Virus Corona Bisa Menular Lewat Makanan Beku? Cek Faktanya!

0
167

Jakarta (Samudranesia)- Pada pertengahan September 2020 lalu lembaga bea dan cukai China menolak masuknya satu kontainer beisi produk olahan seafood atau makanan laut milik eksportir Indonesia. Menurut Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan,  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Rina, temuan tersebut diketahui setelah pihaknya menerima notifikasi dari bea cukai atau General Administration of Customs of the People’s Republic of China (GACC) lewat kedutaan besar Indonesia di Beijing per tanggal 18 Sep 2020.

Dalam notifikasi disebutkan ada satu kontainer ikan layur 24,5 ton, yang diekspor oleh PT Puri Indah yang terdeteksi telah terkontaminasi Covid-19. “Yang terkontaminasi adalah kemasan luarnya bukan kemasan yang ada ikannya,” jelas Rina saat berbicara dalam program power lunch CNBC Indonesia, Senin (21/9).

Karena kasus tersebut, per 18 September 2020, Pemerintah Tiongkok menangguhkan impor khusus produk perikanan dari PT Puri Indah.

Wajar pemerintah China bertindak preventif. Sebelumnya, pemerintah kota Shenzen melaporkan adanya temuan kasus positif Covid-19 pada produk sayap ayam beku asal Brasil dan produk udang beku asal Ekuador di sebuah restoran di Provinsi Anhui, China.

China mulai menyoroti kemungkinan penyebaran virus Covid-19 melalui produk impor makanan beku dan olahan yang beredar di negaranya.

Tapi apakah benar virus tersebut bisa menyebar lewat makanan beku?

Mengutip artikel yang ditulis Tuty Siregar, peneliti keamanan pangan dan lingkungan di Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan dalam tulisannya yang diterbitkan di The Conversation, kekhawatiran China menurutnya bukan tanpa alasan.

Menurut perempuan yang sedang menyelesaikan pendidikannya di Universitas Canberra, Australia ini, meski organisasi kesehatan dunia atau WHO sudah menyatakan ketidak mungkinan penyebaran virus Covid-19 melalui produk makanan dan kemasannya namun insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran yang tinggi tentang keamanan produk beku impor yang beredar di China.

Berita di China tersebut bahkan memicu otoritas pangan di Selandia Baru untuk lebih waspada pada produk makanan olahan dan kemasan yang beredar di negaranya. Di Auckland, sebuah kota kecil di negara tersebut muncul berita terjangkitnya warga berusia 50 tahun yang tertular virus Covid-19 dari sang suami yang bekerja di perusahaan pengemasan produk makanan beku.

Namun kemudian pemerintah Selandia Baru menepiskan kecurigaan tersebut. “Bagi kami, kemungkinan tersebut sudah jelas kami kesampingkan sekarang berdasarkan hasil investigasi,” ucap Dr Ashley Bloomfield, Director General of Health Selandia Baru sebagaimana dilansir South China Morning Post

“Hampir semua badan pangan dunia sepakat bahwa tidak ada data ilmiah yang kuat untuk membuktikan bahwa virus SARS-CoV-2 bisa ditransfer melalui makanan,” jelas Tuty.

Untuk menguatkan hal tersebut, para peneliti dari China dan Amerika Serikat melakukan uji coba pada hewan untuk mengetahui apakah virus SARS-CoV-2 dapat ditularkan secara oral. Hasilnya, saat virus memasuki saluran pencernaan akan langsung mati oleh tingkat asam lambung yang tinggi.

“Riset terbaru dari University of Minnesota juga menyatakan proses pemasakan (suhu tinggi) dapat mematikan virus COVID-19, sehingga makanan yang dimasak seharusnya aman dikonsumsi,” tulis Tuty.

Lalu apa benar virus bisa menular dari makanan beku?

Virus Covid-19 dikatakan mampu hidup hingga jangwa waktu 21 hari di dalam suhu dingiMeskipun COVID-19 bisa dikatakan dapat hidup di lingkungan yang dingin dan cenderung beku hingga di bawah minus 20 derajat celcius. Namun virus ini memiliki sifat yang ringkih sehingga tidak cukup kuat untuk menginfeksi tubuh manusia.

Amira Roses, Professor Epidemiologi dan Kesehatan Global dari Universitas di Virginia, AS seperti dikutip dari laman Healthline mengatakan jika sampai saat ini dengan berdasarkan data yang ada, virus-virus yang ditemukan dalam kemasan tidak cukup untuk menyebabkan infeksi pada manusia.

Namun menurut Kepala Laboratorium Mikrobiologi China National Centre for Food Safety Risk Assessment, Li Fengqin, kontaminasi virus melalui makanan beku lebih berpotensi sebagai sumber transimisi.

Lewat hasil tes PCR bisa diketahui jika makanan atau kemasannya positif terinfeksi virus corona. Namun jika sel virus (RNA) sudah mati, maka virus tidak bisa menggandakan diri lagi sehingga bahayanya menjadi hilang. Data pengujian replikasi RNA yang diambil dari pangan terkontaminasi diperlukan untuk menetapkan aturan baru terkait transmisi virus COVID-19 lewat makanan.

“Terlepas dari kemungkinannya sangat kecil, peluang kontaminasi melalui makanan selalu ada,” kata Tuty.

Langkah terbaik untuk mencegah penularannya, kata Tuty, adalah dengan selalu rajin mencuci tangan setelah memegang makanan atau kemasannya,

“Konsumen yang memesan makanan siap saji sebaiknya menghangatkan makanan sebelum dikonsumsi untuk memastikan makanan bebas virus,” tambahnya. “Merepotkan? Iya, pasti. Tapi untuk tetap sehat kenapa harus ragu repot sedikit daripada harus repot lama karena sakit.”