Takengon Juga Punya Kopi Gayo

0
130
Dok. cafebrick.co.id

Takengon (Samudranesia) “sembari ngobrolasyiknya memangditemani secangkir kopi hangat. Lebih-lebih, suasananya dingin, nyeruput kopi makin terasa banget sensasinya”. Tak bisa dipungkiri, minum kopi sudah menjadi life style dari sebagian masyarakat, bukan hanya di seantero negeri tercinta ini, tapi juga mendunia.

Gemar minum kopi tentu tak lepas dari kualitas dan cita rasa kopi itu sendiri. Soal ini, harus diakui banyak sekali pilihan kopi yang beredar, terlebih di negeri ini. Semua tentu menawarkan cita rasa terbaiknya. Karenanya, cocok tidaknya cita rasa itu tergantung selera lidah pencinta kopi. Dari begitu banyak kopi produk dalam negeri yang sangat prestisus tentu adalah kopi gayo.

Semua orang bisa jadi cukup akrab dengan istilah Gayo, nama suku sekaligus sebuah dataran tinggi yang terletak di Aceh Tengah, Provinsi Aceh.  Pada ketinggian 1.000 hingga 1.200 mdpl. di dataran ini terdapat perkebunan kopi. Nah, dari perkebunan itulah kopi gayo berasal. Perkebunan yang mulai dikembangkan sejak 1908 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan kini menjadi salah satu sentra produksi kopi jenis arabika terbesar tidak hanya di Indonesia, tetapi juga Asia. Kualitasnya harus diakui masuk dalam jajaran elit kopi kelas dunia.

Bukan rahasia lagi, tempat asal kopi ini dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah yang  beribukota di Takengon dekat dengan Danau Laut Tawar. Lebih-lebih sebagian kawasan perkebunan kopi ini masuk ke dalam wilayah Takengon, maka tak berlebihan, jika kota yang juga dihuni oleh banyak masyarakat Suku Gayo pantas diklaim sebagai produsen kopi ini.

Kopi gayo menjadi begitu dikenal karena karakteristik aroma dan rasanya. Perkebunan kopi yang dikelola oleh perorangan menghasilkan kopi gayo dengan karakerristik yang kuat, keasaman rendah dan sedikit rasa rempah (spice). Meski memiliki rasa yang begitu kuat, tapi kopi ini tidak pahit. Karena karakteristik inilah kopi gayo jadi sangat digemari, terutama di Amerika Serikat dan Eropa.

Sementara karakter yang clean berujung lakunya kopi gayo sebagai campuran house blend. Satu hal yang mesti diingat bahwa kopi ini punya ciri khas yang cenderung rasanya yang tidak konsisten. Bisa begitu lantaran perkebunan kopi di dataran tinggi Gayo memiliki ketinggian berbeda-beda, dengan cara budidaya yang cukup beragam. Kopi yang ditanami di areal serta ketinggian berbeda, plus varietas beragam, hasilnya bisa jadi punya  karakteristik kualitas fisik dan cita rasa berbeda.

Bicara soal proses pengolahan, secara garis besar terdiri atas dua cara, basah dan kering. Pengolahan basah disebut West Indische Bereiding (WIB) dan pengolahan cara kering biasa Ost Indische Bereiding. Perbedaannya, pada proses kering, pengupasan daging buah, kulit tanduk dan kulit ari dilakukan setelah biji kopi kering atau kopi gelondong. Proses basah, pengupasan daging buah dilakukan ketika biji kopi masih basah.

Setiap tahapan dalam proses pengolahan kopi gayo dilakukan dengan sangat teliti. Tak aneh, jika kualitas kopi ini menjadi yang terbaik, serta memiliki sensasi rasa yang luar biasa. Bahkan, mampu melebihi rasa kopi Blue Mountain dari Jamaika. Gak percaya? Coba deh seruput kopi gayo, sensasi rasanya pasti bikin nagih.