Punya DNA Pelaut, Ade Supandi Sebut Orang Sunda Melekat dengan Kemaritiman

0
591
Laksamana TNI (Purn) Dr Ade Supandi SE, MAP.

Jakarta (Samudranesia) – Suku bangsa Sunda atau mayarakat yang hidup di tatar Pasundan, Provinsi Jawa Barat dan Banten didorong untuk mencintai kemaritiman sebagai perwujudan membangun jati diri bangsa Indonesia dalam cita-citanya menuju negara maritim.

Hal itu disampaikan oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) periode 2015-2018 Lakasamana TNI (Purn) Dr Ade Supandi saat menjadi narasumber dalam acara webinar bertajuk “Sawalamaya Pra Kongres Sunda Revitalisasi Pelaksanaan Tujuan Bernegara Mendorong Masyarakat Sunda Menatap Jauh ke Depan Dalam menghadapi Perang Modern” yang diselenggarakan oleh Kongres Sunda, Kamis (16/7).

“Orang Sunda jangan under estimate dengan kemaritiman. Dulu waktu saya mengisi di ITB saya ditanya Bapak kok bisa jadi Kasal? Orang Sunda sebenarnya sangat melekat dengan kemaritiman,” ujar Ade.

Baik yang berada di pegunungan maupun pesisir, Ade menyebut orang Sunda memiliki DNA pelaut yang kental. Hal itu terbukti dengan adanya miniatur kapal yang dibuat oleh orang Cililin (Kabupaten Bandung) yang ditaruh sebagai koleksi di museum Mugaba miliknya di Banuraja, Cimahi.

Ade mendengar bahwa kemampuan membuat kapal dari orang-orang Sunda sudah didapatnya secara turun temurun. Hal itu juga sesuai dengan cerita Sangkuriang yang dikisahkan telah menendang kapal (perahu) yang dibikinnya sehingga menjadi Gunung Tangkuban Perahu.

Baca Juga:

Dalam kesempatan itu, Ketua Persatuan Purnawirawan TNI AL ini menyatakan bahwa orang-orang Sunda seperti Ir Djuanda Kertawidjaja, RE Martadinata dan Mochtar Kusumaatmadja merupakan tokoh-tokoh yang memberikan gagasan besar terhadap pembangunan maritim di Indonesia.

“Perjuangan PM Djuanda kalau dulu kapal-kapal Belanda hilir mudik di kantong perairan kita maka sangat merugikan. Akhirnya ditutup kantong perairan tadi yang batas dengan daratan tadinya 3 mil menjadi 12 mil. Perjuangan kemudian berlanjut sampai ke rezim negara kepulauan,” jelasnya.

“Apa yang diperjuangkan oleh Pak Djuanda dan Pak Mochtar itu kegigihan orang Sunda. Jadi kalau ada istilah Ngajurung Urang Sunda ka Jauhna atau outward looking ini nonsen kalau tidak melihat laut sebagai sarananya,” tegas Ade.

Kendati demikian, ia menyebut tidak ada kata terlambat untuk orang Sunda mempelajari maritim sehingga menjadi karakter yang melekat dalam jiwanya.

“Cita-cita saya dulu bagaimana orang Sunda bisa jadi Kasal. Setelah Pak Martadinata, butuh waktu 50 tahun untuk orang Sunda bisa menjadi Kasal,” pungkasnya.

Di masa pensiunnya, selain aktif di PPAL, kehidupan Ade juga tidak bisa jauh dari dunia maritim. Di dekat rumah orang tuanya, di Waduk Saguling, ia mengembangkan restoran apung untuk mendorong kawasan itu menjadi tempat wisata unggulan. (Tyo)