Asa Garam dari Bumi Serambi Mekah

0
437
Usaha garam rakyat di Pidie Jaya.

Aceh (Samudranesia) – Baru-baru ini, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memberikan bantuan modal serta peralatan kepada petambak garam di Aceh. Hal itu mengingat Provinsi dengan julukan Bumi Serambi Mekah ini menjadi salah satu daerah penghasil garam terbesar di Indonesia.

Samudranesia memiliki catatan singkat mengenai ulasan garam Aceh khususnya di Kabupaten Pidie Jaya. Dalam liputan khusus di awal tahun 2019, tim Samudranesia melihat langung bagaimana usaha garam rakyat dilakukan di sana.

Tak luput dari ingatan kita, bencana tsunami serta konflik berkepanjangan yang melanda pada dua dekade lalu. Bumi Serambi Mekah itu tetap lestari dalam guratan tinta emas kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam di masa lampau.

Baca Juga: PTAL, Teknologi untuk Tingkatkan Produksi Garam Madura

Perlahan-lahan, daerah ini bangkit menjadi sumbu kekuatan ekonomi Indonesia di bagian barat. Sektor pariwisata, sumber daya alam serta kebudayaanya, menjadikan Aceh sebagai prototype pembangunan peradaban bahari Indonesia.

Di tengah hiruk pikuk ramainya pemberitaan soal impor garam, ternyata daerah yang juga dikenal sebagai Tanah Rencong ini menyimpan potensi budidaya garam yang luar biasa. Kabupaten Pidie Jaya menjadi salah satu daerah yang di-plot sebagai sentra garam nasional oleh KKP melalaui program Pemberdayaan Usaha Garam Rakyat (PUGar).

Menempuh waktu sekitar 3 jam perjalanan darat dari Ibukota Banda Aceh, Pidie Jaya dengan pusat kotanya di Meureudu, membentang tambak garam rakyat di sepanjang garis pantainya. Kegiatan budidaya garam sudah dikenal oleh masyarakat Pidie Jaya sejak lama, sehingga masyarakatnya pun sudah tak asing lagi dengan serbuk asin tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Pidie Jaya (waktu itu) Ir Kamaluddin menuturkan garis pantai Pidie Jaya sepanjang 38,8 km ini hampir seluruhnya berpotensi menjadi tambak garam. Atas anugrah alam tersebut, terbesit dalam benaknya untuk menjadikan usaha garam sebagai sumber kemakmuran masyarakat Pidie Jaya.

Berbagai upaya telah dilakukannya termasuk pembudidayaan dengan bantuan teknologi yang mutakhir. Hingga proposal ke KKP pun dilayangkannya guna menopang usaha garam rakyat ini. Hasratnya ingin menjadikan daerahnya sebagai penyuplai garam untuk wilayah sekitarnya terus ia genjot bersama jajaran di kedinasan.

Baca Juga: Faisal Basri Sebut Banyak Politisi ‘Kejar’ Rente Impor Garam

“Ketika itu kita bawa proposal ke Jakarta tahun 2016, ke PRL (Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut-KKP). Belum ada respon ketika itu. Rupanya PRL masih fokus di Jawa, yakni Madura, Cirebon, Pati dan lainnya. Alasannya juga nggak salah karena di sana itu perbedaan iklim antara musim kemarau dan hujan itu tegas sekali. Kalau dikatakan 6 bulan hujan, benar 6 bulan hujan, 6 bulan kemarau ya kemarau. Beda dengan di Aceh, Pidie Jaya khususnya, musim kemarau masih hujan, yang membuat produksi garam di Pidie Jaya itu akan terhambat,” ucap Kamal biasa disapa saat ditemui di kantor DKP Pidie Jaya, Jumat (8/3/19).  

Baru pada tahun 2018, proposal itu direspon oleh Ditjen PRL, yang kemudian mengalirlah berbagai bantuan seperti pembangunan lahan integrasi. Tak tanggung-tanggung 36 hektar lahan integrasi dan 1 unit gudang garam ukuran 2000 ton dibangun di Pidie Jaya. Alhasil, upaya tersebut berdampak baik bagi produksi garam di sana. Di usianya yang sudah di atas 60 tahun, di ambang masa pensiunnya, Kamal ingin memberikan ‘oleh-oleh’ kepada masyarakat di daerahnya berupa kesejahteraan lewat usaha garam. Bahkan saat ini, lahan integrasi itu bertambah sebanyak 158 hektar di Pidie Jaya sehingga totalnya menjadi 194 hektar.

“Jadi kembali kerja keras teman-teman, kebersamaan kerja ini dinilai oleh KKP bahwa kita bisa, maka tahun ini diberikan kesempatan luar biasa,” ungkapnya bahagia.

Kamal yang gemar bercanda itu, bercerita suka dukanya dalam membangun usaha garam itu. Sorot matanya yang penuh keyakinan memancar sebuah harapan kepada petani garam Pidie Jaya, tentang cerahnya usaha ini. Meski mengaku sulit dengan berbagai kendala yang dihadapinya, namun dia bersama jajarannya tetap tegar dan melakoni pemberdayaan ini dengan hati.

“Alhamdulillah dengan bimbingan teman-teman dari KKP, kita bisa selesaikan tepat waktu dengan tidak ada kekurangan. Kenapa saya katakan tidak ada kekurangan, karena yang menilai itu BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), bukan kita. Jadi dari BPK itu tidak ada catatan, tidak ada temuan apa-apa,” ucapnya.

Cuaca yang tak Menentu

Ditekankan oleh Kamal bahwa kendala utama pembudidayaan garam di Bumi Serambi Mekah, khususnya di Pidie Jaya ialah soal cuaca yang tak menentu. Kadang sehari panas, sehari hujan. Saat hujan, garam pun akhirnya tak jadi. Namun dia pun tak patah arang. Dirinya tetap berupaya keras agar garam tetap bisa produksi walaupun hujan sekalipun.

“Cuma meratakan plastik geomembran kita ambil air laut di mana saja ternyata jadi garam. Baru sekitar 10 ton produksinya, kebetulan selebihnya sedang panen tapi hujan, akhirnya hilang lagi. Nah itu persoalan di kita. Makannya masalah besar ialah cuaca yang tidak menentu, cuaca yang tidak mendukung produksi kita. Kalau yang lain semua mendukung,” ujar Kamal.

Dia pun mengajak kami untuk melihat lokasi tambak garam di Kecamatan Bandar Baru. Di sana terdapat banyak tambak dengan menggunakan geomembran. Serta beberapa budidaya garam yang menggunakan tunnel (penutup). Dengan adanya tunnel itu, dia yakin produksi semakin meningkat karena tidak terkendala dengan cuaca. Meskipun hujan, air laut yang diendap selama 15 hari dan tetap akan menjadi garam.

“Jadi itu harapan saya setelah ada tanel itu kami bisa produksi sepanjang tahun. Tunnel yang merupakan bantuan KKP melalui provinsi bikin panen terus dia,” ungkapnya.

Luas lahan payau di Pidie Jaya yang mencapai 2.087 hektare tersebar di 7 kecamatan. Memang 50 persen lebih berada di Kecamatan Bandar Baru. Hampir serluruh usaha tambak garam itu memiliki kendala yang sama soal cuaca. Harapannya, KKP terus memperhatikan keluh kesah petani garam di Pidie Jaya dengan berbagai kesulitannya. Kamal menjamin jika bantuan berupa tunnel dan geomembran dalam jumlah yang besar, otomatis produksi garam akan melimpah.

“Saya pensiun itu harus ada oleh-oleh, yaitu garam. Kita buat Pidie Jaya ini asin. Kita punya lahan integrasi, kalau kita lihat tunnel di Cirebon itu produksi per hektar per tahunnya itu bisa mencapai 350 ribu ton. Jadi mencukupi lah, belum lagi tahun ini, kalau dikasih geomembran jadi luar biasa memang,” harap dia.

Kebutuhan garam national yang mencapai 5 juta ton per tahun, paling tidak Pidie Jaya mampu menyuplai kebutuhan Sumatera Utara dan sekitarnya yang ditaksir mencapai 780 ribu ton per tahun. Jika 1 hektare lahan mampu memproduksi 350 ribu ton per tahun maka jika ada 194 hektare lahan dengan geomembran dan tanel, maka produksinya bisa mencapai 67.900.000 ton per tahun. Praktis dengan jumlah sebesar itu memungkinkan Indonesia menjadi negara swasembada garam bahkan pengekspor garam.

Namun untuk mencapai ke arah sana tentunya butuh tahapan serta kerja keras yang konkret dari seluruh stakeholder. Dengan rendah hati, Kamal menyatakan keberhasilan Pidie Jaya dalam produksi garam tidak lepas dari dukungan semua pihak termasuk masyarakatnya sendiri. Sebagai orang yang berpengalaman di bidang ini, Kamal mengaku sangat diperhatikan baik oleh Bupati maupun para anggota DPRD.

Melawan Karakter Masyarakat

Selain faktor cuaca, kendala utama yang dihadapi olehnya ialah karakter masyarakat itu sendiri. Terlepas dari usaha pembudidayaan garam yang berhasil di beberapa titik, namun masih ada sebagian besar masyarakat yang masih menggunakan cara-cara lama alias tradsional. Memang benar para generasi pendahulu Pidie Jaya telah mengenal usaha pembuatan garam. Namun hingga saat ini metode pembuatan garam itu masih dipertahankan oleh generasi sekarang.

“Cerita sedikit seblum masuk ke geomembran. Inikan walaupun sederhana tapi teknologi sudah agak bagus. Dulu sebelum ada program PRL, di Pidie Jaya itu ada lokasi tempat produksi garam, namanya Lancang. Nah seperti apa produksi garam tradisional itu? Yang pertama pekerjaannya pagi-pagi, mereka garuk-garuk pasir kemudian dijemur. Sorenya ba’da Asar itu dikumpulin pasirnya. Dikumpulin kemudian naikan, tiriskan airnya. Airnya ini dimasak 24 jam. Itu produksinya per hari paling tinggi cuma 15 kg,” bebernya.

Menurut dia, metode itu betul-betul tidak efisien. Kerjanya lebih keras hasilnya hanya sedikit sehingga uang diperolehnya pun sedikit. Harga garam di Pidie Jaya rata-rata berkisar antara Rp 4-10 ribu per kg. Harga menjadi tinggi, biasanya terjadi di musim hujan.

Cara ‘garuk-garuk’ ini, sambung Kamal merupakan metode turun temurun dari para orang tua mereka. Akhirnya metode ini pun turut menurunkan kemiskinan dari orang tua ke anak-anaknya dan terus berlanjut hingga generasi-generasi berikutnya. Bersama Kamal, kami pun berkesempatan melihat proses kerja metode tradisional tersebut.

Sungguh memprihatinkan, dengan lamanya waktu produksi serta jumlah yang dihasilkan sedikit, membuat para keluarga petani garam tradisional ini kian miris.

“Jadi pendapatan keluarga per hari itu cuma Rp 40-60 ribu. Bayangkan dengan 3 anak dengan tambah bapak ibu, gimana orang bisa hidup? Bisa sekolahkan anak segala macamnya? Tugas DKP apa ketika itu? Hanya melihat dengan memberikan roda pendorong, enggak banyak yang bisa kita bantu,” ungkapnya sedih.

Setelah masuknya inovasi dari KKP soal geomembran dan tanel, pihaknya pun terus mensosialisasikan transfer teknologi tersebut. Sedikit demi sedikit petani garam di Pidie Jaya beralih ke metode ini. Walaupun Kamal mengakui, sikap dan perilaku masyarakat masih sangat sulit dirubah. Dalam benak mereka, langkah ini sebagai bentuk untuk mempertahankan tradisi.

Kamal menuturkan ada kisah yang lebih miris lagi terkait nasib petani garam tradisional ini. Pernah suatu ketika MUI di Bumi Serambi Mekah mengeluarkan fatwa bahwa garam Pidie Jaya mengandung najis atau bernajis. Sudah tentu garam produksi mereka tidak laku di pasaran. Praktis pendapatannya semakin merosot drastis.

“Kenapa dikatakan bernajis? Karena setelah ‘garuk-garuk’, orang itu kerja di tempat lain karena nggak cukup duit. Lewatlah anjing, berak di situ (tempat pasir yang sudah dikumpulkan dengan ‘garuk-garuk’), lewat lembu pipis di situ, lewat semuanya. Jadi ketika dikumpulkan sore itu sudah tidak steril. Tergerak dari itu kita sekarang ingin steril dong,” tegasnya.

Sedangkan dengan geomembran dan tanel, Kamal memastikan bahwa garam yang diproduksi itu steril. Kini kepercayaan masyarakat Bumi Serambi Mekah berangsur-angsur pulih kembali terhadap garam lokal. Garam yang dihasilkan pun memiliki kualitas premium dengan tingkat BE mencapai 2 hingga 4.

“Dan kita sudah uji coba di BPOM dan nanti kita tunjukan bahwa garam kita itu halal. Kenap halal? Karena kita sedot air laut yang dialirkan, masukan ke plastik (geomembran) tunggu 15 hari kalau tdk ada hujan jadi garam dia. Tapi kalau tidak ada hujan tidak produksi. Tapi gimana pun juga produksi harus ada, makannya kita butuh banyak tanel tadi,” ungkapnya secara tegas.

Membangun Dengan Ketauladanan

Sikap Kamal terhadap masyarakat Bumi Serambi Mekah ini bak dua sisi mata uang, terkadang tegas, terkadang caranya penuh dengan kasih saying dan kesabaran. Apalagi masyarakatnya yang dibinanya ini masih tergolong berpendidikan rendah. Kamal pun terus ‘mengemong’ masyarakat petani garam bahkan hingga mulutnya berbusa-busa.

“Yang paling menguntungkan di sini adalah pemberdayaan masyarakat. Tujuannya untuk pengentasan kemiskinan, penyerapan tenaga kerja, dan penekanan pengangguran. Itu bisa terlaksana karena pemerintah ini tegas sekali membantu. Caranya adalah masyarakat kita mintai surat tanahnya untuk diserahkan kepada kita. Bisa sertifikat atau paling tidak surat dari kepala desa. Setelah dibangun (lahan integrasi) kemudian surat itu dikembalikan lagi kepada mereka dan tanpa pungutan ke mereka, hasilnya untuk mereka,” jelasnya.

Dia pun sangat pantang dengan sistem pungli (pungutan liar) atau mengambil keuntungan di tengah pemberdayaan itu. Kesuritauladanan itu pun sudah teruji dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat dan tidak adanya temuan BPK di dalam dinas yang dipimpinnya.

“Nanti yang kelola koperasi mereka, gudang untuk mereka, PAD (Pajak Asli Daerah) tidak ada, buat DKP tidak ada, buat Pak Kamal tidak ada, jadi tegas sekali. Bantuannya sangat tegas, nyatanya saya tidak ada temuan karena saya tidak minta apa-apa dari mereka. Anda itu buat untuk masyarakat saya sebaik mungkin, itu aja permintaan saya,” tukasnya.

Dalam kurun waktu 2 tahun ini selalu nol dalam temuan BPK. Kamal pun bersyukur bisa memberikan yang terbaik buat masyarakatnya. Atas keberhasilan itu, Bupati pun berencana untuk membantu tanel guna meningkatkan produksi garam Pidie Jaya. Karena selama ini, usaha Kamal telah membuahkan hasil yang signifikan dan mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

Salah satu kisah inspiratif masyarakat dalam usaha produksi garam ini ialah Pondok Pesantren Bustanul Ikhsan di Kecamatan Bandar Baru. Pondok yang dipimpin oleh Tengku Muhammad Ali ini turut menyertakan para santrinya untuk memproduksi garam. Metode yang digunakan adalah semi tradisional.

“Dengan merebus air laut dalam tungku besar itu bisa menghasilkan 70 sampai 75 bambu per hari. Direbusnya juga tidak 24 jam tapi hanya 12 jam,” ujar Kamal saat berkunjung ke Ponpes Bustanul Ikhsan.

Ukuran yang biasa digunakan oleh petani garam Pidie Jaya dengan menggunakan bambu. 1 bambu setara dengan 1,5 kg. Jika 1 tungku menghasilkan 75 bambu, maka dari 2 tungku mampu menghasilkan 150 bambu atau sekitar 225 kg per hari.

Dengan jumlah produksi seperti itu, kesejahteraan para santri sudah tentu meningkat. Jika harga garam senilai Rp 2000 maka dalam sebulan, ponpes tersebut bisa memperoleh penghasilan sebesar Rp 9 juta.

“Itu baru dari cara semi tradisional, belum dari garam yang diproduksi dari tunnel. Lulus dari pesantren, para santri bisa membuat garam sendiri sambil mengajarkan kepada masyarakat,” tutupnya. (*)