Sunda Kelapa yang Tak Henti Membelah Waktu

0
81
Potret Sunda Kelapa saat ini. Dok. genpi.co

Jakarta (Samudranesia) – Melihat perahu-perahu tradisionil yang antik memang sangat mengasyikkan. Mereka bersandar cukup rapi di sepanjang dermaga salah satu pelabuhan tertua di negeri ini, Sunda Kelapa. Ukurannya tak seberapa besar, bahkan bisa dibilang masuk dalam kategori kecil. Tak heran, ketika ombak menghempas kapal-kapal kecil yang terbuat dari kayu itu berguncang cukup kencang. Apalagi jika diikuti angin kencang, bisa dipastikan guncangan itu akan terasa lebih hebat lagi.

Namun di balik ukuran serta bobotnya yang tak seberapa besar itu perahu-perahu yang tampil dengan warna-warni mentereng tersebut telah membuktikan ketangguhannya. Tangguh, tak hanya melawan ganasnya gelombang lautan, tapi juga guliran waktu. Tak heran, kalau mereka tetap bertahan di tengah ganasnya alam. Padahal, gerusan zaman telah mengubah begitu banyak warna kehidupan. Satu yang pasti, modernisasi. Tapi, ternyata tidak untuk perahu-perahu rakyat ini.

Nuansa seperti inilah yang selalu menghiasi Pelabuhan Sunda Kelapa hingga saat ini. Penuh dengan perahu tradisional dengan segala keunikannya. Mereka berasal dari hampir seluruh daerah di negeri ini. Model atau bentuk perahu yang sangat khas itu tentu saja merepresentasi kekhasan daerah masing-masing. Dan, satu hal yang lebih penting, semua moda transportasi laut itu ketangguhannya tak perlu diragukan lagi.

Jika mengulik sejarahnya, sejak Pelabuhan Sunda Kelapa itu ada sejatinya mereka pun sudah berkiprah . Untuk diketahui, pelabuhan ini sudah eksis sejak masa Kerajaan Tarumanegara, sekitar abad-5. Kemudian pada abad-14 pelabuhan ini berpindah tangan, menjadi milik Kerajaan Sunda.  Karena letaknya yang sangat strategis, Sunda Kelapa menjadi pelabuhan yang sangat ramai. Tak hanya disinggahi perahu-perahu tradisional dari daerah-daerah lain di seantero Nusantara ini, tapi juga pelbagai kapal asing, termasuk di antaranya, Tiongkok, Inggris, Arab, India dan Portugis. Mereka pada umumnya adalah kapal-kapal dagang.

Para pedagang Portugis berhasil membangun komunikasi dengan Kerajaan Sunda. Hubungan keduanya bisa terjalin dengan baik. Melihat kondisi itu Kerajaan Demak merasa “terganggu”, dan menganggap ini sebagai ancaman. Lantas, dengan bantuan Kerajaan Cirebon, dan di bawah pimpinan Fatahillah, mereka mengusir Portugis.

Usaha itu berhasil. Portugis terusir dari Sunda Kelapa, tepatnya pada 22 Juni 1527. Kemenangan ini sekaligus menandai lahirnya Kota Jakarta yang pada masa itu oleh Fatahillah diberi nama Jayakarta. Pelabuhan Sunda Kelapa di bawah kekuasaan Demak semakin berkembang. Lalu-lintas perdagangan pun maju kian pesat. Bahkan, kunjungan kapal-kapal dagang asing makin marak. Tak terkecuali, dari Belanda atau VOC yang datang pada 1596 dipimpin oleh Cornelis De Houtman. Tujuan mereka satu, mencari rempah-rempah.

Tak terasa pengaruh Belanda atas Sunda Kelapa terus menguat. Dengan kepiawaiannya mereka berhasil meluluhkan Pangeran Jayawikarta atau Wijayakarta yang diangkat sebagai penguasa di Jayakarta ketika itu. Mereka membuat perjanjian pada 1610, satu di antaranya berisi izin pembangunan gudang serta pos dagang untuk pihak Belanda di sebelah timur Sungai Ciliwung. Setelah itu usaha perdagangan Belanda mengalami kemajuan pesat. Seiring dengan itu pengaruhnya pun terus menguat dan memutuskan untuk mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia.

Tak hanya sampai di situ, pihak Belanda pun lantas merenovasi Pelabuhan Sunda Kelapa. Semula kanalnya yang ada hanya sepanjang 810 meter, kemudian diperpanjang lagi hingga 1.825 meter. Tetapi, memasuki abad-19 terjadi pendangkalan pada kanal tersebut, sehingga menyulitkan kapal-kapal yang akan merapat ke pelabuhan. Akibatnya, Pelabuhan Sunda Kelapa mulai sepi. Padahal, di sisi lain terusan Suez baru saja dibuka yang pastinya membawa pengaruh cukup signifikan terhadap sektor perdagangan bangsa-bangsa Eropa, khususnya Belanda. Sekaligus, menjadi peluang besar bagi Pelabuhan Sunda Kelapa untuk bisa berkembang lebih pesat lagi.   

Melihat kondisi tersebut, Belanda menganggap Pelabuhan Sunda Kelapa sudah tak layak lagi. Karena itu, mereka pun mencari daerah baru yang diklaim sesuai dengan kriteria sebagai sebuah pelabuhan standar. Akhirnya, terpilihlah daerah Tanjung Priok. Dan, memang dalam perkembangannya Pelabuhan Tanjung Priok maju semakin pesat. Sebaliknya, di saat bersamaan aktivitas Pelabuhan Sunda Kelapa pun menunjukkan penurunan.  Kondisi itu terus berlangsung hingga memasuki masa-masa: penjajahan Jepang, paska kemerdekaan, bahkan hingga saat ini.

Wajah Pelabuhan Sunda Kelapa kini boleh dibilang lebih kental akan aktivitas perekonomian rakyat. Aktivitas perekonomian yang didominasi, khususnya oleh masyarakat pesisir di negeri ini. Tak heran, eksistensi Sunda Kelapa sebagai pusat transportasi laut antarpulau di Indonesia masih cukup terasa geliatnya. Tak cuma itu, Sunda Kelapa pun dianggap sangat layak menjadi salah satu destinasi wisata bahari di Jakarta, sekaligus wisata sejarah. Logis, karena pelabuhan ini punya keterkaitan sejarah yang kuat dengan kota ini. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah cikal-bakal kota Jakarta. Tak berlebihan, jika kemudian Pemerintah menetapkan Pelabuhan Sunda Kelapa sebagai situs sejarah. (Guss)