Antara Jejak Peradaban dan Kolonial di Museum Bahari

Antara Jejak Peradaban dan Kolonial di Museum Bahari

0
2408
Pintu masuk Museum Bahari

Jakarta (Samudranesia) – Bagi warga DKI Jakarta, keberadaan Museum Bahari yang terletak di Jl Pasar Ikan No.1, Sunda Kelapa, Jakarta Utara sudah tak asing lagi di telinga. Di awal dekade 90-an, museum ini pernah booming sebagai lokasi syuting sinetron “Si Manis Jembatan Ancol” yang dibintangi oleh Diah Permatasari dan Ozy Syahputra.  

Namun terkait apa saja koleksi di dalamnya sebagian besar masyarakat Jakarta tentu masih meraba-raba. Sesuai namanya, museum yang diresmikan sebagai cagar budaya DKI Jakarta oleh Gubernur Ali Sadikin pada tahun 1977 ini berisikan koleksi kebaharian. Bangunan museum yang pada masa VOC berfungsi sebagai gudang rempah-rempah ini kini berisi benda-benda bersejarah terkait kebaharian.

Mulai dari miniatur perahu dan kapal asli penduduk Nusantara bisa dilihat di sini. Tak hanya itu, diorama tentang kepeloporan tokoh bahari Nusantara dan dunia juga ditampilkan di museum ini. Diorama Fatahillah, Laksamana Malahayati, Laksamana Cheng Ho, hingga Ibnu Battuta, Ferdinand Magelhans dan lain sebagainya bisa dilihat di sana.

Patung Laksamana Malahayati

Perpustakaan yang berisikan buku-buku kemaritiman juga tersedia di museum ini. Hanya dengan biaya Rp 5000, pengunjung bisa menikmati berbagai koleksi di museum ini guna menambah wawasan kebaharian kita. Tempat ini sangat cocok dikunjungi bagi pelajar serta pencinta bahari Indonesia.

Museum ini sangat cocok melambangkan Indonesia sebagai negeri bahari yang besar dan mendunia. Jejak peradaban bahari Nusantara sebagai jantung perdagangan dunia terfantasikan di sini. Memasuki pelataran museum, kita seakan berada di era abad 17-18an.

Menurut pemandu wisata yang menemani berkeliling seluruh isi museum, tiap harinya tidak lebih dari 30 pengunjung datang ke tempat ini. Ada yang memang untuk menggali sejarah bahari Nusantara, ada yang sekadar ingin nongkrong dan duduk-duduk untuk mengabadikan foto dan video serta ada yang melakukan foto Pre Wedding di sini.

Biasanya setiap weekend atau hari libur, jumlah pengunjung bisa lebih dari 30 atau ketika ada kunjungan dari siswa-siswi sekolah yang tengah melakukan study tour. Di bagian tengah museum, juga terdapat ruang seminar dan rapat yang biasanya untuk disewakan.

Museum yang sempat terbakar di tahun 2018 lalu ini kendati memiliki banyak manfaat buat membangun wawasan generasi bangsa agar mencintai peradaban baharinya. museum ini menyimpan kisah kelam bangsa Nusantara, Bangunan bekas VOC itu sejatinya merupakan simbol kolonialisme Belanda yang masif selama kurang lebih 3,5 abad.

Ketertindasan kaum pribumi bisa tergambar dari kokohnya bangunan ini yang bak menyerupai benteng pertahanan. Lokasinya yang berdekatan dengan Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai bangunan utama pada masa lalu, tak menutup kemungkinan bangunan ini selain untuk menyimpan rempah, juga untuk menyimpan perbekalan militer.

Menatap gedung ini, terlintas pula dalam benak kita ratusan bahkan ribuan pribumi menjadi budak dan kuli angkut dari padatnya aktivitas sekitar gudang. Terbayang pula bos kompeni yang dikawal beberapa centeng pribumi tengah mengawasi mereka bekerja. Sekalinya terlihat ada yang malas, pecutan melayang di tubuh pribumi yang kurus kerempeng.

Sangat naif memang memandang museum ini. Sudah seharusnya, ketika Indonesia memiliki visi maritim yang besar, perlu berdiri museum maritim yang baru nan megah, berisikan koleksi sejarah hingga teknologi maritim kekinian. Bangunan baru yang tentunya tidak meninggalkan trauma sejarah masa lalu.