Siapkah Pelabuhan Nasional Sambut Eksodus China?

0
84
Pelabuhan Merak.

Oleh: Siswanto Rusdi*

Banyak pabrikan dan industri yang selama ini mencari makan di China akan eksodus ke luar dari sana. Begitu kata media lokal dan internasional. Media lebih lanjut mengungkapkan, negara-negara di kawasan Asia Tenggara masuk dalam layar radar para investor yang akan hengkang itu.

Myanmar dan Kamboja adalah negara-negara yang diincar oleh mereka. Indonesia tentu saja termasuk lokasi yang juga diminati. Alasan migrasi, demi mencari biaya pekerja (labor cost) yang lebih direndah dibanding di China yang terus membubung tinggi.

Masing-masing pemerintahan kini tengah berpacu dan berlomba di antara mereka untuk membetot perhatian para investor itu agar mau memarkirkan uangnya di negara mereka. Salah satu yang ditawarkan oleh pemerintahan negara-negara tujuan dalam menarik investasi eks China itu adalah fasilitas pelabuhan. Ini tawaran yang menarik sebenarnya. Sejauh negara-negara ini melakukan hal berikut.

Menurut Eleanor Hadland, senior analyst pada firma konsultasi kemaritiman Drewry yang dikutip oleh portal The Loadstar, diperlukan investasi sekitar AS$13 milyar untuk mengembangkan terminal-terminal peti kemas yang ada di kawasan Asia Tenggara. Supaya bisa melayani migrasi throughput dari China yang diperkirakan mencapai 267 juta twenty foot equivalent unit (TEU). Di sisi lain, agregat kinerja kontainer kawasan Asia Tenggara hanya 159 juta TEU.

Analis tersebut menjelaskan bahwa kebutuhan investasi sebesar itu diperlukan oleh Indonesia, Myanmar dan Kamboja untuk meningkatkan kapasitas terminal peti kemas internasional mereka hingga mampu meng-handle 30 juta TEU. Eleanor lebih lanjut menjelaskan, kelemahan utama pelabuhan di negara-negara ini dibanding pelabuhan di China adalah konektivitas antarpelabuhan di dunia.

Saat ini di China terdapat 40 terminal di 18 pelabuhan yang mampu melayani kapal-kapal berkapasitas mulai dari 14.000 TEU hingga kapal peti kemas jumbo dengan throughput 267 juta TEU. Konektivitasnya juga sangat global. Jika eksodus investor China terjadi (sebetulnya sebagian dari mereka sudah mengalihkan usahanya ke kawasan Asai Tenggara), pelabuhan/terminal peti kemas di Indonesia, Myanmar dan Kamboja dapat dipastikan akan kelojotan.

Di samping masalah teknis kepelabuhan, negara-negara yang tengah merayu investor eks China juga dihadapkan dengan kesiapan sumberdaya insani di bidang kepelabuhanan. Dengan populasi terbesar di dunia, tentu saja amat logis jika jumlah pekerja sektor pelabuhan di negeri Panda tersebut lebih banyak dibanding sejawatnya di negara manapun di dunia ini. Pekerja pelabuhan di sana produktivitasnya berada pada level 334 TEU/1.000 pekerja.

Tidak diketahui dengan saksama berapa kemampuan pekerja pelabuhan kita per TEU. Saya kesulitan mencari datanya. Bila kepindahan investor dari China terus berlanjut dan Indonesia berhasil merebut lebih banyak pelaku bisnis menanamkan duitnya di sini, masalah tenaga kerja ini akan menjadi ujian tersendiri bagi pemerintah. Pertanyaannya, siapkah pemerintah menanganinya?

*Penulis adalah Direktur The National Maritime Institute (Namarin), pengamat maritim Indonesia