Sikap “Nyeleneh” yang Bikin Covid-19 Kian Subur

0
316

Jakarta (Samudarnesia)-Sejak akhir 2019 serangan gencar wabah Covid-19 belum juga menunjukkan tanda-tanda meredah. Ini terlihat dari grafik sebaran penularannya hingga saat ini malah makin meluas.

Dan, korban yang berjatuhan pun makin banyak. Secara global korban terinfeksi Covid-19 hingga Selasa, 19 Mei 2020 mencapai 4,88 juta, meninggal 319.779, sembuh 1,9 juta orang.

Hal serupa juga terjadi di Indonesia, Selasa, 19 Mei 2020 korban keganasan virus ini terus merangkak naik menjadi 18.496 kasus. Sementara jumlah korban yang meninggal 1.221 dan sembuh 4.467. Memang jika dicermati perbandingan antara korban meninggal dan mereka yang sembuh cukup melegakan. Seolah ada sebuah harapan bahwa wabah virus yang berasal dari Kota Wuhan, Cina ini akan berakhir.

Tapi, yang jadi pertanyaan sampai kapan Covid-19 ini akan benar-benar bisa ditaklukkan? Rasanya cukup sulit diprediksi. Pasalnya, fakta bahwa orang-orang yang positif terjangkit itu terus melonjak jumlahnya. Ini menunjukkan ada ketidakberesan yang terjadi di tengah masyarakat. Sehingga laju penyebaran Covid-19 ini seakan susah dibendung. Memakan korban yang terus bertambah dari hari ke hari.

Padahal Pemerintah sudah memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Mengatur pergerakan manusia secara terbatas, yang di dalamnya menerapkan pula social distancing dan physical distancing. Bahkan bukan cuma itu, untuk mendapatkan hasil yang optimal, Pemerintah juga mengeluarkan larangan mudik. Dari sisi religi, MUI pun tak ketinggalan mengeluarkan himbauan tidak melakukan ibadah berjamaah di musala maupun masjid.

Tapi, seperti pepatah bilang, “anjing menggonggong kafilah tetap berlalu”. Peraturan digaungkan, korban tetap saja berjatuhan. Memprihatinkan. Pemicunya? Sebenarnya jika ditelusuri, tak sulit mencari biang kerok permasalahan ini. Peraturan yang bertujuan untuk memutus rantai penularan Covid-19 sudah diberlakukan. Semua potensi yang diprediksi akan menimbulkan risiko penularan sudah diantisipasi dalam peraturan itu. Seperti: di rumah aja, cuci tangan pake sabun, gunakan masker, dan jaga jarak.

Faktanya, banyak anggota masyarakat dengan seenaknya melakukan kegiatan yang kontra dengan peraturan. Lihat saja, kerumunan di pasar-pasar serta banyak tempat lain terus menjamur. Semua dilakukan tanpa peduli dengan protokol kesehatan yang telah ditentukan. Banyak contoh sikap “nyeleneh” dari sebagian anggota masyarakat yang mengemuka. Di antaranya, terjadi beberapa waktu lalu di Jakarta, saat penutupan restoran Mc Donald, Sarinah, atau kasus pusat perbelanjaan IKEA, Tangerang. Begitu pula, ketika sejumlah orang memaksakan diri melakukan salat berjamaah di sebuah musala di Jakarta Barat.

Melihat kenyataan ini, rasanya tak aneh jika harapan Pemerintah untuk segera meredam gejolak Covid-19 menjadi makin “kabur”. Karena, sehebat apapun peraturan yang diluncurkan pasti akan “kandas”, bila direspon dengan sikap “nyeleneh” sebagian masyarakat. Dan, bukan tak mungkin perilaku ini kian membuat Covid-19 tumbuh subur. Sebab itu, ayo ikuti anjuran Pemerintah: di rumah aja, cuci tangan pake sabun, gunakan masker, jaga jarak dan seterusnya.