Aparat Gabungan Berjibaku Selamatkan Puluhan Paus Pilot Terdampar di Madura

0
496
Tim gabungan menyelamatkan puluhan paus pilot yang terdampar di Madura.

Bangkalan (Samudranesia) – Warga Desa Pangpajung, Kecamatan Modung, Bangkalan, Jawa Timur dikejutkan dengan kurang lebih 50 paus yang terdampar di bibir pantai di desa yang terletak di Pulau Madura itu.

Pemandangan yang tak lazim ini kemudian segera menyebar sehingga mengundang banyak warga untuk berbondong-bondong menyaksikan secara langsung ke pantai.

Menurut keterangan Kapolsek Modung Bangkalan AKP Suwaji, puluhan paus yang terdampar di bibir pantai Desa Patereman Kecamatan Modung itu merupakan jenis kawanan paus tombak yang dikenal hidup secara bergerombol.

“Seperti dikatakan nelayan setempat kawanan paus ini awalnya datang dari pesisir barat pada Kamis (18/2/2021) sekitar pukul 14.00 Wib. Namun oleh nelayan setempat kawanan paus itu digiring menuju ke tengah laut. Namun sekitar pukul 16.00 Wib kawanan paus tersebut kembali menuju bibir pantai hingga akhirnya tengah malam kawanan itu terdampar,” kata AKP Suwaji, Jumat (19/2/2021).

Kejadian terdamparnya puluhan paus ini juga menyita perhatian Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Orang nomor satu di Jawa Timur bahkan datang langsung ke lokasi kejadian dan memberikan instruksi untuk segera mengevakuasi dan mengubur puluhan paus yang telah mati.

“Ibu Gubernur sudah memerintahkan untuk memakamkan paus yang sudah mati. Beliau memberikan instruksi agar dikirim dua eskavator. Tapi proses evakuasi belum bisa dilakukan karena terkendala air pasang,” ucap Suwaji.

Sementara Gubernur Khofifah dalam keterangannya kepada wartawan menyebut jika dari puluhan paus yang terdampar itu ada 3 ekor yang berhasil selamat. Ketiga ekor paus yang berhasil selamat kini sudah dilepas kembali ke tengah laut.

“Yang masih hidup ada tiga, dan barusan di lepas,” ujar Khofifah.

Dia menambahkan jika sampel ikan paus yang terdampar dan akhirnya mati di perairan Kecamatan Modung ini akan diteliti oleh tim Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

“Sedang dalam proses penelitian dari FKH Unair. Kita tunggu hasilnya,” pungkasnya.

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (DJPRL) tengah melakukan penanganan terhadap paus pilot terdampar yang diduga akibat salah arah belok di Pantai Modung, Desa Pangpajung, Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, Madura, Provinsi Jawa Timur.

Tim yang terdiri dari BPSPL Denpasar Wilker Jawa Timur, Ditjen Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Surabaya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur, Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga, Dinas Kelautan dan Perikanan Prov. Jatim, Dinas Kelautan dan Perikanan Kab. Bangkalan, TNI – POLRI (Polair Polres Bangkalan), Camat Modung dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperoleh hasil bahwa sebanyak 52 ekor paus pilot jenis short-finned terdampar. 49 ditemukan dalam kondisi mati, 3 ekor berhasil diselamatkan dan dilepasliarkan kembali ke laut di Selat Madura.

Data KKP yang dihimpun oleh Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar mencatat kejadian terdampar terakhir pada tahun 2016 di Kecamatan Gending, Kabupaten Probolinggo, Provinsi Jawa Timur sebanyak 32 ekor paus dengan spesies yang sama, short-finned pilot whale.

Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Dirjen PRL) Tb. Haeru Rahayu menjelaskan bahwa penyebab terjadinya paus pilot terdampar akan didalami lebih lanjut. Salah satunya melalui nekropsi yang akan dilakukan oleh beberapa dokter hewan dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga Surabaya dan dokter hewan dari Flying Vet Indonesia. Tim mengambil sampel sebanyak 3 ekor paus dan akan menentukan berapa ekor yang akan dinekropsi. Nekropsi dimulai sekitar pukul 13.00 WIB.

“Dugaan sementara adalah salah satu paus, diduga pimpinannya sakit sehingga rombongan paus ini mengikuti pimpinan paus pilot yang sakit dan menunggu di pinggir pantai. Secara alamiah, paus yang sakit akan ke pinggir pantai dan akhirnya mati. Untuk diketahui, perilaku paus pilot adalah bergerombol, dipimpin oleh seekor pilot yang ukuran tubuhnya lebih besar,” ujar Tebe di Jakarta.

Dari pengukuran lapangan, diperoleh panjang tubuh paus pilot yang terdampar bervariasi antara 2 hingga 3,5 meter. Paus yang paling besar diidentifikasi berjenis kelamin betina dengan panjang 3,5 meter.

Akibat La Nina

Salah satu dugaan mengapa paus pilot beruaya hingga ke Selat Madura yakni dikarenakan paus sedang migrasi di perairan tropis Indonesia dan salah satu daerah ruayanya adalah Selat Madura seperti yang terjadi tahun 2016.

Dugaan La Nina atau gelombang besar belum bisa dikonfirmasi menjadi penyebab. Gelombang saat kejadian berkisar antara 0,5-1,5 meter (BMKG, 2021).

Lebih lanjut Tebe menambahkan upaya yang dilakukan oleh tim mengacu pada Pedoman Penanganan Mamalia Laut Terdampar yang diterbitkan oleh KKP. Kejadian paus pilot saat ini dikategorikan kode 1 yaitu ada yang masih hidup dan kode 2 yaitu baru saja mati. Prinsip penanganannya adalah triase, yaitu menyelamatkan yang hidup terlebih dahulu dan melakukan penanganan dengan cara menguburkan yang mati.

“Saat kejadian 52 ekor paus ditemukan, air laut sedang surut dan dasar pantai yang berpasir sehingga menyulitkan upaya evakuasi penyelamatan paus yang hidup. Tim mengumpulkan paus yang hidup berjumlah 3 ekor dan melepaskan ke laut dengan cara mengelompokkan dengan jarak tertentu. Bangkai paus akan dikubur di daerah yang aman. Tim akan mengupayakan mengangkut paus-paus tersebut dengan bantuan peralatan eskavator dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang ada dan dibantu masyarakat setempat,” pungkas Tebe.

Sementara itu, ahli biologi spesialisasi cetacea, Danielle Kreb menyampaikan bahwa kejadian paus pilot massal juga sering terjadi di New Zealand sejak dulu. Penyebab bisa getaran tektonik, badai solar atau penyakit yang menyerang satu atau lebih anggota dan membawa mereka ke perairan pesisir karena mereka hidup di laut dalam. Penyebab perlu dipastikan oleh nekropsi.

Tim di lapangan dibantu aparat setempat, Polisi dan TNI mengupayakan langkah-langkah pencegahan yaitu menghimbau masyarakat untuk tidak mendekati bangkai paus karena berpotensi ada penyakit yang menular ke manusia. Masyarakat juga dihimbau tidak mengonsumsi karena akan berdampak pada perpindahan penyakit ke manusia. (*)