Tokoh Pendidikan Maritim Tutup Usia, Dunia Maritim Indonesia Berduka

0
5980
Kenangan Capt. Mek Slamet Wibowo (memakai peci hitam). Dok Foto: Ketua IKPPNI Capt. Dwiyono Soeyono.

Jakarta (Samudranesia) – Kabar duka datang dari dunia maritim Indonesia. Tokoh pelaut Indonesia sekaligus perintis dari Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) yang sekarang bernama Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) telah berpulang kepada Sang Pencipta.

Dialah Capt. Mek Slamet Wibowo (93 tahun), Direktur AIP kedua setelah Hendri P Kalangie, telah menghembuskan nafas terakhirnya di RS Premier Bintaro pada pukul 17.56 Wib, Selasa (21/1).

Semasa hidupnya, almarhum merupakan tokoh penting dalam dunia pendidikan kemaritiman Indonesia. Dedikasinya dalam mencetak SDM pelaut unggul bangsa Indonesia lewat AIP tak bisa dianggap sebelah mata.

Sejak berdiri pada 27 Februari 1957, AIP telah banyak menorehkan tinta emas bagi dunia maritim Indonesia. Di awal berdirinya, lembaga pendidikan bermotto “NAUYANAM AVASYABHAVI JIVANAM ANAVASYABHAVI” itu dipimpin oleh Hendri P Kalangie, seorang pelaut Indo Belanda yang banyak terlibat dalam dunia pendidikan pelaut era Pemerintahan Kolonial Hindia Belanda.

Dua tahun memimpin lembaga pendidikan yang bertempat di Gunung Sahari – Ancol tersebut akhirnya tampuk kepemimpinan berganti kepada Capt. Mek Slamet Wibowo. Ia merupakan pelaut Indonesia yang pernah dikirim ke Kingspoint Academy, AS untuk menimba ilmu. Di bawah besutanya, AIP menjelma menjadi lembaga pendidikan yang semakin berkelas internasional.

Meneruskan kerjasama oleh direktur sebelumnya, Capt. Mek Slamet Wibowo juga melakukan pengiriman kadetnya ke Kingspoint Academy dan US Merchant Marine. Capt. Mek Slamet Wibowo sendiri merupakan pelaut yang di era perang kemerdekaan sempat menjadi Kadet di Sekolah Angkatan Laut (SAL) Tegal.

Di bawah binaan Komandan SAL Laksamana III Adam, wakil Komandannya Letkol R.S.Hadiwinarso, dan perwira 1 Mayor E.H.Thomas dan Kepala Pendidikan adalah Koen Djaelani, Mek Wibowo muda turut berperang mempertahankan kedaulatan NKRI.

Pada tanggal 21 Juli 1947 saat terjadi Agresi Militer 1 oleh Belanda memaksa SAL-Tegal keluar dari kota Tegal dan bertempur dengan Belanda yang bertugas di front Banjarnegara dan front Parangtritis. Capt. Mek Slamet Wibowo minta kepada Laksamana Adam agar siswa yang di Yogyakarta dipindahkan untuk berperang di Banjarnegara.

Selesai berperang kembali ke AL Yogyakarta namun tidak diberi kantor. Kemudian para siswa itu dilanjutkan ke Jakarta dengan ditambah Tentara Pelajar untuk mengikuti kursus maritim di Sekolah Kader Pelaut-SKP yang diprakarsai oleh Mas Pardi di Jalan Dr.Soetomo.

Ia lulus sebagai Mualim III dan meneruskan kariernya di TNI-AL sampai sekolah Seskoal angkatan III dan berpangkat sebagai mayor Wamil dan sempat bekerja di Gunung Sahari 67 (sekarang Armada I-Guspurla). Ia pernah dikirim ke Papua dalam rangka membangun institusi maritim di sana salah satunya pembuatan Syahbandar di Manokwari, Sorong, Biak, Merauke dan Jayapura serta ikut membantu persiapan operasi Trikora.

Selesai dari itu, ia kembali berkarier di Djawatan Pelayaran sampai dengan Mualim I dan diangkat sebagai Direktur Akademi Ilmu Pelayaran periode 1959-1962.

Berdasarkan wawancaranya dengan Kasubdisjarah Dispenal Kolonel Laut (P) Ronny Turangan pada tahun 2016, Capt. Mek Slamet Wibowo banyak menceritakan mengenai perjalanan hidupnya semasa di SAL dan kisah berdirinya AIP hingga ia menjadi Direktur AIP.

Menurutnya ada 11 kader pelaut yang ditempa di Sekolah Kader Pelaut (SKP), di antaranya Sardana Suharja, Otto Karlio, Amin Nyar untuk koprs Nautika sedangkan koprs Teknik salah satunya adalah Iwan Akhir. Mereka semua dididik oleh Mas Pardi (pendiri BKR Laut dan mantan Kepala Djawatan Pelajaran) dan JP Nieborg.

Seiring berjalannya waktu, SKP kemudian berada di bawah naungan Badan Diklat Perhubungan Republik Indonesia. Hingga tahun 1953 bertransformasi menjadi Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta yang oleh pemerintah kemudian dibangun gedung baru di Jl Gunung Sahari, Ancol (Gedung ini menjadi cikal bakal AIP).

Mas Pardi pun bertindak sebagai peletak batu pertama dalam pembangunan gedung tersebut pada 22 Desember 1952 dan batu terakhir pada 17 Maret 1955. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki dari gedung baru ini antara lain ruang kelas, asrama dengan kapasitas 392 kadet, lapangan bola, tenis, kolam renang serta perumahan untuk direktur dan staf pengajar, instruktur bahari dan teknik serta staf rumah tangga.

Ia menceritakan kerjasama dengan Kingspoint Academy saat itu merupakan hasil hubungan yang erat dengan Kedubes AS di Indonesia. Beberapa taruna/kadet AIP yang dikirim ke Amerika Serikat berkesempatan menimba ilmu  di Kingspoint Academy.

Selama menjadi Direktur AIP, ia kerap mengadakan kerjasama pendidikan maritim dengan Amerika Serikat yang diwakilkan oleh Profesor Raymond Eisenberg sebagai ketua untuk mengefektifkan AIP. Kemudian Eisenberg menunjuk Profesor C.L Souebier sebagai ketua Departemen Mesin. Selain itu ada Kolonel O.Carlson serta Letkol Jhon.H.Ladage sebagai ketua Departemen Nautika.

Pada tahun 1959, tiga instruktur bergabung di antaranya Letkol Myron Thomas dan Profesor Michael Bishansky sebagai pengajar steam engineering/mesin uap. Selanjutnya ada Profesor Edward Low dan Wen Berger yang mengajar mesin diesel. Mereka mengajar selama 6 bulan.

Menurut ulasannya, AIP saat itu terdapat 11 pengajar dari US Merchant Marine. Capt. Mek Slamet Wibowo juga mengusulkan program sekolah tiga tahun menjadi empat tahun dengan rincian teori 3 tahun dan proyek laut 1 tahun.

Praktik laut sudah tidak lagi di kapal latih MV Bimasakti tapi dimasukan dalam perusahan-perusahan pelayaran selama 1 tahun. Menurut Wen Berger pola ini yang cocok untuk pendidikan maritim di Indonesia. Karena dengan seperti itu, pengenalan kadet terhadap praktik pelayaran dalam bidang perniagaan berlangsung cepat.

Jejak kenangan itu kini telah menjadi bekal berharganya menghadap Sang Pencipta. Capt Mek Slamet Wibowo telah tiada, namun prestasi dan semangatnya tetap hidup selama Indonesia masih memiliki lautan.

Saat ini jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Punai 3 Blok T8 No. 4 Sektor 2 Bintaro Jaya Tangerang Selatan 15412 dan akan dimakamkan di TPU Tanah Kusir pada Rabu (22/1).

Selamat Jalan Capt…Semoga Tuhan Memberikan Tempat Terbaik di Sisi-Nya. Aamiin. (Tyo)