Pulihkan Ekonomi Lewat Tanam Mangrove

1
164
Penanaman mangrove di Brebes.

Brebes (Samudranesia) – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut B. Pandjaitan, melaksanakan penanaman mangrove sebagai bagian dari program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada Kamis (22/10/2020).

“Kami di sini untuk melakukan penanaman dan tadi kami di perahu juga sudah bincang-bincang, sebelumnya juga sudah sepakat mencoba mendorong yang 600 ribu Ha ini sampai 4 tahun ke depan bisa selesai, nanti progressnya kami laporkan ke Presiden,” terang Menko Luhut seusai melakukan penanaman mangrove bersama Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya, dan Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), Edhy Prabowo.

Menko Luhut juga mengutarakan hal yang sama kepada awak media. Menurutnya jika luas penanaman dapat mencapai 600 ribu Ha dalam 4 tahun ke depan, maka akan meningkatkan kepercayaan dunia. Dirinya juga menambahkan bahwa World Bank sangat mendukung adanya program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) melalui pemulihan mangrove. Menko Luhut mengungkapkan keberhasilan program ini adalah buah kerja Menteri LHK dan Menteri KKP.

“Program ini akan menunjukan kepada dunia bahwa KLHK kita, KKP kita sangat peduli dengan lingkungan, jadi mereka (dunia) gak usah ngajarin kita soal lingkungan,” tegas Menko Luhut.

Menurut Menko Luhut, dibutuhkan konsistensi untuk menyukseskan program PEN mangrove ini. Dirinya menambahkan jika nantinya mangrove tumbuh, akan menjadi ekosistem ikan dan kepiting, pemeliharaannya pun akan membuka lapangan pekerjaan baru.

“Luas mangrove kita yang 3,31 juta Ha ini, merupakan 30 persen mangrove dunia, atau 42 persen mangrove di Asia ini, Indonesia itu yang paling besar. Di sini Bupati Brebes punya 140 Ha, bisa dibayangkan potensi di Brebes punya 140 ribu Ha, bisa dibayangkan potensi di Brebes ini,” tutur Menko Luhut.

“Deputi saya, Bu Nani, akan ke Abu Dhabi dan saya minta juga lobi di Eropa untuk bantu investasi. Karena investasinya sangat besar. Kalo 600rb Ha kira-kira hampir Rp16T, dengan angka yang besar dampaknya juga akan besar, makanya kita jangan kerja tanggung-tanggung,” jelas Menko Luhut.

Menko Luhut kemudian menceritakan kekagetan Abu Dhabi yang hanya memiliki satu spesies mangrove terhadap Indonesia yang memiliki 126 spesies mangrove.

Terkait dengan penanaman mangrove, dari hasil Rapat Koordinasi Pengelolaan Ekosistem Mangrove yang dilaksanakan pada awal Otober lalu, telah disepakati usulan program PEN tahun 2021 dari KLHK dalam bentuk kegiatan penanaman mangrove seluas 46.758 Ha di 34 provinsi dan KKP seluas 1.522,91 Ha.

Pada rapat koordinasi tersebut dijelaskan pula alasan pemilihan Kabupaten Brebes sebagai lokasi penanaman telah mempertimbangkan faktor pasang surut air laut, fasilitas pengelolaan, serta faktor teknis terkait lainnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan pada rapat koordinasi pengelolaan ekosistem mangrove tersebut, diketahui bahwa lokasi Pulau Cemara telah menjadi fokus penanaman mangrove. Di antaranya penanaman oleh Organisasi Aksi Solidaritas Era Kabinet Indonesia Maju (OASE KIM) pada tahun 2019, dan penanaman oleh KKP pada September 2020.

“Karena itu saya mohon agar bapak/ibu dukung program mangrove ini. Mari kita kompak, mari kita saling mendukung untuk membuat Indonesia lebih bagus lagi ke depan,” harap Menko Luhut.

Penanaman bibit mangrove sejumlah 112.500 bibit juga dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (Ditjen PRL) dalam rangka akselerasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Kalimantan Barat (Kalbar).

Dua lokasi yang menjadi tempat penanaman bibit mangrove adalah Kabupaten Mempawah dan Kota Singkawang. Bibit mangrove yang ditanam di Kabupaten Mempawah pada akhir September lalu sebanyak 87.500 bibit dengan luas area 35 hektare, sedangkan bibit mangrove yang ditanam di Kota Singkawang pada Senin (12/10) berjumlah 25.000 bibit mangrove di luas area 10 hektare.

Plt. Dirjen PRL, Tb. Haeru Rahayu menjelaskan kegiatan penanaman mangrove merupakan salah satu stimulus ekonomi yang diberikan kepada masyarakat pesisir yang terdampak pandemi melalui program PEN dalam bentuk padat karya.

“Untuk memulihkan ekonomi nasional, KKP menggulirkan program PEN pengelolaan ruang laut dalam bentuk padat karya rehabilitasi kawasan mangrove, restorasi terumbu karang, dan pengembangan usaha garam rakyat (PUGaR),” jelas Plt Dirjen yang akrab dipanggil Tebe di Jakarta.

Tebe menambahkan, Program PEN Padat Karya Rehabilitasi Kawasan Mangrove akan dilakukan di 12 lokasi di Provinsi Aceh, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat. Program ini menargetkan penanaman mangrove seluas 105 hektare.

“Selain untuk pemulihan ekonomi, program ini juga untuk mengembalikan luasan ekosistem mangrove yang hilang dan merehabilitasi ekosistem pesisir yang rusak,” ujarnya.

Penanaman mangrove di wilayah Kalbar didampingi oleh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen PRL Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak melibatkan Kelompok Masyarakat Perkumpulan Peduli Mangrove Surya Perdana Mandiri Kota Singkawang dan Kelompok Masyarakat Karya Semula Kabupaten Mempawah.

Kepala BPSPL Pontianak, Getreda M. Hehanussa menyampaikan jenis bibit mangrove yang ditanam di Kabupaten Mempawah adalah jenis Rhizophora spp. dan Avicennia spp., sedangkan untuk Kota Singkawang, mangrove yang ditanam jenis Rhizophora spp.

“Setelah menempuh proses identifikasi lokasi selanjutnya tim melakukan analisis dan koordinasi secara intensif dengan Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil hingga penanaman mangrove bisa terlaksana,” tutur Getreda

Getreda menekankan agar kegiatan penanaman ini dilakukan dengan serius dan gigih oleh kelompok masyarakat. Sementara dinas dan instansi terkait diharapkan bisa melakukan pendampingan dan pengawasan selama proses penanaman mangrove berlangsung.

Sementara itu, Walikota Singkawang Tjhai Chui Mie berkomitmen akan membangun gapura di lokasi wisata mangrove melalui APBD Pemerintah Kota Singkawang. Ia juga meminta agar Perkumpulan Peduli Mangrove Surya Perdana Mandiri dapat memberikan semangat bagi kelompok lainnya. (Tyo)