Belajar dari Tri Wahyuni, Pengusaha Olahan Lele Beromset Puluhan Juta

0
631

Bagi Tri Wahyuni, keterbatasan modal seharusnya bukan menjadi penghalang seseorang untuk mulai berwirausaha. Sarjana teknik asal Desa Randusari, Kabupaten Boyolali ini sukses mengolah ikan lele menjadi produk makanan yang menghasilkan omset puluhan juta rupiah.

Sejak tahun 90-an, Boyolali sudah terkenal sebagai kota budidaya ikan lele. Di kabupaten yang kental dengan produk susu ini, budidaya ikan lele menjadi salah satu mata pencaharian yang banyak digeluti warganya. Mereka memanfaatkan pekarangan kosong di halaman belakang rumah mereka untuk dijadikan kolam-kolam budidaya.

Salah satu kampung yang terkenal sebagai sentra budidaya ikan lele di Boyolali adalah Desa Tegalrejo. Di desa ini hampir sebagian besar warganya memiliki usaha budidaya ikan lele. “Saat produksi sedang tinggi biasanya ikan lele hasil panen dijual murah,” kata Tri. Bahkan menurutnya saat hasil produksi panen melimpah proses penjualannya pun kadang tidak melalui proses hanya perkiraaan saja. “Tentu banyak sekali kerugiannya.”

Melihat kondisi tersebut, tercetus ide di kepalanya untuk mengolah daging ikan lele untuk dijadikan berbagai macam produk makanan. Ia lalu mencoba peruntungan dengan membuka usaha ikan lele olahan di tahun 2007 dengan nama usaha “Alang-alang Tumbuh Subur”.

Produk Olahan Ikan Lele dari Alang-alang Tumbuh Subur.

“Produk olahan kami saat itu adalah abon lele, keripik lele, camilan dari sirip lele (crispy fin),” kata Tri. Sebagai orang yang tak ahli dalam memasak, Tri mengaku banyak sekali tantangan yang ia hadapi dalam memulai bisnisnya.

“Tantangannya adalah bagaimana mengolah ikan lele menjadi produk makanan tidak berbau amis dan digemari oleh konsumen,” jelas Tri. Berbagai eksperimen produk dan rasa pun ia lakukan. “Yang jadi ‘korban’ untuk mencoba produk yang kita buat adalah keluarga dan tetangga terdekat.”

Tekad dan keinginan untuk terbebas dari status karyawan membuat Tri tak pupus semangat untuk berwirausaha. Dalam beberapa tahun berikutnya ia mulai stabil memproduksi produk makanan olahan ikan lelenya. Volume produksinya semakin meningkat. Kini volume produksinya sudah mencapai 700-800 kilogram per bulan dengan omset yang mencapai hingga Rp 70 juta per bulan.

Tri Wahyuni dalam sebuah wawancara bersama Tim Puslatluh, BRSDM, KKP

Prinsipnya Berbisnis

Jalan sukses yang sekarang sedang ditapaki Tri merupakan proses panjang. Ia mengakui jika awal-awal dalam menjalankan bisnisnya tersebut bayang-bayang kegagalan selalu. “Bisa dikatakan saat itu kita hanya modal nekat dalam menjalankan bisnis ini,” jelasnya. Dengan dukungan penuh dari suami, Tri memupuk semangat untuk meneruskan bisnis yang sudah dimulainya tersebut.

“Masalah terbesar mereka yang ingin menjadi wirausaha adalah enggan untuk memulainya karena mungkin terlalu banyak pertimbangan,” katanya. Ia bercerita, saat memulai usaha dirinya tak terlalu muluk-muluk. “Saya memanfaatkan peralatan yang sudah kita miliki di dapur untuk digunakan sebagai proses produksi.”

Menurutnya, bisnis yang sudah dimulai pasti akan menemukan jalannya sendiri.

“Yang pasti, saya tetap memiliki rencana dan target bahwa dalam enam bulan ke depan, misalnya, produksi saya harus meningkat,” katanya.

Hal berikutnya yang juga menjadi tantangan, kata Tri, adalah terkait permodalan. “Saya yakin beberapa pebisnis pernah merasakan jika dalam jangka 10 tahun bisnisnya berkembang namun seiring dengan itu biasanya utangnya juga membengkak,” katanya.

Menurutnya, banyak pebisnis pemula yang kemudian malah jatuh dalam belitan utang karena sebenarnya mereka belum siap untuk mengelola besaran dana pinjaman yang mereka terima. “jadi memangyang terbaik adalam kita harus mampu mengukur kemampuan kita dalam mengelola keuangan bisnis,” jelasnya.

Tantangan-tantangan tersebut, kata Tri, seharus semakin memotivasi bukan malah memperburuk semangat dalam berbisnis. “Yakin saja jika apa yangkita jalani akan membuahkan hasil selama kita tetap konsisten menjalankannya dengan baik dan banyak belajar dari kesalahan,” jelasnya.

Kesuksesan yang kini diraihnya lantas tak membuat Tri lupa daratan. Di tempat usahanya ia membuka pelatihan pengolahan ikan lele untuk warga sekitar. Ia juag kerap menerima tenaga kerja magang yang menduplikasi kesuksesannya berbisnis.

Alang-alang Tumbuh Subur kini menjadi Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP), sebuah  training centre khusus pengembangan usaha mikro kecil menengah sektor kelautan dan perikanan yang digagas oleh Pusat Penyuluhan dan Pelatihan Kelautan dan Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia, Kementerian Kelautan dan Perikanan.