Produksi Pakan Ikan Masih Terkendala Bahan Baku

0
172
Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo saat melepas bantuan pakan 'ikan di Maluku, 20 Oktober 2020 (Dok. Humas KKP).

Jakarta (Samudranesia)-Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah menyerahkan bantuan 24 ton pakan ikan mandiri untuk pembudidaya di Halmahera Utara dan Halmahera Timur. Pakan mandiri ini hasil produksi Balai Perikanan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Tatelu, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara.

Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo yang melepas langsung pengiriman bantuan 24 ton pakan ikan mandiri dari Tatelu menuju dua kabupaten di Maluku Utara tersebut. Pakan diangkut menggunakan dua truk dengan jarak tempuh diperkirakan lebih dari 600 kilometer.

“Ini salah satu jalan untuk membantu masyarakat pembudidaya dalam memperoleh pakan,” ujar Menteri Edhy di lokasi, Selasa (20/10/2020). Bantuan ini merupakan tahap awal dari 122 ton pakan mandiri yang akan didistribusikan ke 10 Propinsi di wilayah kerja BPBAT Tatelu.

Menteri Edhy berharap dengan adanya bantuan pakan, produktivitas pembudidaya di wilayah timur Indonesia ikut meningkat. Pihaknya juga sedang mengupayakan bantuan mesin pakan supaya biaya produksi budidaya bisa lebih ditekan. “Kalau ini didorong terus dari hulu sampai hilir ini akan jadi kekuatan ekonomi baru di sektor air tawar,” terangnya.

Masalah Bahan Baku

Soal efisiensi dan keberlanjutan akibat semakin terbatasnya pasokan bahan baku tepung ikan sebagai bahan baku utama protein pada pakan masih menjadi masalah di industri akuakultur Indonesia. Jika sampai tahun 2024, produksi akuakultur (ikan dan udang) Indonesia ditargetkan mencapai 10,1 juta ton, maka akan membutuhkan pasokan tepung ikan sebagai bahan baku pakan sebanyak 763,8 ribu hingga 1,2 juta ton.

“Untuk memproduksi tepung ikan ini, kita membutuhkan 4,6 sampai 6,9 juta ton ikan,” kata Rokhmin Dahuri, Ketua Masyarakat Akuakultur Indonesia dalam forum daring pakan akuakultur tingkat nasional pertama di Indonesia dengan tajuk “Indonesian Aquafeed Conference 2020: Quality, Efficiency & Credibility” melalui aplikasi pertemuan daring Zoom (13-14/10).

Angka tersebut, menurutnya, didapatkan dengan memprediksi komposisi kebutuhan tepung ikan pada pakan ikan sebesar 10 – 40 persen dan pada pakan udang sebesar 20 – 30 persen.

Sementara Kementerian Kelautan dan Perikanan menargetkan produksi akuakultur nasional akan mencapai 22,65 juta ton (termasuk rumput laut) pada 2024. Jumlah produksi tersebut akan membutuhkan pakan ikan dan udang sebanyak 12 – 13 juta ton.

“Tentunya hal ini perlu didukung oleh ketersediaan pakan, baik dari pabrikan, maupun pakan mandiri,” kata Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, KKP, Slamet Soebjakto mengutip sambutan Menteri Kelautan dan Perikanan.

Saat ini, katanya, di Indonesia sudah ada 1.506 merk pakan ikan dan udang yang terdaftar di KKP. Semua merk pakan ikan dan udang tersebut terdiri dari 1.472 merk pakan dari industri dan importir, 19 merek dari pakan mandiri, dan 15 merek dari UPT yang dimiliki oleh KKP.

Menurutnya, arah kebijakan pengelolaan pakan ikan nasional dalam Rencana Strategis KKP 2020-2024 adalah menuju ke arah pengelolaan yang mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. “Mandiri, artinya secara bertahap kita harus mulai mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku pakan impor,” jelas Slamet.

Ahli nutrisi dari Guelph Universty, Prof. Dominique P. Bureau menyebutkan sedikitnya ada empat tantangan yang harus dihadapi oleh industri pakan akuakultur. Antara lain bagaimana memahami spesifikasi nutrisi yang dibutuhkan oleh hewan budidaya, mencocokkan karateristik bahan baku dengan spesifikasi tersebut, membuat pakan yang bagus, dan memverifikasi pakannya melalui riset dan survey di lapangan. Untuk menjawab tantangan itu, Dominique menekankan kepada industri pakan akuakultur untuk memiliki pusat riset dan pengembangan (R&D) yang memadai. “Memiliki fasilitas R&D itu sangat bernilai,” ujarnya.

Sementara menurut ahli nutrisi dari IPB University Prof. M. Agus Suprayudi, pakan ikan yang bagus harus memenuhi empat kriteria. Keempat kriteria itu antara lain bagus untuk ikan, bagus untuk lingkungan, bagus dari aspek keamanan pangan, dan bagus dari aspek bisnis yang bisa menguntungkan industri pakan, agen pakan, dan pembudidaya. “Di sini lah tantangan yang real bagi kita sekarang. Teknologi nutrisi dan pakan hanya bagian kecil. Yang terpenting bagian mana pakan yang bagus itu menguntungkan untuk semua,” jelas Agus.