahiran Toraja, 24 Juli 1955 ini sangat dikenang dalam kemajuan dunia bahari Indonesia. Wanita yang dikenal tegas dan memiliki jiwa pendidik ini merupakan penyandang Laksamana Muda (Bintang Dua) pertama di ASEAN. Ditempa di TNI AL, membuat dirinya memiliki wawasan serta kepedulian yang tinggi terhadap penanaman karakter maritim, khususnya bagi generasi muda.

Setelah pensiun dari matra yang bermotto Jalesveva Jayamahe, Christina aktif di Dewan Kelauatan Indonesia (Dekin), sempat menjadi Anggota MPR/DPR RI Fraksi ABRI pada tahun 1997–2004, dan aktif di Yayasan Dharma Ayu Bahari (YDAB). Yayasan ini kemudian menjadi penyelenggara pemilihan putra-putri bahari setiap tahunnya.

Christina adalah perempuan pertama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) yang pernah mengikuti pendidikan Sekolah Staf dan Komando (Sesko) di luar negeri. Ia pernah mengikuti pendidikan Sesko di Royal Australian Naval Staff Course, Sydney, Australia.

Dedikasi terakhirnya kepada bangsa dan negara ialah ketika memperjuangkan mati-matian agar Dewan Kelautan Indonesia (Dekin) tidak dibubarkan pada tahun 2016 silam. Namun, pada 31 Juli 2016, Tuhan YME telah memanggilnya terlebih dahulu. Karya dan sumbangsihnya dalam memajukan maritim Indonesia terus terkenang dalam peristirahatan terakhirnya.

  1. Susi Pudjiastuti
Menteri KP Susi Pudjiastuti

Sosok wanita yang menjadi ikon Kabinet Indonesia Hebat ini tentu akan terkenang sepanjang masa. Bu Susi, biasa akrab disapa, bisa dibilang sebagai tokoh utama dalam memperjuangkan laut menjadi masa depan bangsa saat ini. Dengan prinsip souvereignity, sustainability, dan prosperity yang diembannya, terbukti ampuh menurunkan angka IUU Fishing di perairan yurisdiksi Indonesia.

Sosoknya yang tegas tanpa tedeng aling-aling, serta ucapannya yang menjadi viral di tengah masyarakat ‘Tenggelamkan’ telah menjadi buah bibir untuk menyebut pihak yang tidak setuju terhadap suatu hal. Misalnya, dalam sebuah grup whatsaap, tertulis ‘Siapa yang jarang Komen, akan di-tenggelamkan’.

Wanita asal Pangandaran ini juga disebut-sebut sebagai Laksamana Malahayati ‘Zaman Now’, lantaran pernah menggunakan kerudung saat berkunjung ke Banda Aceh. Publik pun akhirnya menilai ada kemiripan terkait ketegasannya dalam mengamankan laut. Bu Susi bisa disebut juga sebagai ikon visi Presiden, Poros Maritim Dunia.

  1. Carmelita Hartoto
Carmelita Hartoto

Wanita yang akrab disapa Meme ini merupakan Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pelayaran Indonesia (Indonesian National Shipowner’s Association/INSA) periode 2011-2015 dan 2015-2019. Sejak dibentuk pemerintah tahun 1967, untuk pertama kalinya, kepengurusan INSA diketuai perempuan.

Sebagai ketua asosiasi yang sangat berpengaruh dalam berjalannya bisnis pelayaran di tanah air, Meme kerap dimintai pandangannya terkait implementasi azas cabotage dan perwujudan tol laut di Indonesia. Sebagai negara kepulauan terbesar dan memiliki jalur pelayaran yang mendunia (ALKI-red), kiprah INSA begitu besar dalam pembangunan maritim nasional.

Wanita yang aktif di Kadin ini juga kerap mewakili Indonesia di event-event internasional. Kemajuan bisnis maritim dan industri pelayaran menjadi salah satu tolok ukur keberhasilan visi Poros Maritim Dunia. Selama itulah Meme dan INSA memiliki peranan penting dalam proses perwujudan visi luhur tersebut.

  1. Chandra Motik Yusuf
Dr Chandra Motik Yusuf

Wanita yang satu ini merupakan pakar hukum maritim yang sangat berpengaruh di Indonesia. Gagasan dan pandangannya, hingga buku soal pembangunan negara maritim banyak ditorehkan oleh Dr Chandra Motik Yusuf.

Ia merupakan pendiri dari “Chandra Motik Yusuf & Associates” pada tahun 1983 yaitu sebuah perusahaan konsultan yang berfokus pada bidang hukum maritim. Berlokasi di Jakarta,“Chandra Motik Yusuf & Associates” juga pernah menangani berbagai kasus atau permasalahan yang terjadi di lingkungan pemerintahan, legislatif, regulasi, dan urusan yang berkaitan dengan publik.

Mantan ketua ILUNI UI ini sekarang juga menjabat sebagai Dewan Pembina Praktisi Maritim Indonesia (Pramarin). Berbagai penghargaan pun juga diraihnya, salah satunya ialah Women in Maritime 2015 dari Kementerian Perhubungan atas sumbangsih dan dedikasinya dalam upaya memajukan maritim nasional.

ia banyak terlibat di berbagai kegiatan yang berbau maritim seperti seminar, workshop, hingga mengajar hukum laut di Universitas Indonesia. Ia pun pernah aktif di Dewan Maritim Indonesia, termasuk mendirikan pusat kajian bidang kelautan yang diberi nama Chandra Motik Maritim Center.

  1. Susaningtyas NH Kertopati
Susaningtyas NH Kertopati

Perwakilan dari setiap pilar pembangunan maritim Pemerintahan Joko Widodo, tidak lengkap jika kita tidak memasukan pilar pertahanan dan keamanan. Susaningtyas NH Kertopati, yang biasa akrab disapa Nuning ini merupakan pengamat pertahanan dan intelijen yang memiliki concern di bidang pertahanan dan keamanan maritim. Wanita yang juga aktif sebagai pengajar Intelijen Maritim di Prodi Keamanan Maritim, Universitas Pertahanan ini memiliki banyak gagasan terkait pembangunan maritim Indonesia.

Komitmen membangun pertahanan dan keamanan maritim yang tangguh serta mumpuni sudah terlihat sejak saat dirinya menjadi Anggota Komisi I DPR RI. Ia juga aktif menjadi pembicara di berbagai seminar baik di ranah publik maupun di instansi-instansi militer.

Sosoknya yang ramah dan murah senyum ini menjadi salah satu figur wanita di bidang maritim yang sangat berpengaruh dalam upaya mewujudkan Poros Maritim Dunia, khususnya di aspek pertahanan, keamanan dan diplomasi.