Revitalisasi Tambak Udang, Pemerintah Ubah Model Tradisional ke Semi Intensif

0
99
Tambak udang model tradisional di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.

Buol (Samudranesia) – Revitalisasi tambak udang digenjot oleh pemerintah untuk memenuhi target ekspor 250 persen. Terkait itu, Kemenko Maritim dan Investasi (Marves) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bahu-membahu untuk merealisasikan target tersebut.

Salah satunya dengan mengubah tambak udang tradisional menjadi semi intensif. Hal itu seperti yang dilakukan pemerintah di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah (Sulteng). Tambak udang dengan model tradisional dirubah menjadi model teknologi yang lebih maju (semi intensif).

Hal itu juga sejalan dengan dipilihnya Kabupaten Buol sebagai salah satu lokasi percontohan pemgembangan klaster industri udang.

“Kabupaten Buol ini sebagai salah satu lokasi percontohan klaster/revitalisasi tambak udang yang semula tradisional kita upgrade teknologi produksinya sekaligus dilakukan penataan kawasan budidaya udang yang berkelanjutan. Dengan meningkatkan produksi, akan  menambah penghasilan bagi para petambak di sini, dan berkontribusi bagi pengembangan ekonomi daerah,” kata Asisten Deputi (Asdep) Pengembangan Perikanan Budidaya Kemenko Marves M. Rahmat Mulianda usai melaksanakan rapat koordinasi teknis dan kunjungan ke beberapa lokasi tambak udang di Kabupaten Buol, Sulteng, Kamis (24/9/2020).

Rahmat menjelaskan budidaya udang di Kabupaten Buol saat ini masih sangat tradisional, yang mana masih mengandalkan pasang surut dan tidak ada sentuhan teknologi sama sekali. Sehingga ini tantangan besar bagaimana mereka mulai mengadopsi cara bertambak yang lebih baik memenuhi skala ekonomi dan juga untuk penataan kawasan yang lebih teratur dan berkelanjutan.

“Udang ini merupakan komoditas andalan perikanan, yang menjadi produk utama eksport Indonesia ke dunia. Sehingga bagaimana kita bisa tetap mempertahankan posisi itu dengan cara berproduksi udang yang sustainable yang menggunakan teknologi lebih maju. Potensi kita sangat banyak, banyak lahan yang bisa kita dayagunakan secara benar dan manfaatkan secara optimal sesuai dengan kaedah yang ada. Kita optimisasi produksi untuk mengejar target produksi udang nasional,” ungkapnya.

Sementara dipilihnya Kabupaten Buol sebagai lokasi percontohan, Rahmat memaparkan bahwa adanya kesesuaian dengan peruntukan dalam RTRW dan RZWP3K, komitmen daerah yang tinggi, serta peluang pengembangan yang terbuka.

“Apalagi didukung pemda yang sangat kondusif untuk mengembangkan pertambakan di sini sebagai salah satu prioritas daerahnya. Kabupaten Buol ini sudah mengidentifikasi persoalan pertumbuhan daerahnya akan didukung oleh sektor agrikultur dan akuakultur. Nah akuakultur ini salah satunya pertambakan. Jadi mereka memprioritaskan pertambakan sebagai prioritas daerahnya, kita dari pusat dukung ini,” jelasnya.

Diketahui selain Kabupaten Buol, ada beberapa lokasi yang ditetapkan menjadi lokasi percontohan klaster industri budidaya udang nasional, yakni Aceh Timur, Sukamara, Lampung Selatan dan  Sulawesi Selatan. Rencana lokasi tersebut akan diresmikan pada Desember mendatang.

Program ini akan melibatkan banyak K/L secara horizontal diantararanya KKP, PUPR , ATR/BPN, ESDM, Kemendagri, BKPM dan lainnya, serta secara vertikal Pemda Kab Kota dan Provinsi.

“Untuk itu dalam hal ini Kemenko Marves selaku yang mengawal jalanannya ini meminta agar kementerian terkait khususnya KKP bisa mengejar targetnya nasional produksi udang, sehingga nanti jadi program bersama yang kita kawal sejak perencanaan dan pelaksanaannya nanti di lapangan,” pungkas Rahmat. (Tyo)