Selamat Jalan Capt. Mek Slamet Wibowo…!

0
2289
Foto Dok Samudranesia

Jakarta (Samudranesia) – Langit mendung mengiringi pemakaman TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Rabu (22/1) kala jenazah orang yang berjasa besar bagi pendidikan maritim Indonesia turun dari mobil jenazah. Dengan diiringi upacara secara sederhana dan Penghormatan Terakhir dari Taruna STIP (Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran), jenazah tersebut menuju liang lahat yang telah disiapkan.

Tampak puluhan orang mengelilingi sekitar pusara tempat Direktur Akademi Ilmu Pelayaran (AIP- nama awal STIP) ini akan dikebumikan. Iringan doa melepas kepergian tokoh penting dalam merintis AIP tersebut.

Banyak kisah yang ditinggalkan almarhum baik kepada keluarga maupun para kolega terdekatnya. Cita-cita membangun SDM pelaut Indonesia yang unggul dan berkarakter terus dilakoninya hingga akhir hayat.

Capt. Mek Slamet Wibowo lahir di Malang 93 tahun yang lalu. Hari ulang tahunnya ke-93 juga menjadi hari dirinya menghadap Sang Pencipta. Almarhum meninggal di RS Premier Bintaro pada pukul 17.56 Wib, Selasa (21/1) kemarin. Jenazahnya sempat disemayamkan di rumah duka di Kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Selepas Dzuhur, tokoh maritim yang pernah menimba ilmu di Kingspoint Academy, AS itu disholatkan di Masjid Al-Hidayah Punai Raya, Bintaro. Prosesi pemakaman itu turut dihadiri oleh Pejabat Kementerian Perhubungan Capt. Sahattua P Simatupang yang juga pernah menjabat sebagai Direktur STIP.

Prosesi Pemakamam Capt. Mek Slamet Wibowo

Jasa-jasanya dalam membangun lembaga pendidikan maritim yang maju sangat tak ternilai dari almarhum. Kepergiannya tentu menjadi duka yang mendalam bagi dunia kemaritiman Indonesia.

Manusia wafat meninggalkan nama dan jasa, itulah ungkapan yang pantas disematkan kepada almarhum. Capt. Mek Slamet Wibowo merupakan pelaut hebat Indonesia yang di era perang kemerdekaan sempat menjadi Kadet di Sekolah Angkatan Laut (SAL) Tegal.

Di bawah binaan Komandan SAL Laksamana III Adam, wakil Komandannya Letkol R.S.Hadiwinarso, dan perwira 1 Mayor E.H.Thomas dan Kepala Pendidikan adalah Koen Djaelani, Mek Wibowo muda turut berperang mempertahankan kedaulatan NKRI.

Pada tanggal 21 Juli 1947 saat terjadi Agresi Militer 1 oleh Belanda, memaksa SAL-Tegal keluar dari kota Tegal dan bertempur dengan Belanda yang bertugas di front Banjarnegara dan front Parangtritis. Capt. Mek Slamet Wibowo minta kepada Laksamana Adam agar siswa yang di Yogyakarta dipindahkan untuk berperang di Banjarnegara.

Selesai berperang, ia kembali ke AL Yogyakarta namun tidak diberi kantor. Kemudian para siswa itu dilanjutkan ke Jakarta dengan ditambah Tentara Pelajar untuk mengikuti kursus maritim di Sekolah Kader Pelaut-SKP yang diprakarsai oleh Mas Pardi di Jalan Dr.Soetomo.

Di bawah tempaan tangan dingin Mas Pardi dan JP Nieborg inilah, Capt. Mek Slamet Wibowo akhirnya menjadi tokoh pelaut yang memiliki jasa besar dalam mencetak SDM maritim yang tangguh dan andal pada upaya menuju negara maritim yang besar.

Ia lulus sebagai Mualim III dan meneruskan kariernya di TNI-AL sampai sekolah Seskoal angkatan III dan berpangkat sebagai Mayor Wamil serta sempat bekerja di Gunung Sahari 67 (sekarang Armada I-Guspurla). Ia pernah dikirim ke Papua dalam rangka membangun institusi maritim di sana salah satunya pembuatan Syahbandar di Manokwari, Sorong, Biak, Merauke dan Jayapura serta ikut membantu persiapan operasi Trikora.

Selesai dari itu, ia kembali berkarier di Djawatan Pelayaran sampai dengan Mualim I dan diangkat sebagai Direktur Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) periode 1959-1962.

Bedasarkan wawancaranya dengan Kasubdisjarah Dispenal Kolonel Laut (P) Ronny Turangan pada tahun 2016, Capt. Mek Slamet Wibowo banyak menceritakan mengenai perjalanan hidupnya semasa di SAL dan kisah berdirinya AIP hingga ia menjadi Direktur AIP.

Kolonel Laut (Purn) Ronny Turangan mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga almarhum.

 Menurutnya ada 11 kader pelaut yang ditempa di Sekolah Kader Pelaut (SKP), di antaranya Sardana Suharja, Otto Karlio, Amin Nyar untuk koprs Nautika sedangkan koprs Teknik salah satunya adalah Iwan Akhir. Mereka semua dididik oleh Mas Pardi (pendiri BKR Laut dan mantan Kepala Djawatan Pelajaran) dan JP Nieborg.

Seiring berjalannya waktu, SKP kemudian berada di bawah naungan Badan Diklat Perhubungan Republik Indonesia. Hingga tahun 1953 bertransformasi menjadi Akademi Ilmu Pelayaran Jakarta yang oleh pemerintah kemudian dibangun gedung baru di Jl Gunung Sahari, Ancol (Gedung ini menjadi cikal bakal AIP).

Mas Pardi pun bertindak sebagai peletak batu pertama dalam pembangunan gedung tersebut pada 22 Desember 1952 dan batu terakhir pada 17 Maret 1955. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki dari gedung baru ini antara lain ruang kelas, asrama dengan kapasitas 392 kadet, lapangan bola, tenis, kolam renang serta perumahan untuk direktur dan staf pengajar, instruktur bahari dan teknik serta staf rumah tangga.

Ia menceritakan kerjasama dengan Kingspoint Academy saat itu merupakan hasil hubungan yang erat dengan Kedubes AS di Indonesia. Beberapa taruna/kadet AIP yang dikirim ke Amerika Serikat berkesempatan menimba ilmu di Kingspoint Academy.

Kini Capt. Mek Slamet Wibowo telah tiada, namun jasa dan semangatnya tak pernah sirna meskipun jasad telah terpendam. Nama besar Capt. Mek Slamet Wibowo tetap terukir dengan tinta emas dalam sejarah kemaritiman Indonesia. Selamat Jalan Capt.Mek Slamet Wibowo, Semoga Memperoleh Tempat Terindah di Sisi Allah Swt…Aamiin YRA. (Tyo)