Virus Corona Mewabah, Bagaimana Nasib Pelaut RI di Kapal China?

1
839
Ilustrasi Foto: Istimewa.

Jakarta (Samudranesia) – Terkait mewabahnya virus Corona di China, pemerintah RI mengantisipasi dengan berbagai langkah pengamanan. Terutama menutup penerbangan ke Wuhan, China, tempat di mana virus itu mulai mewabah.

Hal itu sebagaimana disampaikan oleh Menteri Perhubungan (Menhub) Budi Karya Sumadi beberapa waktu lalu, yang meminta sejumlah maskapai tidak melakukan rute penerbangan Wuhan.

Begitu pula Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi yang menyebutkan terdapat ribuan mahasiswa di negara China yang aman dari virus tersebut. Menurutnya 90 persen mahasiswa yang ada di Wuhan, China sudah kembali ke Indonesia.  

Selain itu, WNI lain yang masih berada di China juga dipastikan tidak terjangkit virus tersebut. Informasi ini diperoleh dari data KBRI di Beijing.

“Nah juga ada warga negara lain yang semua terpantau dan dari pantauan KBRI di Beijing belum ada informasi terjangkitnya atau terkenanya WNI dari wabah yang sedang terjadi di China tersebut,” ucap Retno.

Bisa jadi pantauan KBRI di Beijing hanya para pekerja dan mahasiswa Indonesia yang berada di darat. Lalu bagaimana nasib pekerja asal Indonesia yang bekerja di atas kapal?

Baca Juga:

Hal ini menjadi sorotan dari pengamat maritim Siswanto Rusdi mengenai nasib pelaut Indonesia yang bekerja di kapal berbendera China. Walaupun tidak tahu data pastinya, Siswanto menyebut jumlahnya sangat banyak mencapai ribuan.

“Pemerintah, saya lihat belum mengeluarkan pernyataan soal nasib pelaut kita yang bekerja di kapal berbendera China, apakah aman dari virus Corona atau tidak. Inikan jadi indikasi kalau pelaut itu cenderung dianaktirikan dibanding kelas pekerja lain atau mahasiswa, ujar Siswanto kepada Samudranesia, Sabtu (25/1).

Direktur The National Maritime Institute (Namarin) ini meminta pemerintah RI untuk tidak menganaktirikan pelaut. Dia menunggu pernyataan resmi baik dari Menlu, Menhub maupun Menteri Tenaga Kerja (Menaker) terkait nasib pelaut Indonesia yang bekerja di kapal berbendera China.

“Karena kan kita juga belum tahu, pelaut kita yang bekerja di kapal berbendera China pernah ke Wuhan atau tidak, atau berinteraksi dengan pelaut China asal Wuhan (yang terjangkit virus Corona) atau tidak? Jadi ini harus diidentifikasi oleh pemerintah, apalagi menularnya virus ini sangat cepat,” ungkap Siswanto.

Dia menegaskan bahwa profesi pelaut ini merupakan profesi yang terhormat dan dilindungi oleh berbagai peraturan baik internasional maupun internasional. Sehingga keberadaannya juga harus mendapatkan perhatian yang serius dari pemerintah.

“Pelaut itu dilindungi oleh berbagai organisasi internasional seperti ILO, ITF (The International Transport Workers’ Federation-red), dan IMO. Jadi pemerintah Indonesia janganlah menutup mata. Giliran PRT (Pembantu Rumah Tangga) diurus, pesawat-pesawat lebih diperhatikan, tapi pelaut sama sekali tidak,” tandasnya.

Virus Corona diketahui  pertama kali teridentifikasi di kota Wuhan. Menjelang pergantian tahun, kota berpenduduk 11 juta jiwa ini digegerkan dengan banyaknya warga yang jatuh sakit secara serentak setelah mengunjungi pusat grosir makanan laut, Hua Nan. Sampai dengan tanggal 9 Januari 2020, korban jiwa meninggal dunia disebut mencapai 9 orang. Sementara puluhan pasien lainnya dinyatakan kritis. Anehnya, sebagian besar korban ternyata tak pernah mengunjungi pasar tersebut.

Merespon kondisi darurat tersebut, Presiden China Xi Jinping mengumumkan bahwa para korban terkontaminasi oleh Novel Coronavirus (2019-nCoV), sebuah jenis virus baru yang masih satu famili dengan virus penyebab SARS (Severe Acute Resporatory Syndrome) dan MERS (Middle East Respiratory Syndrome).

Mereka yang terjangkiti merasakan gejala yang disebut mirip pneumonia. Keluarga virus ini lazimnya ditularkan dari hewan ke manusia. Namun, khusus kasus Corona, penularan terjadi dari manusia ke manusia lewat batuk, bersin, dan kontak jarak dekat.

Umumnya, mereka yang terjangkiti virus ini akan mengalami batuk, sesak napas, dan demam. Pada peningkatan level, infeksi akibat virus bisa menyebabkan pneumonia, gagal ginjal, sindrom pernapasan akut, hingga kematian.

Mudah menular seperti flu, obyek yang tertempel virus mudah menular kepada orang yang mendekatinya. Tak heran jika kasus kejadian di Wuhan, virus ini dengan cepat mampu mewabah hanya dalam hitungan hari. (Tyo)