Si Jagur, antara Mistik dan Meriam Antik

0
46
Meriam Si Jagur Dok. Indonesia.go.id

Jakarta (Samudranesia) – Di masa perang Si Jagur pastinya menjadi sosok yang sangat ditakuti. Bukan karena “tongkrongannya” yang besar dan hitam legam atau pun suaranya yang menggelegar semata, tapi jelas ada lainnya di luar itu. Si Jagur tak lain adalah meriam yang menjadi alat pembunuh yang bisa bikin ciut lawan-lawannya. Bisa jadi, tak sedikit yang telah menjadi korban amukan mesin perang tempo dulu ini.

Kini, meriam Si Jagur sudah beralih fungsi sejak resmi “dipensiunkan”. Dari alat pembunuh yang paling ditakuti menjadi salah satu koleksi benda pusaka yang disukai. Sedikit mengulik sejarah Si Jagur bahwa meriam ini dibuat pada 1641. Materialnya merupakan hasil peleburan dari sebanyak 16 meriam lain yang berukuran kecil. Dibuat oleh Manuel Tavares Bocarra di Macau, China. Lalu, ditempatkan di sebuah benteng, bernama St Jago de Barra. Dari potongan nama benteng itu, “Jago” yang kemudian diadopsi sekaligus diadaptasi menjadi Si Jagur.

Si Jagur adalah meriam dengan kaliber 25 cm, panjang 3,85 m dan bobotnya mencapai 3,5 ton. Secara kasat mata ada hal yang unik dari meriam buatan Portugis ini. Yakni, tangan wanita memakai gelang dengan jempol yang  diapit oleh telunjuk dan jari tengah. Bukan rahasia lagi, jika asumsi banyak orang di negeri ini simbol tersebut punya konotasi yang “porno”. Tapi sebenarnya tidaklah begitu. Simbol itu dalam Bahasa Potugis disebut “fico” yang artinya keberuntungan. Sekaligus, sebagai simbol ejekan buat musuh Portugis pada masa itu yakni Belanda.

Meriam Si Jagur lantas berpindah tangan dari Portugis ke Belanda. Dan dari Malaka meriam tersebut diboyong ke Batavia oleh Belanda. Seiring dengan perjalanan waktu, setelah bebas tugas, Si Jagur pun ditempatkan di Museum Fatahillah Jakarta atau sekarang berubah jadi Museum Sejarah Jakarta di Jalan Taman Fatahillah No. 1. Statusnya menjadi salah satu benda pusaka yang dipamer di museum tersebut.

Hebatnya lagi, Si Jagur tak hanya sekadar menjadi benda pajangan yang melengkapi koleksi Museum Sejarah Jakarta, tapi ternyata lebih dari itu. Sebagian masyarakat menganggap meriam ini memiliki “kekuatan” magis. Ada takhayul yang berkembang tentang meriam itu. Salah satunya, Si Jagur diklaim bisa mendatangkan kesuburan.

Sebab itu, tak sedikit kaum hawa yang begitu mendambakan keturunan kerap terlihat berkerumun di lokasi ini. Dan, menurut cerita yang berkembang duduk di atas meriam ini akan membuat mereka ingin punya anak bisa terkabul. Tak aneh, kalau kemudian mereka berusaha melakoni “aturan main” itu.

Cerita magis lain yang yang tak kalah heboh menyelimuti Si Jagur adalah meriam ini bisa mendatangkan jodoh. Karenanya, tak sedikit pula masyarakat yang berkunjung sebenarnya demi mencapai tujuan itu. Satu hal lagi, saking kramatnya Si Jagur kadang ada saja anggota masyarakat yang datang hanya sekadar menaruh sesaji atau pun bunga. Akhirnya, demi mencegah praktik-praktik seperti itu pihak pengelola pun membuat pagar yang lebih tinggi. (Guss)