Analisis Kesiapan Indonesia Masuk Ke Era Logistik 4.0

0
1794

Oleh: Dr. Dayan Hakim*

Istilah Industri 4.0 pertama kali muncul di European Parliamentary Research Service (Davies, 2015) yang menyebutkan bahwa revolusi industri terjadi untuk keempat kalinya. Revolusi industri pertama terjadi di Inggris pada tahun 1784 dimana penemuan mesin uap sehingga mekanisasi mulai menggantikan pekerjaan manusia. Revolusi Industri kedua muncul pada akhir abad ke-19 di mana mesin-mesin produksi yang semula dijalankan dengan tenaga uap digantikan oleh tenaga listrik sehingga produktivitas meningkat. Penggunaan teknologi komputer untuk otomasi manufaktur mulai tahun 1970-an menandai revolusi industri ketiga dimana pengawasan, pencatatan dan pemantauan dilakukan oleh komputer.

Perkembangan teknologi komputer dan perangkatnya sangat pesat dalam satu dekade terakhir  memulai Industri 4.0. Ada lima teknologi utama yang mendukung pengembangan sistem Industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotik, dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Pada akhirnya, Industri 4.0 juga berdampak pada sektor logistik. Menurut Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Logistik Supply Chain dan SDM, Nofrisel, penyedia jasa logistik akan berlomba-lomba menurunkan tarif dengan penerapan Industri 4.0 dalam meningkatkan daya saing.

Industri 4.0 di era globalisasi tidak ada artinya tanpa Logistik 4.0. Logistik 4.0 dalam arti sempit menyiratkan jaringan dan integrasi proses logistik di dalam dan di luar perusahaan perdagangan dan fasilitas produksi, hingga kontrol desentralisasi jaringan logistik real-time. Solusi yang sesuai termasuk Cyber-Physical Systems (CPS), yang terdiri dari sistem tertanam yang saling berhubungan melalui jaringan komunikasi. Manusia dan material bertindak sebagai “titik akhir”. Komponen lainnya termasuk sistem bantuan seperti perangkat dengan kecerdasan otonom dan kemampuan pengambilan keputusan seperti kamera, detektor, dan mobil self-driving.

Adaptasi ini secara khusus mencakup fitur-fitur utama industri 4.0 seperti: Networking, Decentralization, Capabilities, Real time dan Service orientation. Hanya dengan berhasil mengimplementasikan Logistik 4.0, perusahaan dapat menciptakan fondasi yang dibutuhkan untuk menguasai tantangan masa depan Industri 4.0. Misalnya, pemrosesan pesanan transportasi tanpa kertas dengan Waybill digital atau pertukaran palet di era digital merupakan persyaratan dasar yang penting agar industri 4.0 berfungsi dengan baik. Ini juga berlaku untuk Logistik 4.0.

Logistics 4.0 berfokus pada penggunaan teknologi baru yang inovatif, seperti manajemen rantai pasokan berbasis perkiraan. Dengan ini dan teknologi baru lainnya, angka logistik utama berikut dapat dioptimalkan yaitu, Keandalan pengiriman, Kualitas pengiriman, Fleksibilitas pengiriman, Kemampuan pengiriman/pengiriman, dan Tingkat layanan. Untuk mencapainya, perusahaan harus membuat dan menerapkan konsep baru untuk perencanaan, pengendalian, pemantauan, dan penerapan arus informasi dan material di Logistik 4.0. Tujuannya adalah untuk memasukkan semua tingkat logistik perusahaan dalam transformasi digital dan untuk mengidentifikasi teknologi yang tepat untuk pengoptimalan.

Jalan Panjang Penerapan Teknologi

Kata kunci dari logistics 4.0 adalah digitalisasi, Internet of Things (IoT) dan Internet of Service (IOS), otomatisasi dan real time, serta artificial intelligence. Dunia logistik sendiri juga mengalami evolusinya. Dimulai dari Logistics 1.0 (Mekanisasi) dimana jaringan logistik masih menggunakan sistem logistik sederhana, kegiatan logistik belum terintegrasi dan jaringan logistik belum terbentuk (struktur operasi masih lokal).

Menggunakan sistem push delivery process, perencanaan material, implementasi dan pengendalian dilakukan secara manual dan masih dilakukan dengan insourcing. Kegiatan intralogistik (troli, forklift, dll) dilakukan secara mekanis dan dikendalikan secara manual. Kegiatan pergudangan dan inventaris dilakukan dan dikendalikan secara manual (tanpa otomatisasi). Alat transportasi digerakkan oleh “mesin uap” dan tidak terkoordinasi.

Era selanjutnya adalah Logistics 2.0 (Elektronisasi) dimana telah terbentuk jaringan logistik yang terintegrasi, pengembangan jaringan logistik global dan manajemen rantai pasokan telah dimulai. Menggunakan sistem push delivery process, perencanaan, pelaksanaan dan kontrol secara elektronik dan outsourcing dimulai. Kegiatan intralogistik termasuk sistem penanganan material (troli, forklift, dll) dilakukan dengan tenaga listrik tetapi dikendalikan oleh tenaga manusia. Kegiatan pergudangan dan persediaan mulai direncanakan, dilaksanakan dan dikendalikan secara otomatis. Alat transportasi digerakkan oleh “mesin uap” dan telah terkoordinasi.

Di era Logistics 3.0 (Digitalisasi), jaringan logistik global mulai terbentuk dan sudah menggunakan komputer untuk pengelolaan dan pengendalian sumber daya (partial global resource planning/controlling). Logistik yang masuk direncanakan dan dikendalikan dengan perangkat lunak otomatis (e-procurement, e-warehousing, dll.).

Kegiatan intralogistik dilakukan secara otomatis, termasuk penggunaan robot untuk material handling dengan rute terprogram. Ada jaringan pergudangan otomatis dalam kegiatan rantai pasokan. Aktivitas pergudangan dan inventaris direncanakan, dijalankan, dan dikendalikan menggunakan perangkat lunak. Sarana transportasi yang terkoordinasi, baik perencanaan maupun penjadwalan dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak.

Baru pada era Logistik 4.0 (Cyber ​​Physical System) terbentuk jaringan rantai pasok global yang kompleks, pemangku kepentingan terhubung dan berinteraksi menggunakan internet (open and flexible operation footprint). Semua aktivitas logistik masuk dikelola dan dikendalikan secara real time menggunakan internet. Kegiatan intralogistik dilakukan sepenuhnya secara otomatis dan terprogram sesuai dengan prediksi logistik yang masuk dan keluar. Tidak diperlukan pergudangan, inventaris dikelola “tepat waktu” (tidak ada pergudangan dalam rantai pasokan). Alat transportasi menggunakan drone yang diprogram menggunakan platform internet.

Di Indonesia sendiri, istilah Logistik 4.0 sudah berdengung. Hal ini terkait dengan perkembangan perdagangan Indonesia yang semakin dibanjiri barang-barang impor. Dari uraian di atas, timbul pertanyaan tentang kesiapan Indonesia menghadapi Logistics 4.0.

Kinerja Logistik di Indonesia sendiri tidak cukup baik. Merujuk pada Logistics Performance Index yang dikeluarkan oleh Bank Dunia pada tahun 2018, disebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-46 di bawah Malaysia yang berada di peringkat ke-41.

Sumber: World Bank

Berdasarkan tabel tersebut, terlihat bahwa skor terburuk Indonesia ada di Bea dan Cukai (2,67), bukan Tracking and Tracing (3,30). Artinya permasalahan logistik Indonesia tidak berada pada kesiapan Indonesia untuk Logistik 4.0. Padahal, Tracking and Tracing nilai Indonesia di atas Malaysia (3,15). Artinya, sebenarnya dunia logistik Indonesia tidak menghadapi masalah Tracking and Tracing, melainkan Ditjen Bea dan Cukai sendiri yang mengalami masalah dan perlu segera dibenahi.

Optimalisasi NLE

Namun, untuk menghadapi era Logistik 4.0, Pemerintah saat ini telah memutuskan untuk menjalankan program National Logistic Ecosystem (NLE) atau ekosistem logistik nasional sebagai platform digitalisasi yang dapat mempermudah dan memberikan bantuan dalam seluruh proses dokumen perjalanan logistik. Dengan diterapkannya NLE, diharapkan peringkat Indonesia bisa naik ke posisi ke-3 di ASEAN dalam Logistics Performance Index (LPI).

“Saat ini di ASEAN kita nomor lima dan nomor 46 dunia di dunia. Dengan adanya NLE, diharapkan kita bisa masuk 30 besar dunia. Kalau masuk 30 besar, kita bisa rangking 3 di ASEAN,” kata Ketua Umum Asosiasi Logistik dan Logistik tersebut. Forwarder Indonesia (ALFI) Yuki Nugrahawan Hanafi dalam jumpa pers virtual, Kamis (24/9/2020). Ia berharap, sebelum adanya ASEAN Connectivity, Indonesia bisa menduduki peringkat ke-3, sehingga investasi di ASEAN juga bisa dinikmati di dalam negeri. “Mudah-mudahan sebelum ASEAN Connectivity kita sudah bisa ke sana, sehingga kita bisa menikmati kue investasi di ASEAN,” ujarnya.

Melalui Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020, kegiatan NLE dapat mencakup seluruh wilayah Indonesia. Dengan demikian, seluruh pemangku kepentingan akan mengimplementasikan regulasi dan komitmen untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Tujuan pemerintah mendirikan ecolognas adalah untuk menekan biaya logistik yang disebut masih berjuang dari 23,5 persen menjadi 17 persen. Dengan demikian, Indonesia dapat bersaing dengan negara-negara lain, di Asean, yang bahkan telah mencapai biaya logistik satu digit.

Pemerintah tidak berencana membentuk badan atau badan baru yang mengelola logistik atau badan khusus yang mengelola platform atau platform untuk ekosistem logistik nasional. Sedangkan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) sebagai penanggung jawab dirasa cukup. Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Agung Kuswandono mengatakan pembahasan mengenai keberadaan lembaga tersendiri sudah ada sejak Indonesia National Single Window (INSW) dibentuk.

Yang terpenting, jelasnya, bukanlah lembaga baru melainkan komitmen yang harus dijaga bersama. “Dulu Indonesia punya INSW, perjalanannya muncul online single submission [OSS], sekarang kita memunculkan ide lain yang disebut National Logistic Ecosystem [NLE], yang terpenting jangan dilegitimasi sebagai lembaga atau sekretariat baru,” jelasnya, (Bisnis Indonesia, 1/10/2020). Menurutnya, jika lembaga baru terbentuk, akan muncul ego sektoral. Ditegaskannya, di NLE penting komitmen bersamanya harus baru. “Semua pihak harus bisa bersinergi untuk menyampaikan penjualannya di NLE, baik pemerintah maupun bisnis. DJBC cukup menjadi leader, menggabungkan platform yang ada,” ujarnya. Agung mengatakan, jika prototipe NLE di Batam bisa berjalan dengan baik dan bisa direplikasi di daerah lain, maka diperlukan lembaga baru untuk mengelola semua kegiatan tersebut. Sejak tahun lalu, Batam Logistic Ecosystem (BLE) telah ditetapkan sebagai pilot project NLE.

Setahun telah berlalu namun dunia logistik Indonesia tidak banyak berubah. Pilot project tersebut belum melahirkan berbagai daerah lain di Indonesia. Hal ini disebabkan beberapa hal. Yang pertama adalah masalah Integrasi. Logistics 4.0 bukan soal menciptakan sistem aplikasi canggih yang memiliki ratusan fitur hebat.

Logistics 4.0 adalah mengintegrasikan berbagai sistem aplikasi ke dalam satu sistem terintegrasi. Platform tersebut dibuat tidak hanya untuk mengawasi penyedia jasa logistik, yang dalam arti sempit adalah sejumlah besar forwarding. Sementara itu, mengintegrasikan hanya beberapa penyedia jasa pelayaran ke dalam Indonesia Line belum berhasil hingga saat ini. Jika fokusnya hanya forwarding, tidak akan ada nilai tambah bagi perekonomian Indonesia.

Platform seperti yang ada di Program Tol Laut dapat ditiru dan kemudian dikembangkan menjadi Ekosistem Logistik Nasional. Platform yang dibangun harus open source sehingga memudahkan konektivitas, seperti dengan Indoport, National Single Windows atau Electronic Data Interchange. Tidak justru mempersulit pengguna jasa sehingga harus membangun sistem baru untuk aplikasinya masing-masing. Untuk itu, perlu diacungi jempol Dirjen Pajak dengan e-SPT-nya.

Masalah selanjutnya adalah koordinasi. Sejak tahun 2012, Kementerian Perhubungan – Dirjen Hubla mulai membangun Sistem Logistik Nasional yang belum pernah terealisasi hingga saat ini. Tiba-tiba, dalam Inpres Nomor 5 Tahun 2020, koordinator dipindahkan ke Dirjen Bea dan Cukai. Ini menjadi pertanyaan bagi para pelaku bisnis di dunia logistik. Yang disebut ego sektoral muncul. Masing-masing pihak menjadi lebih mementingkan kepentingannya masing-masing.

Hal utama adalah peletakan visi Logistics 4.0 itu sendiri. Visi untuk menekan biaya logistik ternyata salah besar. Mengapa? Karena tidak berorientasi pada pelanggan. Saran penulis adalah mengganti visi tersebut dengan “Gerakan Ayo Ekspor”. Selain itu lebih banyak waktu pada pelanggan, sekaligus juga dapat meningkatkan perekonomian Indonesia. Orang merasa lebih diperhatikan dan dilayani dengan baik. Mulai dari sentra industri kecil seperti sepatu Cibaduyut, batik Pekalongan, Trustme Batik Cirebon, tekstil Cimahi, ikan kaleng Bitung hingga industri besi tua Tegal akan terasa terlayani.

Sebenarnya apa yang sudah dibangun Dirjen Perhubungan Laut dengan Program Tol Laut ini sudah menjadi contoh awal Logistik 4.0 dalam skala kecil. Pemilik barang yang umumnya pengusaha lemah semakin diperhatikan. Forwarding hanya melakukan trucking dan cargodoring dari door ke port. Stevedoring hanya melakukan loading dari sea way ke kapal. Shipping hanya untuk pengiriman port to port. Semuanya dilakukan secara proporsional. Inilah yang terjadi ketika orang buta mencoba menjelaskan tentang gajah.

Koordinator harus berada di Kementerian Perdagangan di daerahnya masing-masing. Mereka yang tahu lebih baik tentang situasi perdagangan di daerah mereka. Mulai dari produksi barang, perdagangan barang keluar masuk hingga para pelaku bisnis di daerah. Dengan mengubah visi menjadi Gerakan Ayo Ekspor alih-alih menekan biaya logistik, tentunya akan lebih bermanfaat bagi masyarakat secara langsung.

Masalah ketiga adalah sinkronisasi. Dengan mencontoh pada Program Tol Laut, pertemuan rutin sering dilakukan antar instansi atau dengan penyedia jasa yang dilakukan dengan tujuan untuk sinkronisasi, baik untuk menyamakan persepsi terhadap permasalahan yang terjadi maupun untuk menyamakan data satu sama lain. Tidak seperti yang terjadi sekarang dimana hanya satu pihak yang merasa paling penting dan paling berjasa.

Dengan ini tentunya kendala dalam nilai Bea Cukai juga ikut teratasi. Yang bermasalah kenapa bahkan diberi kekuatan. Hambatan pergerakan barang di pelabuhan dapat diselesaikan dan keputusan dapat segera diambil. Tidak seperti sekarang, perbedaan pendapat mengenai pengenaan tarif masuk harus dibawa ke Pengadilan Pajak yang baru dapat diselesaikan setelah 3 tahun. Jika masalah Integrasi, Koordinasi, dan Sinkronisasi dapat diselesaikan, platform yang dicita-citakan sejak 2012 akan segera terwujud. Sislognas atau Ekosistem Logistik Nasional atau apapun sebutannya akan sangat bermanfaat bagi masyarakat ekonomi Indonesia.

*Penulis adalah Praktisi Logistik Indonesia