Sertifikasi CPPIB Diharapkan dapat Tingkatkan Pendapatan Pembudidaya Ikan

0
198
Pakan Ikan Mandiri

Jakarta (Samudranesia) – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus menggenjot produksi pakan ikan untuk meningkatkan pendapatan pembudidaya ikan. Melalui Gerakan Pakan Ikan Mandiri (Gerpari), pemerintah berupaya memenuhi kebutuhan pakan secara efisien dan berkualitas dengan harga yang terjangkau.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, meyakini pakan mandiri yang dihasilkan oleh pembudidaya saat ini telah memiliki kualitas yang tidak kalah jauh dengan pakan komersial. Inovasi formula pakan yang sudah banyak berkembang dengan penambahan silase, enzym dan penggunaan bahan baku lokal seperti Palm Karnel Milk (PKM) kelapa sawit, tanaman indigofera atau maggot yang dikenal dengan Black Soldier Fly (BSF) berhasil meningkatkan efisiensi dan kualitas pakan.

“KKP melancarkan beberapa strategi yang telah diterapkan pada kelompok pembuat pakan ikan mandiri di antaranya dengan mendorong penggunaan bahan baku lokal serta penguatan kelembagaan kelompok. Sedangkan dari sisi regulator, KKP turut berperan dalam mengendalikan harga jual pakan mandiri serta menyediakan bantuan akses permodalan,” kata Slamet di Jakarta, Kamis (6/2).

Dalam rangka mengendalikan sistem mutu pembuatan pakan ikan, KKP juga telah melaksanakan sertifikasi Cara Pembuatan Pakan Ikan yang Baik (CPPIB). Ini dilakukan sebagai upaya pencegahan terjadinya penyimpangan mutu pakan yang dapat merugikan konsumen.

Sebagai informasi, hingga tahun 2019 sebanyak 57 unit pembuatan pakan ikan mandiri telah mendapatkan sertifikat CPPIB dengan rincian 25 unit produsen pakan ikan mandiri skala industri, 26 unit produsen pakan ikan mandiri skala kelompok dan 6 unit produsen pakan ikan mandiri di Unit Pelaksana Teknis (UPT) lingkup Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) KKP.

Slamet menambahkan, untuk tahun 2020 KKP akan melanjutkan strategi pengembangan pakan ikan mandiri dengan memberikan dukungan kepada pembuat pakan ikan mandiri skala kecil berupa mesin dan bahan baku pakan. Selain itu akan dilakukan pembangunan pabrik pakan mandiri di sentra budidaya dan unit percontohan pakan alami.

Baca Juga:

KKP juga bekerjasama dengan Asosiasi Pakan Mandiri untuk terus melakukan pendampingan teknis dan formulasi pakan ikan kepada kelompok Gerpari Pemula, khususnya penerima bantuan mesin pemerintah serta melakukan pengembangan dan inovasi mesin pakan aplikatif yang mudah dari segi operasional dan perawatan.

Hingga November 2019, total produksi pakan mandiri secara nasional mencapai 32.557 ton. KKP menargetkan ke depan kontribusi pakan mandiri terhadap kebutuhan pakan nasional akan lebih besar lagi. Dimana saat ini diperkirakan kontribusinya baru sekitar 17%.

”Menyikapi tantangan ketersediaan bahan baku alternatif yang berkualitas dan kontinyu, KKP telah membuka kerjasama dengan berbagai pihak seperti dengan FAO untuk menghasilkan pakan mandiri bermutu tinggi dengan bahan baku yang mudah untuk didapatkan,” jelasnya.

Sebelumnya KKP telah bertemu dengan perwakilan Organisasi PBB untuk Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization/FAO) sebagai upaya mendorong inovasi penggunaan pakan alternatif untuk budidaya ikan menggunakan Maggot atau yang dikenal dengan Black Soldier Fly (BSF).

Dalam proyek kerjasama “Supporting Local Feed Self-Sufficiency for Inland Aquaculture in Indonesia” pada tahun 2019, FAO juga telah berhasil memformulasi pakan ikan dengan menggunakan bahan baku PKM dengan hasil yang menggembirakan.

“Kami tentu akan menindaklanjuti dengan melakukan sosialisasi penggunaan pakan alternatif maggot serta formulasi pakan ikan berbahan baku PKM ini ke pelaku pakan mandiri di daerah lain. Selain itu, rekomendasi dari FAO seperti pentingnya proses pengeringan dan penggilingan pakan kami harapkan untuk diperhatikan kepada pelaku pembuatan pakan ikan mandiri. Tentunya kerjasama dan dukungan FAO kepada Indonesia dalam memajukan sub sektor akuakultur juga kami harapkan dapat terus terjalin dengan baik,” pungkas Slamet.

Sebagai informasi, kelompok pembudidaya ikan Mandiri Sentosa di Desa Marga Agung, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan, tak hanya memanfaatkan tepung ikan, tetapi juga memanfaatkan tumbuhan indigofera (kandungan proteinnya sebesar 23–26 persen) sebagai bahan baku pakan mandirinya, dan telah diperoleh hasil kualitas pakan yang bagus dengan kadar proteinnya 34,7 persen. (Ars)