Seandainya Protokol Kesehatan Dijadikan Benteng

0
61
Dok. sulawesi.bisnis.com

Jakarta (Samudranesia) Bisa jadi, korbannya pun gak bakal tambah membludak. Malah pastinya terus berkurang. Tapi nyatanya, nyaris setahun Covid-19 unjuk gigi di muka bumi ini makin merajalela. Korbannya tentu bukan lagi dalam hitungan jari, tapi sudah menembus angka 35 juta lebih. Dan, korban yang akhirnya harus meregang nyawa sudah mencapai lebih dari 1 juta jiwa.

Nah, di Indonesia sendiri keganasan Covid-19 sudah menelan korban meninggal 11.157, lalu kasus terinfeksi menembus angka 303.498, serta pasien sembuh 228.453 (Data, 4 Oktober 2020). Jika dibandingkan dengan jumlah korban di level dunia, mungkin Indonesia belum ada apa-apanya. Meski begitu, tetap saja ada perasaan miris yang terus menggelayuti di balik situasi tersebut.

Bukan rahasia lagi, pemunculan perdana virus mematikan ini di Indonesia terbilang lebih lambat ketimbang sejumlah negara lain di dunia, khususnya Cina. Tapi, dari sisi kuantitas korban, seolah mengekor dengan banyak negara di belahan bumi yang lain, cenderung meningkat. Lonjakan korban dari waktu ke waktu seperti terlalu muskil untuk dibendung. Masih ingat, ketika Presiden Joko Widodo mengumumkan pertama kali tentang Covid-19 pada 2 Maret 2020, korbannya cuma 2 orang.

Sekarang, lihat saja faktanya. Setelah delapan bulan melanda negeri ini Covid-19 sudah menelan korban ratusan kali lipat sejak pemunculan perdananya. Sekali lagi, dilihat secara statistik memang masih jauh jika disanding dengan korban virus ini secara global. Tapi, sejatinya bukan status itu yang tentu saja ingin dicapai. Harapan semua, setelah sekian lama bercokol, paling tidak korban Covid-19 ini akan makin berkurang dari waktu ke waktu, kalau gak bisa dihentikan sama sekali.

Padahal, di saat berbarengan Pemerintah tak pernah tinggal diam. Segala upaya demi meredam lajunya Covid-19 sudah dilakukan. Pelbagai program pun digulirkan, seperti Protokol Kesehatan yang di dalamnya memuat aturan, mulai dari memakai masker, cuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak. Lalu juga tak ketinggalan social distancing dan physical distancing.

Bahkan, bukan cuma itu. Pemerintah pun lantas menggulirkan program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dan new normal. Lalu, kenapa program-program ini tak juga mampu menjinakkan liarnya Covid-19? Apa yang salah dengan program ini? Dari hasil pengamatan, sejatinya semua program itu gak ada yang salah. Cuma sayangnya, antusiasme masyarakat untuk merespons itu semua masih jauh dari harapan. Ada satu kondisi yang paling mencolok yang boleh dibilang menjadi biang keladi, sehingga program tersebut seperti mandek, yakni kedisiplinan.

Cukup miris memang bahwa tingkat kedisiplinan masyarakat dalam konteks ini masih rendah. Mereka abai dengan semua aturan yang ditetapkan Pemerintah.

Terbukti, tak sedikit masyarakat yang kelewat cuek ketika harus beraktivitas, tanpa masker, tanpa jarak pula. Dan, yang lebih memprihatinkan masih banyak pula yang sangat apriori terhadap wabah penyakit ini. Mereka menganggap Covid-19 itu gak ada. Sehingga, mereka pun dengan seenaknya melakukan kegiatan secara serampangan. Bahkan, ada lagi kelompok masyarakat yang ngeyel dan menganggap corona cuma rekayasa. Serta, ada juga pemahaman bahwa soal mati dan hidup itu Tuhan yang menentukan, bukan corona.

Melihat fakta seperti itu, rasanya gak berlebihan, kalau korban Covid-19 kian hari bukannya tambah susut, atau bahkan terhenti, malah sebaliknya makin berjibun. Parahnya lagi, ganasnya virus ini juga berimbas pada aspek kehidupan lainnya. Salah satunya, sektor ekonomi. Bisa dilihat betapa kehidupan di sektor ini yang carut-marut. Bahkan, di banyak negara di dunia yang sudah terlebih dahulu dilanda resesi, akibat Covid-19. Contohnya, Amerika Serikat, Jerman, India dan Korea Selatan.

Banyak perusahaan di banyak negara di dunia yang mengalami resesi harus gulung tikar. Dan, mereka pun terpaksa harus melakukan pemutusan hubungan kerja. Akibatnya, jumlah pengangguran pun kian bertambah banyak. Ini jelas memicu melemahnya daya beli masyarakat. Bayangkan, kalau kondisi ini terus dibiarkan begitu saja. Dunia akan collaps dan akan muncul masa-masa yang sangat mengerikan bagi seluruh umat manusia.

Tentu, kita gak ingin dong situasi yang mengerikan itu terjadi di negeri tercinta ini. Makanya, kita perlu membangun kembali kesadaran untuk selalu patuh pada Protokol Kesehatan. Selalu memakai masker saat beraktivitas, tetap jaga jarak dan selalu cuci tangan dengan sabun setelah beraktivitas. Satu lagi, lebih baik di rumah saja, jika tak ada keperluan urgent. Nah, biar program ini bisa menjangkau khalayak yang lebih luas lagi, jadilah agen kesehatan dengan ikut menyebarluaskan Protokol Kesehatan kepada setiap orang. Yuk, kita lawan bersama Covid-19. Dan, bagaimana kalau “Protokol Kesehatan” kita jadikan benteng?