Sandeq, Perahu Tradisional Tercepat di Dunia Asli Suku Mandar

0
205
Perahu sandeq tengah beraksi Dok. desapambusuang.wordpress.com

Jakarta (Samudranesia) – Sandeq memang identik dengan Mandar, salah satu suku di negeri ini yang mendiami Pulau Sulawesi bagian barat. Seperti suku lain yang tinggal di kawasan pesisir, kehidupan Suku Mandar pun sangat lekat dengan kehidupan laut. Tak heran, jika masyarakat suku ini sangat piawai melakukan segala aktivitasnya yang “berbau” laut. Salah satunya, tentu saja membuat perahu. Dan, perahu sandeq itulah hasil karya fenomenal mereka.

Sandeq fenomenal karena performanya yang luar biasa untuk sebuah perahu tradisional. Punya speed 15 – 29 knot, hanya dengan mengandalkan hembusan angin lewat layar. Modelnya ramping, panjang 6 – 9 m dan lebar 1,5 – 2 m dengan bentuk haluan maupun buritan runcing. Haluan dan buritan disebut paccong. Paccong uluang untuk haluan dan paccong palaming untuk buritan. Dan, nama sandeq sendiri diambil dari Bahasa Mandar, “sande” yang berarti “runcing”.

Yang juga menjadi ciri khas perahu sandeq adalah cadik di kiri dan kanan sebagai penyeimbang, disebut baratang. Jumlahnya dua, di haluan namanya baratang uluang dan di bagian tengah, baratang palaming. Di setiap ujung cadik dipasang bambu penyeimbang atau palatto. Lalu, baratang dan palatto dihubungkan oleh kayu berbentuk siku disebut “tari”.

Sebagai perahu tradisional yang pergerakannya mengandalkan angin, sandeq pastinya memiliki layar,dan bentuknya segitiga. Lalu tiang atau pallayarang dan bon disebut peloang, atau gulungan. Fungsinya, untuk menggulung layar seusai berlayar. Ciri khas lain dari perahu sandeq adalah warnanya yang serba putih. Siapa pun pemiliknya serta tahun berapa dibuatnya, tanpa kecuali semua berwarna putih. Alasannya sangat simpel, agar terlihat bersih dan rapi.

Sedikit mengilas balik ke belakang, sebenarnya sandeq merupakan hasil jelmaan perahu terdahulu Suku Mandar, yakni pakur. Perahu ini juga bercadik, bentuknya terbilang kasar dengan ukuran yang agak lebih besar. Lantas, perahu ini pun diubah menjadi sandeq, dengan pertimbangan agar lajunya bisa lebih cepat. Dan, pemunculan perdana perahu ini pada 1930-an di Pambusuang, salah satu desa pelaut di Kecamatan Balanipa sekarang. Hasilnya, sangat mengagumkan. Kecepatan sandeq konon menjadi perahu tradisional yang tercepat di dunia.

Hal serupa juga terjadi dengan pakur. Perahu ini boleh dibilang menjadi turunan perahu “olang mesa” namanya. Pada zamannya, baik pakur maupun olang mesa digunakan sebagai moda tranportasi laut untuk mengangkut bahan pangan dan sebagainya ke pelbagai daerah di seluruh Nusantara. Tak berlebihan, jika sandeq diklaim sebagai model perahu asli rancangan masyarakat mandar yang sistematik sesuai tuntutan zaman.

Jika dicermati perahu sandeq itu terdiri dari beberapa jenis. Pengelompokan didasarkan pada karakter nelayan Mandar. 1) Pangoli. Diawaki 1-2 orang, berukuran 3-4 m. Melaut dari waktu subuh hingga sore hari. Alat tangkapnya hanya berupa tali monofilamen, kail plus umpan. 2) Parroppong. Awak 2-3, atau 4 orang, ukuran sedikit lebih besar dari jenis pangoli, melaut 3-7 hari. Lokasi penangkapan lebih jauh dari pangoli dan berpusat di roppong (rakit yang ditanam di laut).

3) Pallarung. Awak 4-6 orang, lama melaut 30 hari, target tangkapan ikan dasar laut yang biasa disebut bau batu.  Untuk mengawetkan hasil tangkapan dibekukan dengan es dalam peti khusus atau thermos. 4) Potangga. Model perahu sama dengan pallarung. Yang berbeda hanya jenis dan cara penangkapan hasil laut. Target potangga ikan terbang “Cypsilurus Altipennis” atau tuing-tuing, tapi diutamakan telurnya. Alat tangkapnya disebut; buaro, epe epeq, gandrang dan sebagainya. Terbuat dari bambu dan daun kelapa. Melaut saat musim angin timur, antara Mei – akhir Agustus. (Guss)