Tiru Norwegia, KNTI Minta Pemerintah Kembangkan Inovasi Perikanan Budidaya

1
375
Perikanan Budidaya di Norwegia. Foto: Istimewa

Jakarta (Samudranesia) – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) meminta pemerintah untuk engembangkan inovasi perikanan budidaya. KNTI beranggapan banyak negara-negara yang menguasai ekonomi perikanan dunia telah lama mengembangkan berbagai inovasi budidaya perikanan.

Sebut saja Norwegia, menjadi negara eksportir perikanan terbesar kedua di dunia hanya dengan menguasai teknologi keramba jaring apung dan ikan salmon sebagai komoditas utamanya.

“Belajar dari Norwegia, mereka menjadi eksportir perikanan terbesar kedua di dunia. Mereka mulai dari budidaya kecil dan membenahi aturan. Lalu sekarang jadi industri,” ucap Ketua Harian KNTI Dani Setiawan di Jakarta, Kamis (9/1).

Lanjut Dani menambahkan, negara-negara di ASEAN seperti Vietnam dan Thailand yang menempati posisi ketiga dan keempat dunia dengan udang sebagai salah satu komoditas unggulannya juga metelah menerapkan inovasi perikanan budidaya.

“Thailand dan Vietnam cukup bagus pengelolaannya karena mereka fokus di sektor budidaya. Hasilnya, bukan hanya untuk ekonomi tapi utnuk nelayan,” katanya.

Baca Juga:

Dani melihat budidaya perikanan di Indonesia memiliki potensi besar yang harus digarap secara serius. Maka dari itu, lanjut dia, pemerintah diharapkan dapat membantu untuk merevitalisasi kolam-kolam tambak yang rusak sekaligus mengoptimalkan potensi lahan yang belum tergarap untuk dikelola rakyat secara berkelanjutan.

“Pemerintah memiliki peran besar. Perlu diperkuat kebijakan yang mencakup pemberian akses kepemilikan atau pemanfaatan lokasi budidaya, permodalan, kapasitas produksi, dukungan riset, pelatihan dan investasi infrastruktur,” katanya.

Masih kata Dani, pemerintah dapat menggunakan seluruh sumber daya untuk mengembangkan industri budidaya pada komoditas seperti tuna, kepiting, lobster yang permintaan di pasar global cukup besar.

Dani menegaskan bahwa pemerintah harus membangun infrastruktur budidaya perikanan dalam rangka mendorong kesejahteraan nelayan.

“Dari pada benih langsung di ekspor, jadi lebih baik dipersiapkan infrastruktur, permodalan, serta teknologi untuk potensi budidaya. Jangan budidaya dibiarkan sendiri,” ujarnya.

Dia mengatakan dengan membangun infrastruktur budidaya perikanan dampaknya tentu akan terasa pada ekonomi nasional mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan.

“Sebagai negara kepulauan tropis terbesar di dunia, Indonesia memiliki lebih dari 17 juta hektar lahan maka potensial untuk budidaya perikanan, baik air tawar, payau maupun asin. Namun sayangnya, baru sekitar enam persen termanfaatkan. Itu pun, belum dikelola optimal,” pungkasnya. (Tyo)