Banjir Malaysia Memicu Kenaikan Harga Ikan dan Sayur di Singapura

0
118
ilustrasi banjir (pixabay.com)

Internasional (Samudranesia) – Harga-harga ikan dan sayurmayur di pasar-pasar tradisional di Singapura naik dua kali lipat beberapa hari ini. Seperti dilaporkan Straits Times, kenaikan harga tersebut dipicu oleh kondisi cuaca buruk yang terjadi di Malaysia. Beberapa hari ini Malaysia memang terus dilanda hujan. Intensitas hujan yang tinggi tersebut rupanya telah menyebab di beberapa wilayah yang menjadi pemasok kebutuhan ikan dan sayuran di pasar tradisional Singapura.

“Hujan yang terus menerus menyebabkan pengiriman pasokan terhambat,” kata Alex Zhou, salah satu pedagang sayuran di pasar Pasir Ris Drive 6, Singapura, kepada wartawan Straits Times. “Kita kehilangan banyak pasokan karena banjir, sayuran seperti bayam mudah membusuk terkena air.”

Di Pasir Ris and Ghim Moh Market & Food Centre, harga untuk tomat naik dari $2 per kilogram menjadi  $3 per kilogram. Seorang pedagang lainnya di  Pasir Ris  bercerita jika ongkos distribusi sayuran dari Malaysia naik dari $10 per 10kg menjadi  $32 per 10kg.

Sementara menurut Goh Thiam Chwee, ketua asosiasi pedagang ikan di Singapura (the Singapore Fish Merchants’ General Association) mengatakan bahwa harga beberapa jenis ikan seperti Chinese pomfret dan kakap merah (red snapper) mengalami kenaikan hingga 20 persen. Bahkan menjelang perayaan tahun baru imlek harga diyakini bisa naik hingga 30 persen.

“Setiap tahun ketika terjadi musim monsoon, harga-harga ikan selalu naik karena kondisi perairan yang buruk yang dilayari, namun untuk produk ikan ini kenaikannya tidak terlalu tinggi,” kata Goh. Menurutnya, dengan kondisi banjir yang melanda Malaysia, para pedagang bisa mendapatkan pasokan dari negara lainnya.

Sedikitnya enam orang dinyatakan tewas dan hampir 50.000 lainnya dievakuasi di Malaysia setelah hujan dengan intensitas tinggi terus melanda pantai timur negara itu. Bahkan kejadian banjir di Malaysia pada permulaan tahun 2021 ini disebut yang terburuk yang dialami Malaysia dalam setengah abad terakhir.

AFP, Sabtu (9/1/2020) memberitakan  pihak berwenang telah meningkatkan operasi penyelamatan setelah penduduk setempat mengeluh bahwa mereka harus menjaga diri sendiri awal pekan ini. Akibat banjir diperkirakan lebih dari 47.000 warga telah meninggalkan rumahnya.