Sejumput Asa dari Ritual Qurban di Tengah Pandemi

0
77
Proses pemotongan hewan qurban

Jakarta (Samudranesia) – Berharap dan terus berharap tak bisa dipungkiri sudah menjadi kodrat manusia sebagai hamba terhadap Tuhan-nya. Tuhan, Allah azza wa Jalla, Sang Pencipta dan Penguasa Tunggal di jagat raya ini, tempat berkeluh kesah dan pastinya meminta. Sebagai hamba yang sejatinya tak punya daya maupun upaya meminta tentu menjadi ritual yang tak mungkin dihindari. Karena, Islam memang mengajarkan kepada setiap pemeluknya untuk meminta apapun itu di saat-saat tumpukan persoalan menghimpit.

Tak berlebihan jika hari raya Idul Adha 1441 H. kali ini dianggap menjadi momen yang sangat ideal untuk mencurahkan segala problema yang tengah berkecamuk. Bukan rahasia lagi, di hari yang sangat sakral seperti ini bermunajat kepada Sang Khalik jelas sangat tepat. Dan, kemungkinan doa yang dilantunkan akan di-ijabah menjadi sangat besar. Tak heran, kalau dalam momen ini umat Islam bagai berlomba untuk melakukan ritual itu.

Kenapa hari Idul Adha menjadi momen yang ideal untuk mencurahkan seluruh problem yang tengah bergejolak selama ini? Seperti sudah diulas, ini menjadi hari yang sangat baik dan sakral yang tentunya sangat pas untuk bermunajat. Memohon kepada Allah SWT agar mengangkat masalah-masalah berat yang tengah membelenggu bangsa dan negara ini. Salah satunya virus corona atau Covid-19.

Sejak diumumkan Presiden Joko Widodo, 2 Maret 2020, Covid-19 seolah makin membabibuta menyasar ke semua orang. Tak lagi pandang bulu, virus mematikan itu terus “unjuk gigi”, menelan banyak korban. Dimulai dari dua warga Depok, Jawa Barat – ibu dan anak – yang tejangkit ketika itu, kini virus yang berasal dari Wuhan, Cina itu sudah menembus angka 108.376 kasus (Jumat, 3/7/2020 pukul 15.08 WIB). Sementara mereka yang dinyatakan sembuh secara akumulatif mencapai 65.907 dan 5.131 meninggal dunia.

Fatalnya, Covid-19 bukan hanya memakan korban jiwa saja, tapi juga seolah menghadirkan efek domino terhadap sektor lain. Yang paling nyata berimbas pada sektor ekonomi. Lihat saja, banyak sekali elemen-elemen di sektor ini yang kemudian mandek, atau bahkan gulung tikar. Dan, akibatnya tak sedikit perusahaan yang harus mengeluarkan kebijakan pemutusan hubungan kerja (PHK) dan lain sebagainya. Akibatnya, pengangguran pun makin membludak, dan secara ekonomi tingkat kemampuan warga terdampak, atau daya beli mereka pun kian lemah.

Menghadapi situasi yang sangat “miris” memang Pemerintah tidak tinggal diam. Berbagai kebijakan untuk menyelamatkan kondisi ini pun digulirkan, dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) hingga “New Normal”. Sayangnya, semua itu belum menunjukkan hasil yang melegakkan. Covid-19 belum juga menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Justru, yang nampak jumlah korban keganasan virus ini makin menjadi-jadi dari waktu ke waktu. Kenapa begitu? Dari banyak pengamatan, pemicunya yang sangat dominan karena kedisiplinan warga masyarakat yang sangat rendah.

Lalu, masih adakah asa bahwa Covid-19 akan hilang dari negeri ini? Pasti ada. Idul Adha inilah momen sakral yang pas untuk memperkuat kembali tekad membebaskan Indonesia dari wabah virus tersebut. Dimulai lewat doa dari seluruh elemen masyarakat muslim khususnya. Memohon kepada Sang Khalik agar Covid-19 segera diangkat dari Bumi Pertiwi tercinta. Tak berlebihan rasanya dengan doa yang dilantunkan secara masif, ditambah doa dari warga masyarakat beragama lain, harapan itu akan jadi nyata. Harus diingat, doa itu punya kekuatan yang luar biasa.

Pararel dengan itu, kedisiplinan sebagian warga masyarakat yang terbilang rendah harus juga ditingkatkan. Semua kebijakan Pemerintah, terkait Protokol Kesehatan harus dipatuhi. Disiplin menggunakan masker, disiplin mencuci tangan dengan sabun, disiplin jaga jarak hingga disiplin untuk menghindari dari kerumunan. Jadi jelas, disiplin dalam konteks ini sangat perlu, bahkan dalam hidup secara integral. Tak heran, karena pentingnya disiplin, agama pun mengajarkan terkait ini.

Yang juga tak kalah pentingnya, pemotongan hewan kurban di hari yang suci ini. Bisa jadi, tak sedikit hewan, entah itu sapi, kerbau, kambing atau pun domba yang dikorbankan pada peristiwa Idul Adha tahun ini. Tentunya, hewan kurban tak hanya punya nilai ibadah di hadapan Allah, tetapi juga punya nilai sosial dan ekonomi yang signifikan, khususnya bagi kaum muslim yang kebetulan hidup kurang beruntung. Hal yang serupa pasti dirasakan pula oleh warga masyarakat terdampak Covid-19, tak terkecuali korban PHK dan sebagainya.

Jadi, melihat faktanya, cukup relevan kalau hari raya Idul Idha tahun ini diklaim punya makna strategis. Selain baik sebagai momen untuk berdoa secara khusuk agar Covid-19 sirna, juga pas sebagai ajang untuk meningkatkan kedisiplinan. Plus, kesempatan untuk membantu warga masyarakat yang terdampak. (Guss/Ars)