Restorasi Karang dan Mangrove Upaya Penting Atasi Perubahan Iklim

0
196

Jakarta (Samudranesia)-Perubahan iklim masih menjadi ancaman serius bagi Bumi dan laut. Sebanyak 93 persen panas dari efek perubahan iklim bahkan terserap oleh laut yang akhirnya berdampak sangat besar terhadap perubahan pesisir dan ekosistem laut.

Prof. Jamaluddin Jompa, Dekan Program Pascasarjana Universitas Hasanuddin dan Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan, pada pada Talk Show Pekan Diplomasi Iklim “Perubahan Iklim pada Laut Kita”, Selasa (27/10), mengatakan suhu permukaan Bumi yang terus meningkat ini akan menganggu pertumbuhan dan juga keberlangsungan terumbu karang, perubahan tingkah laku hewan juga biodiversity di dalamnya dan berdampak pada pulau-pulau kecil sebagai akibat naiknya permukaan laut.

Menurut Dr. Safri Burhanuddin, Deputi Bidang Sumber Daya Alam Maritim, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, salah satu upaya pemerintah dalam mengatasai dampak buruk perubahan iklim ini adalah dengan melakukan restorasi terumbu karang dan mangrove. “Program restorasi mangrove dapat memperbaiki lahan seluas 600 ribu ha hingga tahun 2024, sementara untuk terumbu karang kita akan melakukan restorasi seluas 200 ha” katanya.

Sebelumnya Kemenko Kemaritiman dan Investasi bersama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan serta serta Pemerintah Provinsi Bali telah meluncurkan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) Padat Karya melalui TamanTerumbu Karang Indonesia (ICRG) pada Hari Rabu (07-10-2020).

Baca Juga: Pemulihan Ekonomi melalui Rehabilitasi Mangrove

PEN Terumbu Karang merupakan upaya pemerintah untuk memulihkan wisata bahari dan ekosistem laut di Provinsi Bali. “Dengan luasan area restorasi terumbu karang seluas 50 Hektar yang kita sasar adalah stakeholder yang terdampak akibat Covid-19 di sektor kelautan dan pariwisata bahari dengan melibatkan universitas, masyarakat serta generasi muda yang berada di sekitar wilayah restorasi,” jelas Safri.

Metode yang digunakan dalam program restorasi terumbu karang ini, kata Safri,  berdasarkan usulan dari ahli dan praktisi beberapa diantaranya adalah MARRS (Mars Assisted Reef Restoration System). “Metode yang dipakai antara lain metode Biorock, metode Balok Beton, metode Fishdome, metode Bioreeftek, dan Metode Media Tanam Berupa Meja Karang,” jelasnya.

Sementara terkait dengan rehabilitasi mangrove, upaya edukasi kepada masyarakat pesisir tetap gencar dilakukan mengingat komunitas ini paling terdampak pada akibat kerusakan mangrove juga paling sering menjadi faktor penyebab kerusakan mangrove itu sendiri. Salah satu yang mempercepat kerusakan mangrove adalah karena alih fungsi lahan.

Nurul Ikhsan, Direktur Eksekutif Yayasan Wahana Mangrove Indonesia mengatakan,  “Kami selalu mengedukasi bagaimana memperkuat mangrove, membuat pusat penyemaian bibit dan membudidayakan masyarakat pesisir di luar budidaya mangrove misalnya masyarakat membuat kerajinan dari mangrove,” katanya.     

Upaya senada juga dilakukan Sea Soldier Foundation yang disampaikan Chief Operations Officernya Dinni Septianingrum, “Hal yang paling penting dilakukan menahan laju dampak perubahan iklim adalah dengan mengubah cara pandang masyarakat. Kita tidak hanya memberikan kontribusi tetapi juga harus punya inisiatif. Seperti halnya kehadiran Sea Soldier  yang merupakan komitmen diri dan aksi nyata dalam menyebar virus ramah lingkungan dengan memanfaatkan jejaring media sosial. “Kita ingin mengajak masyarakat untuk berkomitmen menjaga lingkungan bersama,” tutupnya.

Uni Eropa untuk Indonesia menggandeng berbagai stake holder yang berperan aktif dalam mengatasi perubahan iklim mengadakan Pekan Diplomasi Iklim 2020 pada 24 Oktober-6 November 2020.

Menurut Henriette Faergemann, Konsuler Lingkungan Hidup, Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, laut dan eksositem pesisir menjadi isu penting karena peningkatan emisi gas rumahkaca telah menyebabkan laut serta ekosistem di dalamnya mengalami perubahan serius.

“Uni Eropa sebagai salah satu mitra strategis pemerintah Indonesia, ikut berusaha mengatasi permasalahan tersebut yakni menjaga agar dampak perubahan iklim tidak membawa kerusakan yang lebih parah. Dalam beberapa tahun ini, efek perubahan iklim berdampak pada peningkatan emisi karbon dan berpengaruh kepada lautan yang menyerap panas,” ujarnya pada Talk Show Pekan Diplomasi Iklim “Perubahan Iklim pada Laut Kita”, Selasa (27/10).