Virus Corona Pecahkan Rekor

0
288
Virus corona Dok. haluankepri.com

Jakarta (Samudranesia) – Keganasan virus corona akhirnya benar-benar merajalela. Sejak pemunculannya di akhir Desember 2019 virus mematikan ini hingga Rabu, 12/02/2020 sudah menelan korban 1.115 orang meninggal. Jumlah tersebut termasuk dua orang meninggal di luar Cina, satu di Hongkong dan satu di Filipina. Sementara itu korban dirawat yang terdeteksi terinfeksi virus tersebut berdasarkan informasi mencapai 44. 940 orang. Tak tanggung-tanggung virus corona bukan hanya mewabah di negera asalnya saja, Cina tapi juga sudah merangsek ke pelbagai belahan dunia. Tercatat, tak kurang dari 28 negara di dunia terserang virus ini, di antaranya: Amerika Serikat dan Australia.

Melihat jumlah korbannya yang cukup fantastis, maka berarti virus corona berhasil melampaui jumlah korban SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang pernah pula mewabah di negeri Tirai Bambu itu pada 2003. Ketika itu virus tersebut telah menewaskan sebanyak 774 korban jiwa. Sementara pada 2012 MERS (Middle East Respiratory Syndrome), virus yang juga masih satu keluarga dengan virus corona dan melanda wilayah Timur Tengah, utamanya Arab Saudi, menelan korban yang jauh di bawah SARS, berkisar seratusan orang.

Dengan demikian, dari sisi jumlah korban virus corona bisa dibilang berhasil memecahkan rekor. Menembus angka lebih dari seribu orang tewas, jauh membawahi korban virus SARS yang hanya di atas 700-an. Angka ini tentunya diperkirakan masih akan terus bertambah. Pasalnya, hingga saat ini obat penangkal virus yang ditengarai bersumber dari pasar hewan di Kota Wuhan belum juga ditemukan.

Sementara itu WHO, badan PBB yang mengurusi masalah kesehatan dunia secara resmi telah mengubah nama virus corona. Seperti diketahui, sejak mulai merebak virus tersebut diberi nama 2019-nCoV. Angka 2019 diambil dari tahun pemunculan virus tersebut, sedang “n” singkatan dari “novel” yang artinya “baru”. Sementara CoV, singkatan dari “coronavirus” atau virus corona. Penggunaan nama “novel” atau “baru” dianggap kurang relevan. Karena dikhawatirkan ke depan akan lahir virus baru yang juga bisa saja menggunakan kata yang sama. Untuk itu WHO mengubah nama virus corona atau 2019-nCoV menjadi COVID 19. (Guss)