ABK WNI Ditemukan Meninggal di Kapal Ikan China

0
2171
Kapal Hanrong 365, tempat ABK Indonesia berinisial WSP menghembuskan nafas terakhirnya. Dok Foto: www.npfc.int

Jakarta (Samudranesia) – Kasus demi kasus yang menimpa Anak Buah Kapal (ABK) berkewarganegaraan Indonesia di kapal ikan China seakan tak pernah berakhir. Serentetan kasus kematian ABK WNI di kapal ikan China sejak awal 2020 terus terjadi hingga saat ini.

Kini giliran ABK WNI berinisial WSP asal Kendal yang meninggal di kapal Hanrong 365 berbendera China akibat menderita sakit. Kapal tersebut sebelumnya berada di perairan Oman menuju Pakistan.

Berdasarkan penelusuran tim dari Gerakan Pelaut Sosmed (GPS), Serikat Awak Kapal Transportasi Indonesia (SAKTI) dan Serikat Pelaut Sulawesi Utara (SPSU) yang menerima laporan dari ABK WNI di kapal Hanrong 365 diperoleh informasi bahwa WSP meninggal sejak 14 November 2020.

Anwar Abdul Dalewa dari SPSU menerima laporan dari sesama ABK WNI bahwa WSP wafat di kapal Hanrong 366 dan jenazahnya dititipkan di kapal Hanrong 365. Almarhum meninggal pada pukul 4 sore waktu Oman pada tanggal 14 November 2020.  

“Menurut keterangan dari ABK bahwa rekan-rekannya sudah minta kapten kapal agar kapal minggir untuk membawa almarhum ketika masih sakit ke rumah sakit, tapi kapten bilang nunggu konfirmasi dari China dan akhirnya ditangani dulu di kapal dengan dikasih obat seadanya tanpa tahu apa guna dan efek sampingnya,” ujar Anwar kepada Samudranesia, Sabtu (5/12).

Para ABK rekan almarhum sudah ragu sejak awal terhadap penanganan WSP sehingga akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya pada sore harinya. Kapal Hanrong 365 yang membawa jenazah WSP, tiba di perairan Karachi, Pakistan pada 2 Desember 2020. Selanjutnya pihak KJRI (Konsulat Jenderal Republik Indonesia) Karachi tengah mengurus jenazah WSP agar bisa dipulangkan kepada pihak keluarganya..

WSP merupakan awak kapal ikan asal Kendal, Jawa Tengah yang berangkat melalui PT Duta Samudra Bahari (DSB), berdomisili di Pemalang. Selain WSP, ada 28 ABK Indonesia yang juga sedang diupayakan untuk pulang di kapal tersebut.

Anwar menyatakan beberapa dari mereka menerima gaji tidak sesuai dengan perjanjian awalnya. Termasuk almarhum WSP yang juga belum full menerima gaji seperti yang sesuai dengan kontrak kerja laut.

Melalui komunikasi yang intensif antara para serikat pelaut di dalam negeri dengan pihak KBRI baik di Oman maupun Pakistan, akhirnya jenazah WSP diurus kepulangannya ke tanah air. Begitu juga dengan ABK WNI yang terlantar di kapal tersebut.        

Alhamdulillah akhirnya kita bisa komunikasi sama ABK Hanrong 365, walaupun sedih dengar ceritanya masalah gaji ABK, ada yang bekerja 14 bulan baru menerima gaji hanya Rp 3 juta saja. Tapi yang jelas jenazah almarhum tidak dilarung. Kita mengucapkan terima kasih kepada KBRI Oman dan KJRI Karachi,” ungkap Erix Xtrada dari GPS.

“Mudah-mudahan jenazah bisa pulang walaupun hanya tinggal jasad. Kami dari SAKTI, GPS dan SPSU ikut prihatin. Mudah-mudahan masalah ini tak akan terulang lagi, kasihan para pahlawan devisa,” tambahnya.

Anwar mengaku akan membahas masalah ini dengan pihak pemerintah RI di dalam negeri. Dia berharap kejadian ini tidak terus berulang dan perlu ada regulasi yang jelas serta pelindungan yang konkret bagi para ABK Indonesia yang bekerja di luar negeri. (*)